
Sekar
Setelah seminggu tinggal di rumah Harsa, hari ini ia akan kembali lagi ditinggal oleh kekasihnya itu. Kali ini Harsa akan pergi ke Singapura selama 2 hari.
"Yang..." tiba-tiba suara berat itu sudah menyapa kamarnya dan keadaan dirinya yang tengah memakai underwear.
Matanya membulat,
"Mas?!" teriaknya sembari membalut tubuhnya lagi dengan handuk.
Namun, lelaki itu malah terlihat santai dan tetap masuk ke dalam kamarnya, duduk di tepi ranjang sambil menatapnya dengan intens.
"Mas..iihh..! Kok malah di sini sih?! Aku mau pakai baju dulu.." protesnya seraya menutupi bahu dan dada bagian atasnya yang masih tereksplor bebas.
"Yaudah sihh, pakai aja. Apa susahnya? Apa perlu aku bantu?" goda Harsa dengan tatapan nakal.
"Hiisshh..! Yang ada bukannya malah bantu pakai baju, tapi lepas baju..!" omelnya dengan kaki melangkah ke kamar mandi dan tangan yang membawa baju gantinya.
Namun lagi-lagi gerakan Harsa lebih cepat darinya, lengan Harsa menangkap pinggangnya dan menarik dirinya duduk di pangkuan lelaki itu.
"Udah nanti aja, gantinya. Aku mau ngomong ini dulu, nanti keburu berangkat aku." kedua lengan Harsa melingkar di pinggangnya, mengunci tubuhnya.
Apalagi kalau bukan memilih untuk pasrah,
"Apa sih mas? Mau apa?" sewotnya dengan bibir yang mengerucut tajam.
Harsa memberikan sebuah kunci mobil dalam genggamannya.
"Ini buat kamu kemana-mana kalau nggak mau diantar sopir. Nggak ada KRL! Ngerti?"
Matanya melirik logo yang ada di kunci itu, seketika membuat jantungnya berdetak kencang.
Bukan karena Harsa meminjaminya mobil, melainkan merk mobil itu.
Ia menatap Harsa,
"Mas, aku takut..."
Harsa langsung mengangkat kedua alis tebal itu,
"Takut apa?"
"Takut, ini mobil mahal. Nanti kalau lecet gimana? Aku pakai motor aja nggak apa-apa deh." pintanya dengan tatapan penuh memelas.
Harsa justru tergelak mendengar permintaannya,
"Lecet ya udah, tinggal masuk bengkel. Gitu aja kok repot."
__ADS_1
Kekasihnya kembali menatap lekat wajahnya,
"Yang penting kamu nggak lecet.." ucap Harsa lalu mengecup bibirnya tanpa permisi.
Mata lelaki itu beralih menatap pundak dan area dada atasnya yang masih terbuka,
"Sama ini juga jangan sampai lecet ya.." goda Harsa sambil mengerlingkan mata dan mengecup leher turun ke bahunya.
"Mas..! Iiihh..geli..! Udah sana berangkat, aku mau kuliah.." protesnya dengan tangan menangkup wajah Harsa dan menjauhkan dari dirinya.
"Sebentar dong, coba ingat kalau aku tinggal, kamu harus apa?" selidik Harsa seraya mengangkat dagu menatapnya tajam.
"Harus jaga diri, jaga jarak sama cowok-cowok!" jawabnya dengan kesal.
Kemudian ia mendengus pelan,
"Macam nyetir aja pakai jaga jarak.." gerutunya pelan.
Lelaki itu malah terkekeh, tanpa mengendurkan pelukan.
"Bagus! Kasih bekal dulu dong, biar aku semangat kerjanya."
"Nggak..! Kan udah dari kemarin, barusan juga udah. Mas, lepasin aku mau turun!"
"Satu kali lagi aja, nanti aku lepasin.." ucap Harsa dengan mengulum senyum.
Tapi ia sama sekali tidak bergerak menuruti permintaan kekasihnya itu.
