
Bali,
Sekar
Matanya terbuka perlahan dan sedikit menyipit saat cahaya matahari mulai menyapa kamar mereka. Ia melihat ke bagian pinggangnya, tangan Harsa memeluknya, sesuatu hal yang sangat jarang terjadi saat dirinya mulai hamil dan semakin parah setelah melahirkan. Jangankan berpelukan, tidur berdampingan pun jarang.
Jangan tanyakan alasannya, karena sudah pasti Andra. Bayi itu selalu tidur di tengah-tengah mereka setelah bangun tengah malam.
Bibirnya sempat tersenyum tipis, namun kemudian mulai kembali sendu. Setelah kejadian kemarin, ia memutuskan untuk tidak terlalu jatuh cinta dengan suaminya lagi. Dengan sangat sadar ia memilih bersikap seperti itu, karena ia tidak ingin hatinya terlalu merasakan sakit lagi.
Setelah selesai membersihkan diri dan berdandan, ia memilih ke bawah terlebih dahulu untuk sarapan dan tentunya meninggalkan suaminya yang masih tertidur pulas.
Saat memasuki resto hotel, ia melihat Adit sedang sendiri menikmati beberapa menu sarapan yang sudah diambil.
"Gabung ya.." sapanya, seketika membuat Adit menatapnya dan mengangguk.
"Harsa mana?" sahabat suaminya itu terlihat mencari-cari keberadaan Harsa.
"Masih di kamar, masih tidur. Aku udah keburu lapar." jawabnya asal sambil terkekeh.
Tangannya mengaduk cangkir berisi teh sambil sesekali mengobrol dan tertawa dengan Adit.
"Mas, aku boleh tanya nggak?" pertanyaanya membuat kedua alis Adit terangkat, kemudian mengernyit.
"Sebenarnya apa sih yang mas Harsa sembunyikan dari aku? Sampai dia bilang belum saatnya aku tahu."
Wajah tampan Adit langsung berubah kaku dan menelan saliva dengan berat. Ia tahu pasti Adit berusaha menutupi darinya.
"Please..aku mohon..!" pintanya dengan tatapan memelas.
"Mas Harsa selingkuh ya mas?" tanyanya to the point, namun wajah Adit langsung terkejut dengan mulut menganga.
"Iya kan? Bener kan?" ia langsung menundukkan pandangannya dan menahan air matanya.
"Lhoh..bukan..! Kok bisa kepikiran selingkuh sih?" ucapan Adit membuat tatapannya kembali menatap mata Adit.
__ADS_1
"Kalau bukan selingkuh terus apa? Kemarin aja ada cewek gelendotan gitu sama mas Harsa." gumamnya kembali membuat Adit tertegun menatapnya.
Adit mengusap wajah tampan itu dengan kasar kemudian menghela napas.
"Bukan selingkuh Sekar, Harsa itu nggak pernah main sama begituan. Setahu gue sih, itu anak lurus kok jalannya, walaupun cewek-cewek berusaha nempel."
Penjelasan Adit sedikit membuatnya lega namun belum sepenuhnya.
"Terus apa?" paksanya masih dengan tatapan memohon.
Adit kembali menghela napas dengan kasar,
"Harsa beneran belum cerita sama lo tentang proyek?" wajahnya mengernyit kemudian menggeleng.
"Lo beneran nggak tahu Harsa bangun rumah?" kepalanya lagi-lagi menggeleng. Beberapa pertanyaan seakan-akan berlomba-lomba untuk mencari jawaban.
Adit membuang tatapan sekilas kemudian kembali menatapnya.
"Harsa itu bikin rumah di sini buat kalian. Katanya lo udah sumpek di Jakarta. Makanya dia bikin rumah di sini dari lo masih hamil, sekarang udah 80%. Emang lama sih, soalnya detail banget mintanya sekalian buat kantor. Makanya tadi malam kita itu bahas proyek itu, mumpung ada Kairav." seketika mulutnya menganga.
