
Sekar
"Boleh cium dulu nggak sih?"
Pertanyaan kekasihnya itu membuatnya terdiam beberapa detik dengan detak jantung yang tidak beraturan.
"Nggak ! Baru sakit, masih ada virus !" jawabnya sembari beranjak paksa dari ranjang dan bibir yang mengulum senyum.
Begitu pun lelaki itu,
"Berarti kalau udah sembuh boleh ya? Wajib, nggak boleh nolak!"
Baru semalam jadi pacar aja, permintaan Harsa sudah macam-macam, selalu ada-ada saja. Minta peluk lah, cium pipi lah, cium kening lah. Sungguh ia tak bisa membayangkan kalau dirinya sudah sembuh.
Bahkan saat di rumah sakit seperti ini pun, Harsa seposesif itu dengan dirinya. Menggandeng dan menggenggam tangan tanpa melepas sedetikpun.
Sampai-sampai dari pegawai administrasi hingga perawat poli pun mengira merek adalah suami istri yang baru menikah.
"Tapi bulan ini sudah menstruasi bu? Atau terlambat mungkin?"
"Suaminya khawatir banget kelihatannya ya bu."
Begitulah kira-kira pertanyaan dari perawat, sedangkan Harsa dengan santainya menjawab,
"Masih sus, belum sempat berbuat, dia nya masih haid, terus malah lanjut sakit."
Sungguh jawaban yang memalukan baginya, hingga membuat wajahnya merah.
"Adduhh...! Kok dicubit sih?!" protes Harsa seraya mengelus paha.
Matanya melirik tajam ke lelaki itu,
"Santai amat jawabnya, berbuat apa maksudnya tadi?! Hmmm?!"
"Ya berbuat kebaikan, demi mewujudkan sebuah kebahagiaan." timpal Harsa dengan bibir yang mencibir, membuatnya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mana aku jadi dipanggil ibu, berasa udah ibu-ibu aja nih aku!" gerutunya.
Harsa terkekeh pelan,
"Calon ibu buat anak-anak kita nanti."
"Tenang, nanti aku kasih bibit-bibit unggul yang banyak." bisik Harsa di telinganya.
Seketika lirikan tajamnya kembali menuju ke kekasihnya itu,
__ADS_1
"Dasar me sum..!"
Harsa
Ia duduk menunggu dokter memeriksa Sekar.
"Parah ini mas.." ucap dokter itu sembari berjalan menuju kembali ke meja.
Dahinya langsung mengernyit,
"Maksudnya gimana dok? Sakit apa dia dok?"
"Asam lambung naik istilah medisnya GERD, tapi demamnya ini bukan karena GERD nya. Bisa karena gastritis atau peradangan di lambung, bisa juga karena ada luka di lambung, tapi bisa juga tipes. Feeling saya sih bukan tipes, tapi nanti kita lihat pas hasil lab sudah keluar ya."
Kepalanya mengangguk,
"Terus harus gimana dok kalau seperti ini? Makan minum apa yang dihindari?"
"Ya istirahat total dulu sementara waktu, jangan kena kafein sama sekali. Jangan stres. Makannya sedikit-sedikit tapi sering, jangan telat makan dan jangan makan banyak dalam satu waktu." jelas dokter itu seraya menuliskan resep.
Matanya melirik ke arah Sekar yang hanya tampak diam saja.
"Kan?! Apa kataku, istirahat! Jangan ngeyel !"
"Ini masih jam 11, berarti kita ke kost kamu dulu ambil baju sama barang-barang yang kamu butuhin. Terus kita makan siang." ucapnya yang langsung membuat mata Sekar membulat.
"Ambil baju? Emang mau kemana kita?" tanya kekasihnya itu dengan wajah bingung.
"Ke rumah..! Nggak ada tapi..! Aku ada kerjaan yang harus aku selesaikan di rumah dan nggak mungkin aku ninggalin kamu sendirian di kost." jelasnya sambil mulai melajukan mobilnya.
"Ke rumah siapa mas?"
"Ke rumah mama lah, apa mau ke apartemen? Terserah kamu pilih yang mana? Kalau ke rumah mama, pas aku tinggal kerja, kamu bisa sama mama. Tapi kalau di apartemen nggak ada siapa-siapa, paling aku bawa satu asisten dari rumah buat jagain kamu."