Dengan cepat ia menempelkan bibirnya ke bibir menawan Harsa, kemudian langsung bergerak cepat melarikan diri saat pelukan Harsa terasa mengendur.
"Gitu ya kamu sama calon suami?!" teriak Harsa sambil terkekeh, saat dirinya masuk ke kamar mandi.
"Biarin..!"
..........
Lintang
"Pagi tante.." sapanya ke mama Harsa yang tengah sibuk di dapur.
"Ehh pagi.." hanya kalimat itu yang terlontar dari mama Harsa dan senyuman tipis.
Entah kenapa, mama Harsa terlihat tak ramah dengannya semenjak tahu kalau dia dan Harsa sempat memiliki hubungan spesial. Apalagi, semenjak tragedi kesalahan yang ia perbuat.
Tak lama pemilik wajah rupawan itu turun dari lantai atas, seketika membuat bibirnya tersenyum.
"Ehh, udah datang kamu?" sapa Harsa kepadanya,lalu melenggang ke ruang makan dan duduk di sana.
__ADS_1
"Kamu udah sarapan? Aku mau sarapan dulu." Dirinya pun hanya menggeleng, menjawab pertanyaan Harsa, lalu menyusul untuk ikut sarapan.
Saat ia hendak menarik kursi di samping Harsa, tiba-tiba ada suara seseorang yang membuatnya tercengang.
"Pagi ma...!"
Perempuan berparas cantik natural dengan badan semampai dan rambut lurus.
"Dia siapa?" tanyanya dalam hati dengan mata terus menatap perempuan yang masih tersenyum ramah dengan mama Harsa itu.
"Pagi sayang, sarapan dulu. Jadinya diantar Pak Ridwan kan?" bahkan mama Harsa tampak ramah dengan perempuan itu.
"Nggak ma, udah aku kasih kunci mobil. Nanti biar Sekar pakai mobil aku yang itu, soalnya yang satunya masih di apartemen." sahut Harsa sambil menikmati sarapan.
Ia yang masih terdiam berdiri semakin bingung dengan hal ini.
"Kamu jadi sarapan apa nggak?" suara Harsa membuyarkan lamunannya dan matanya saling beradu pandang dengan Sekar.
Sekar tampak tersenyum padanya, walaupun dengan raut wajah yang juga penuh tanya.
"Dia Lintang, rekan bisnis aku. Aku ke Singapura sama dia." penjelasan Harsa seketika membuat hatinya sakit, ternyata bagi Harsa dirinya sekarang adalah rekan bisnis.
Akhirnya ia duduk di sebelah kiri Harsa, sedangkan Sekar duduk berhadapan dengan Harsa.
Ia mengambil beberapa potong sandwich dan segelas susu. Sesekali matanya melirik ke arah Sekar yang tampak akrab dengan mama Harsa.
"Yang..."
Uhukk..uhukkk...
Suara Harsa memanggil perempuan bernama Sekar dengan panggilan 'yang', seketika membuatnya tersedak.
"Mbak nggak apa-apa?" tanya Sekar dengan wajah penuh kepedulian.
Dirinya menggeleng, lalu menyambar gelasnya dan meminumnya. Namun Harsa tampak tidak peduli dengan dirinya sama sekali.
"Kamu ke Semarang nya, tunggu aku pulang ya. Dan pulang ke rumah, nggak pulang ke kost! Ngerti?!" titah Harsa ke perempuan itu seakan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di otaknya saat ini.
"Iyaa bos!" sahut Sekar.
Sedetik kemudian Sekar bergumam kembali,
"Iya kan ma, kalau udah maunya itu, ya harus dituruti. Kalau nggak, marah-marah dia ma. Galak banget.."
Mama Harsa tertawa kecil,
"Namanya dia sayang sama kamu.."
__ADS_1
Ucapan mama Harsa sukses membuat hatinya tercabik dan seakan tak ada lagi kesempatan untuk mendapatkan kembali hati Harsa.
......................