Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Berkunjung Pertama Kali


__ADS_3

Semarang,


Sekar


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dari Jakarta, akhirnya mereka berdua telah mendarat di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah.


Kepulangannya kali ini ke kampung halamannya terasa berbeda, karena ada sesosok pria tampan yang menemaninya.


Seorang laki-laki berpakaian batik menghampiri mereka berdua.


"Selamat siang, saya sopir Bapak Hadiwangsa. Mau memberikan kunci mobil ini pak, mobil yang mau bapak pakai di sini."


Ia mengerutkan keningnya, bingung dengan orang itu.


"Bapak Hadiwangsa? Bukannya itu nama salah satu pengusaha ternama di Semarang?" tanyanya dalam hati.


"Oh terimakasih pak. Maaf sebelumnya, saya boleh tahu mobilnya yang mana?" tanya Harsa ke lelaki berbaju batik itu.


"Baik pak boleh..boleh, saya antarkan dulu. Kopernya mana saya bawakan pak Harsa."


"Sudah pak, nggak perlu repot-repot." ucap Harsa sembari melangkah menuju ke parkiran dan di sana sudah terparkir mobil mewah berwarna silver.


Ia masih memilih diam, saat sopir itu menaikkan koper mereka ke dalam bagasi.


"Mas, ini mobil siapa?" tanyanya saat mereka sudah berada berdua di dalam mobil.


"Om aku.." jawab Harsa dengan sibuk menatap handphone mencari maps menuju ke alamat rumahnya.


"Om?!"


"Iya, Hadiwangsa itu om aku, adiknya papa yang paling bontot. Oh iya, ini pakai maps aja ya? Tapi kalau ada jalan yang lebih enak kamu tinggal bilang aja."


Harsa yang sedang memakai kaca hitam, terlihat sangat tampan. Tanpa sadar membuat bibirnya tersenyum dan tiba-tiba ia mendaratkan ciuman di pipi kekasihnya itu.


"Aku maunya nggak di sini, tapi kita lanjutin tadi yang sempat tertunda karena mama." lirikan dan senyuman maut Harsa membuatnya merona.


Apalagi membayangkan pagi yang menggelora tadi membuatnya semakin tersipu.


"Hiisshh..! Nggak ahh, nikah dulu baru boleh..!"


Harsa memundurkan mobilnya sambil tergelak,


"Nggak janji dehh kalau itu yang, deket kamu bawaannya pengin meluk terus."

__ADS_1


................


Harsa


Akhirnya mereka tiba di rumah sederhana dan sangat kecil menurutnya, dibanding dengan rumahnya yang sangat megah. Rumah ini kira-kira hanya berukuran seluas setengah dari halaman depannya.


Saat ia melangkahkan kaki memasuki bangunan yang didominasi warna putih itu, ia merasa sangat nyaman. Walaupun sederhana dan kecil, namun rumah ini terasa sangat tenang.


Sekar mengelap salah satu kursi,


"Mas duduk di sini dulu ya. Yang lain masih berdebu. Tunggu sini dulu, aku mau nyapu dulu sama bersih-bersih sebentar."


Bukannya menuruti perintah kekasihnya, ia lebih memilih berjalan mengekori Sekar, lalu menngambil alih sapu dari genggaman Sekar.


"Biar aku aja.." pintanya yang membuat Sekar tercengang.


"Jangan mas, ini bersih-bersih lho. Mas nggak biasa bersih-bersih di rumah. Udah biar aku aja."


Ia tertawa geli,


"Hei, di apartemen kan nggak ada asisten. Aku juga bersih-bersih sendiri. Nunggu asisten mama datang bisa lumutan kali apartemen."


Gerakannya memang terlihat sangat lihai untuk membersihkan rumah, terbukti Sekar masih tercengang melihat dirinya membereskan rumah.


Sekar membawa segelas air putih yang terlihat sangat menyegarkan.


"Mas, maaf cuma ada air putih. Di sini aku nggak stock apa-apa."


Dengan cepat lengannya langsung menyambar pinggang ramping Sekar yang tepat di hadapannya dan membuat kekasihnya itu duduk di pangkuannya.


"Mau air putih atau air apa aja, yang penting ada kamu udah cukup." gombalnya.


Telapak tangan Sekar langsung menangkup wajahnya,


"Gombal..! Air comberan aja gimana kalau gitu?" membuatnya mereka berdua terkekeh.


Ia mengecupi seluruh wajah Sekar dengan gemas. Apa berpacaran dengan usia 9 tahun lebih muda menjadi menggemaskan seperti ini?


"Mas...ihh..! Kamu keringetan..! Jorok dehh..!" gerutu Sekar dengan bibir manyun yang semakin membuatnya gemas.


Bibirnya semakin mengecupi wajah itu dan semakin menarik Sekar dalam dekapannya.


"Besok-besok kita juga bakal berbagi keringat kok! Jadi nggak usah sok jijik, nanti kamu kangen." bisiknya.

__ADS_1


Dengan cepat jemari Sekar langsung mengunci rapat mulutnya,


"Stop! Sekarang mandi sana! Aku mau ada acara mas, kalau nggak aku berangkat sendiri nih?!"


"Cium dulu tapi..!" godanya memanyunkan bibirnya.


"Nggak!"


"Cium..! Kalau nggak, nggak aku lepasin!"


Akhirnya Sekar menuruti permintaannya, namun bukannya hanya mengecup, bibirnya malah semakin lihai manis candu bibir Sekar itu dan berlangsung cukup lama.


Dari hanya berawal menyuruhnya mandi, Sekar malah tampak menikmati permainannya.


"Udah, katanya disuruh mandi? Malah dicium-cium, lama lagi. Kamu iihh nafsu..! Bener dehh kata mama, mending kita nikah aja.." gumamnya seakan tak berdosa bahwa dirinya lah yang memulai.


Sekar langsung menatapnya tajam sambil beranjak dari pangkuannya,


"Mandi..! Lama-lama aku semprot pakai selang di depan nih..?!"


Sekar


Selalu berada di dekat Harsa lama-lama membuat otaknya semakin tercemar. Harsa bukan hanya mampu membuatnya jatuh cinta secara cepat, tapi juga mampu membuatnya pasrah dengan setiap sentuhan melenakan dari seorang lelaki tampan itu.


Dirinya pun tak bisa berjanji bisa menjaga semuanya kalau setiap hari mereka sudah tinggal serumah, kemana pun ia pergi Harsa selalu mengekori.


Memang mungkin menikah adalah hal yang paling tepat untuk mereka berdua. Namun menikah dalam usia sangat muda baginya dan belum mencapai keberhasilan secara pribadi, apakah itu tujuan hidupnya? Sama sekali tidak.


Bibirnya kembali tersenyum saat Harsa selalu memperlakukan dirinya bak seorang putri yang harus selalu dijaga dan dicintai.


......................


Selamat Natal bagi kakak-kakak yang merayakan! Tuhan selalu memberkati kita semua tanpa kecuali.


Mohon maaf kalau lama up nya ya kak. Soalnya saya bagi dengan kerja, ngurus anak, baru menulis cerita yang semoga bisa menghibur kalian semua.


Oh iya, saya minta tolong dong, bagi yang berkenan akun instagram jualan saya @ono.perfetto


Terimaksih sebelumnya,


Salam sayang,


.chi.

__ADS_1


......................


__ADS_2