Sekar tampak berpikir dan terdiam sebentar,
"Harus ya mas? Aku bisa kok di kost, kan banyak teman juga."
"Nggak..! Siapa paling yang rawat kamu, sahabat kamu Bunga itu atau sahabat cewek kamu lainnya. Tapi kan mereka nggak bisa 24jam sama kamu. Teman-teman kamu cowok-cowok itu? Nggak boleh kalau itu..!" tegasnya yang membuat Sekar langsung menciut.
"Tapi aku udah nggak apa-apa mas, bentar lagi juga sembuh. Aku juga mesti harus kerja sama kuliah." pinta Sekar dengan lirih.
"Ijin sama dosen kan bisa, kalau nggak bisa biar aku yang ijinin, kalau perlu ijin sekalian sampai dekan apa rektor kamu. Tugas kuliah masih bisa dikirim email. Terus kamu nggak dengar tadi dokter bilang apa? Kamu harus istirahat total, bukan kerja. Ijin sama bos kamu, kalau dia nggak ngasih ijin, biar aku yang ijinin, Kalau dia marah, aku beli sekalian bisnisnya. Pokoknya kamu istirahat sama aku!" titahnya yang berarti mutlak tak boleh terbantahkan.
................
__ADS_1
Sekar
Saat ini kepalanya terasa pening bukan karena sakitnya, tapi karena tingkah kekasih barunya ini. Sungguh Harsa terlihat sangat dominan dalam hal-hal seperti ini.
Kalau lelaki itu sudah berkata 'harus' ya artinya sudah tidak boleh terbantahkan.
Ia memasukkan beberapa baju ke dalam tasnya, juga beberapa perlengkapan kuliahnya.
"Mas, tapi nanti kalau aku dipecat dari kerjaan gimana? Aku nggak bisa hidup dong mas.." sungguh ia masih mencoba merayu Harsa saat ini.
Kekasihnya yang daritadi sibuk dengan layar gadget, akhirnya beralih menatapnya.
"Kalau dia berani pecat kamu, aku beli coffeshop dia buat kamu." jawab kekasihnya itu dengan sangat santai.
Ia hanya mendengus pelan, sungguh pusing ternyata memiliki kekasih bernama Harsa.
Setelah selesai membereskan barang-barangnya dan juga meminta ijin kepada bos nya serta kampusnya. Akhirnya ia menurut ikut dengan Harsa yang akan membawanya ke rumah orangtua Harsa.
Sebenarnya hatinya sungguh tak menentu, ia takut keluarga Harsa tidak menerimanya seperti saat keluarga Nanda menyuruh dirinya menjauh dari Nanda secara terang-terangan.
Apalagi keluarga Harsa adalah keluarga konglomerat yang mempunyai banyak bisnis. Sangat berbeda dengan dirinya yang sudah tidak mempunyai ibu dan juga ayah yang pergi begitu saja dari kehidupannya.
Walaupun sebenarnya ayahnya pernah datang menemuinya memberinya sebagian saham dari perusahaan sang ayah, namun ia tolak mentah-mentah.
"Are you okay?" tanya Harsa seraya merengkuh telapak tangannya yang terasa begitu dingin dan gemetar.
"Kamu kenapa kok dingin gini tangannya? Menggigil lagi?" Harsa sudah kembali tampak cemas menatapnya.
Ia menggelengkan kepalanya,
"Aku takut mas.." jawabnya lirih.
"Takut apa?" kening Harsa mengernyit.
"Takut keluarga kamu nggak suka sama aku." akhirnya ia lebih memilih untuk jujur.
Bibir Harsa tersenyum,
"Nggak ada alasan untuk nggak suka sama kamu. Kamu perempuan yang berbeda dari perempuan-perempuan lain yang pernah aku bawa ke rumah. Kamu punya nilai yang pantas untuk dibanggakan, mungkin kamu nggak menyadarinya."
"Tapi aku bukan dari keluarga baik-baik seperti mas.." jelasnya lagi dengan menatap mata Harsa.
"Apa yang terjadi sama orangtua kamu itu bukan kapasitas kamu. Itu pilihan mereka, kamu adalah korbannya. Tapi kamu memilih untuk tetap berdiri sendiri dengan segala prinsipmu."
"Itu yang bikin aku cinta sama kamu.." senyum Harsa sambil menatap lekat wajahnya.
__ADS_1