"Dan buat masalah Arletta, tenang aja. Harsa nggak ada main sama dia. Kemarin dia dibawa Kairav, sekarang anak itu juga tidur sama Kairav kok. Harsa nggak pernah main begituan, walaupun cewek-cewek pada berusaha menyerahkan tubuh mereka. Tapi tenang aja, suami lo dari jaman lajang, masih terbilang aman."
Adit kembali menatap sekeliling mereka,
"Jangan bilang sama Harsa, kalau gue cerita. Lo pura-pura nggak ngerti aja, diam aja sampai dia cerita sendiri. Anaknya datang tuh !" kepalanya mengangguk cepat saat Adit memberi kode padanya.
"Sayang.." Harsa mengecup pipinya, lalu duduk di sebelahnya.
"Dit, lo urus kantor dulu ya sampai weekend. Gue pulang agak telat." ucapan suaminya langsung membuatnya menoleh ke arah Harsa yang terlihat santai dan kembali melempar senyum ke arahnya.
"Kok sampai weekend?" tanyanya malah membuat Harsa tersenyum lebar.
"Kita perpanjang di sini." kedua alisnya langsung terangkat setelah mendengar perkataan Harsa.
"Lhoh , kok gitu? Aku kan cuma cuti 3 hari mas."
__ADS_1
Harsa mengambil sepotong semangka dari piringnya kemudian memakannya.
"Bos mu udah approve kok, aku tadi udah minta ijin buat kamu."
Ia memutar bola matanya dan mendengus kesal.
Bagaimana tidak approve, kalau yang meminta ijin adalah bos utama dari perusahaan dimana ia bekerja? Apalagi yang dimintakan ijin adalah istri dari bos utama, alias juga pemilik dari perusahaan itu.
Setelah mendengar penjelasan dari Adit, perasaannya menjadi lega karena perempuan tadi malam bukanlah siapa-siapa bagi Harsa. Apalagi setelah tahu bahwa Harsa selama ini menyiapkan sesuatu baginya dan juga Andra. Namun, ia tidak mau buru-buru luluh begitu saja.
Bahkan di situasi yang berat seperti ini,
"Sayang.." Harsa mendekapnya dari belakang saat mereka kembali masuk ke dalam kamar dan hidung mancung suaminya itu menyapu tengkuk hingga lekuk bahunya. Jujur seperti ini membuatnya meremang, namun ia tidak akan semudah itu menyerahkan diri ke Harsa. Bahkan ia terkadang takut, kalau Harsa menolaknya lagi saat ia sedang ingin dimanja.
Harsa membalikkan badannya dan langsung meraup bibirnya.
"Mau sampai kapan berantem gini terus?" tanya Harsa di tengah napas mereka yang masih memburu. Mereka suami istri, seharusnya ciuman bukanlah hal baru bagi mereka. Entah mengapa, ciuman kali iniembuat hatinya berdesir dan jatungnya berdegup kencang seperti awal ia mengenal Harsa.
Harsa
Ia menatap lekat bola mata istrinya, jantungnya berdegup kencang setelah ciuman panas mereka. Jujur ia ingin sekali melanjutkan hal ini, namun ia tahan karena dirinya sadar ia harus kembali membangun suasana nyaman dengan istrinya.
"Habis ini aku mau ajak kamu ke suatu tempat, tapi setelah...." bibirnya kembali menyatu dengan bibir ranum istrinya.
Setelah berhasil membawa istrinya duduk di pangkuannya dan sedikit bercumbu ia memilih menahannya dulu.
"Mau lanjut sekarang apa nanti?" tawarnya karena ia tidak ingin memaksa istrinya yang masih marah kepadanya.
"Aku mau telepon Andra.." suara lembut Sekar yang masih dengan napas tersengal membuatnya tersenyum.
Tangannya meraih handphone miliknya yang ada di sebelahnya, lalu menyerahkannya ke Sekar.
"Iya kita telepon Andra dulu."
......................
__ADS_1