Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Sambutan Keluarga


__ADS_3

Sekar


Setelah menyambut ciuman hangat dan menggelora dari Harsa, ternyata ia akhirnya bisa tertidur pulas selama hampir dua jam. Kemudian ia beranjak mandi lalu berias diri di depan cermin.


Waktu sudah menunjukkan setengah tujuh malam, yang artinya mereka harus ke bawah untuk makan malam bersama orangtua Harsa.


Walaupun hanya makan malam di rumah, namun ini adalah perdana baginya bertemu dan mungkin akan berbincang cukup lama dengan keluarga Harsa. Jadi bagaimanapun, ia berusaha tampil rapi.


Ceklek..


Suara pintu terbuka, kepala Harsa menyembul dari balik pintu.


"Udah yang?"


Dirinya pun mengangguk dan berjalan keluar dari kamar.


"Kuat jalan turun ke bawah?" tanya Harsa sambil merengkuh bahu serta menatap wajahnya.


"Kuat mas, aku udah nggak apa-apa ini." jawabnya yakin dan tersenyum lebar.


Harsa mencibir dirinya,


"Udah dicium terus sembuh? Lain kali bilang makanya kalau mau dicium."


Sontak matanya langsung melirik tajam ke arah kekasihnya itu.


"Resiko pacaran sama lelaki dewasa ya seperti ini." gumamnya dalam hati.


Setelah menapaki tangga demi tangga, mereka berdua akhirnya sampai di ruang makan. Sudah tampak makanan berjejer di atas meja makan yang besar itu.


Ia hanya mampu menelan salivanya,


"Apa begini menu makan malam konglomerat? Semua makanan tersedia." batinnya.


Kalau sesuai dengan ilmu hematnya selama ini, mungkin lauk sebanyak ini bisa untuk makannya selama satu minggu.


Tak lama dari arah kamar bawah, terlihat mama Harsa berjalan beriringan dengan sesosok pria yang wajah dan posturnya mirip dengan Harsa, ia yakini pasti ini adalah papanya Harsa.

__ADS_1


Bibirnya tersenyum dan kepala sedikit menunduk,


"Malam ma, malam om.." sapanya sopan.


Namun ekspresi sang papa malah bingung dan mengernyitkan wajah menatapnya, membuat nyalinya sedikit menciut.


"Sejak kapan pasangan mama itu om? Kalau kamu manggil dia mama, ya berarti panggil saya papa." jelas pria berambut abu-abu itu kepadanya, tapi masih tanpa senyum.


Ia hanya tersenyum tipis dan kaku.


"Ayo coba ulangi !" titah sang papa kepadanya.


"I..iya pa. Malam ma, malam pa.." sapanya kembali dengan sangat sopan.


"Nahh, gitu dong! Itu baru calon menantu papa..!" ucap papanya Harsa sambil terkekeh, namun malah membuatnya tersedak salivanya sendiri.


Harsa menepuk-nepuk punggungnya pelan,


"Nggak usah nervous..! Santai aja lagi.." bisik Harsa pelan.


Ucapan papa Harsa membuat semuanya terkekeh, begitu pun dirinya.


Setelah menikmati makanan yang ada dan tak disangka ia cukup banyak makan. Entah memang lapar karena tiga hari ia selalu memuntahkan makanan yang masuk, atau memang masakan itu yang sangat enak.


"Ya beginilah Sekar, rumah kami. Sepi..!" papa Harsa kembali membuka obrolan malam ini.


"Semenjak adik Harsa, si Kanaya menikah, terus Harsa lebih sering di apartemen. Rumah ini jadi sepi banget, cuma tinggal mama sama papa, sama asisten rumah aja."


"Kata Harsa, kamu kuliah di Depok ya? Jadi kalian ketemunya waktu Harsa kemarin ngisi seminar di sana? Kok kamu mau sama lelaki macam dia?" ejek sang papa seraya melirik ke Harsa yang terkekeh.


"Dipaksa pa, dia kan sukanya maksa. Kalau nggak nurut malah semakin dikejar." selorohnya yang membuat semuanya tergelak.


"Persis papa dulu itu. Kalau maunya itu, ya dikejar. Dulu semakin mama melawan, malah semakin dikejar, dipaksa.." curhat mama Harsa kali ini.


"Akhirnya menyerahkan diri deh. Tapi nggak nyesel kan ma?" goda sang papa sambil mencolek lengan mama.


Sungguh hatinya bahagia melihat pemandangan keluarga yang hangat seperti ini. Hampir ia tidak pernah merasakan kehangatan keluarga yang seperti ini.

__ADS_1


Ia sudah lupa, bagaimana rasanya memiliki ayah, bagaimana seorang ibu yang memanjakannya. Karena yang ia tahu saat ini, bagaimana caranya bisa bertahan hidup sendiri, tanpa bantuan sang ayah.


Sebenarnya ayahnya adalah pengusaha sukses dalam bidang ekspor impor furniture. Namun, ia sama sekali tak berniat menerima satu rupiah pun dari sang ayah.


"Sekar, kamu tinggal di sini saja. Nanti kalau ke kampus, biar diantar sopir. Atau kamu bisa nyetir mobil sendiri?" tanya mama Harsa dengan lembut.


"Bisa ma, Sekar bisa nyetir mobil." jawabnya.


Memang ia pernah belajar menyetir mobil saat ia masih berpacaran dengan Nanda. Bagaimanapun lelaki itu pernah berjasa dalam cerita hidupnya.


"Yaudah kalau gitu, pakai mobil Harsa salah satu. Kamu pindah sini aja, jadi biar mama ada temannya." pinta mama Harsa lagi kepadanya.


Ehemm..


Harsa berdehem pelan,


"Ya tapi nggak sekarang juga sih ma. Sekar baru juga sembuh udah disuruh nyetir jauh.Sebenarnya sih kalau ke Depok, lebih dekat tinggal di apartemen aku."


Mama Harsa langsung melotot ke arah Harsa,


"Nggak ada! Nggak ada ceritanya kamu bawa Sekar tinggal di apartemen berdua! Dia masih kuliah, nggak macam-macam ya kamu!"


"Jangan mau ya Sekar, kalau diajak tinggal di apartemen berdua sama dia. Mama nggak mau dia ganggu kuliah kamu. Kalian tinggal di sini, di rumah ini. Baru boleh." titah mama Harsa seakan tak terbantahkan.


Kali ini ia hanya memilih diam dan mengangguk, entah mengangguk untuk pertanyaan yang mana.


"Mama ihh mikirnya kejauhan. Harsa jaga ma tenang. Percaya sama Harsa sih..!"


Perdebatan antara anak dan mama pun terjadi dengan sengit


"Mama nggak percaya sama kamu! Sekar harus mama jaga, kalau kamu sakitin Sekar, kamu berhadapan sama mama!"


Bibirnya tersenyum canggung, tangannya pun menggaruk tengkuknya padahal tak gatal sedikitpun.


Sedangkan sang papa memilih bersedekap tangan sambil menonton drama perdebatan mama dan anak sulung itu.


......................

__ADS_1


__ADS_2