Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Dilamar?


__ADS_3

Harsa


Entah kenapa saat ini hatinya terasa meradang saat melihat sebuah cincin berlian berada di depannya, walaupun berlian itu tidak sebesar yang ia berikan pada Sekar saat itu.


"Kalau aku kasih tahu, mas janji nggak bakal langsung emosi?"


Pertanyaan Sekar langsung membuatnya mengernyitkan wajah.


"Ya apa dulu yang kamu kasih tahu?!" salaknya yang malah membuat Sekar mengulum senyum.


"Dikasih tahu aja belum, udah ngegas." cibir kekasihnya yang sudah mengambil duduk di pangkuannya.


Sekar membelai wajahnya,


"Kamu ingat kan Nanda?" ia pun langsung mengangguk, ia tidak akan pernah melupakan nama lelaki itu sampai kapanpun.


"Siapa coba?" lagi-lagi Sekar malah menggodanya, sedangkan dirinya hanya memilih membalas dengan lirikan tajam.


"Oke..oke..kalau ingat. Nah,.." secepat kilat ia memotong ucapan Sekar.


"Udah cukup! Aku udah ngerti maksud kamu. Terus kenapa dia ngasih seperti ini? Kapan juga kamu ketemu sama dia?" selidiknya, karena selama ini setiap Sekar pulang ke Semarang selalu bersama dengan dirinya.


Sekar menundukkan pandangan, sembari bergumam.


"Dua minggu yang lalu, pas aku tidur di kos karena ada acara kampus itu, ingat nggak? Nah, paginya Nanda ke kampus nyamperin aku, kita ngobrol berdua. Ya aku kira nggak gimana-gimana, ternyata dia maksud ngasih ini, ngelamar aku."


Ia langsung mengangkat satu alisnya saat mendengarkan hal itu.


"Ini gimana konsepnya sih? Kok bisa-bisanya dia ngelamar calon istri orang? Otaknya meleset atau gimana sih?"

__ADS_1


Ucapannya malah membuat Sekar tertawa ngakak ,


"Mas iihh! Kok gitu sih ngomongnya?"


"Ya lagian bisa-bisanya dia ngelamar kamu. Terus kamu jawab apa?" jantungnya berdegup kencang saat menunggu jawaban Sekar.


"Ya aku jawab, maaf nggak bisa."


Jawaban yang cukup membuatnya lega, namuj kenapa hanya jawaban seperti itu?


"Udah gitu aja? Alasannya?" selidiknya lagi.


Bibir Sekar tersenyum, jari lentik itu membelaibalis, mata, hingga turun ke bibirnya.


"Mas, beneran cinta nggak sih sama aku?"


Pertanyaan yang cukup membuatnya tertegun, maksudnya apa ini?


Matanya menatap lekat wajah Sekar dan mengeratkan pelukan di pinggang ramping itu.


"Apa perlu kita buat anak dulu, aku buat kamu hamil dulu? Biar nggak ada yang berani dekati kamu dan kamu bisa cepat mau nikah sama aku?" penawaran aneh yang ia lontarkan malah membuat dirinya dan Sekar terkekeh.


Ia mengecup bibir ranum itu sekilas,


"Nggak usah macam-macam ya kamu. Aku rela nunggu, karena aku nggak pengin ngerusak mimpi kamu. Tapi kalau kamu macam-macam, jangan salahin aku kalau sampai ada Harsa junior di sini!" ia mengusap pelan perut Sekar.


"Besok pas pulang ke Semarang, kita kembalikan cincin itu." imbuhnya dengan menekankan kata 'kita', mana mungkin ia akan melepas Sekar sendiri untuk bertemu Nanda.


"Kita banget nih? Nggak boleh aku aja?" cibir Sekar ke arahnya.

__ADS_1


"Nggak akan, jangan mimpi..!"


"Pulang aja yuk ke rumah apa ke apartemen?" tawarnya, namun Sekar masih menggelengkan kepala.


"Yaudah kalau gitu. Kamu tidur dulu, baru aku pulang dijemput sopir mama. Mobil aku tinggal sini." jelasnya, tapi Sekar malah kembali memeluknya erat.


Bibirnya tersenyum miring menatap kekasihnya,


"Kamu itu sebenarnya maunya apa? Hmm?"


Sekar menggigit bibir bawah sambil menatapnya lekat.


"Aku kangen sama mas." bisik Sekar tepat di wajahnya, memang kemarin ia meninggalkan Sekar selama seminggu lebih untuk masalah kerjaan ke Jepang.


"Nggak jadi nih berarti pengin sendirinya?" tanyanya sambil mengulum dan disambut gelengan kepala oleh Sekar.


"Kita ke apartemen aja, di sini takut kedengaran sama yang lain." walaupun mereka tidak sampai melakukan hal itu, tapi setidaknya pasti akan ada suara yang lumayan menggema dari mereka berdua.


Dan ia sadar diri, kamar kos ini sangat bisa didengar oleh orang di luar sana. Tidak lucu baginya, jika sampai ada berita Harsa Dewananda seorang pengusaha muda bermain dengan seorang duta wisata di dalam sebuah kamar kos.


Berita yang paling mengerikan menurutnya kalau sampai itu terjadi, hingga ia sampai bergidik memikirkan hal itu.


"Tapi kita baru sampai mas." tolak Sekar kepadanya.


"Salah sendiri pakai acara ngambek, pengin sendiri. Habis itu malah mancing bilang kangen. Kamu harus tanggungjawab malam ini." gerutunya memancing tawa Sekar.


"As you wish, mas sayang. Tapi mas janji jangan macam-macam dan jangan tinggalin aku seperti laki-laki lain di luaran sana!"


"Iya sayang, semua di aku udah sepenuhnya kamu miliki. Kamu udah berhasil buat aku bertekuk lutut." gumamnya.

__ADS_1


"Gombal..!" Sekar malah meraup wajahnya dengan satu telapak tangan.


......................


__ADS_2