
Sebulan Kemudian,
Jakarta,
Sekar
"Mama, masak apa ma?" sapanya ke mama Priska yang tengah berkutat di dapur.
"Eh sayang..udah enakan badannya? Kalau masih capek, istirahat aja. Ini mama lagi masak soto daging sapi, kesukaannya Harsa." mama Priska menatapnya, lalu kembali sibuk dengan panci berukuran cukup besar itu.
Tangannya meraih sendok sayur dari tangan mama Priska,
"Sini ma, Sekar bantuin. Sekar udah pulih kok." ucapnya sambil tersenyum.
"Mas Harsa hobi banget makan soto daging dari kecil ya ma?" hidungnya mencium aroma sedap dari kuah soto yang ada di depannya.
"Iya, dari dia masih kecil, setiap pergi kemana pun selalu minta makan soto daging. Tapi ya itu, soto kesukaan dia ya soto Solo. Dulu setiap mudik ke rumah eyangnya, dari pagi sampai malam maunya soto terus."
Cerita mama Priska membuatnya terkekeh, ia membayangkan lucunya kekasihnya itu waktu masih kecil.
"Wahh..masak apa nih mbak?" tiba-tiba suara Kanaya memenuhi dapur itu.
Memang sudah 3 hari ini Kanaya menginap di rumah mama karena suaminya ada perjalanan dinas ke luar negeri selama dua minggu.
Sejak awal Kanaya selalu memanggilnya 'mbak', walaupun usianya lebih muda dari Kanaya. Namun adik semata wayang dari kekasihnya itu selalu menganggap dirinya adalah calon istri dari kakaknya.
"Mama kok ini yang masak. Masak soto daging. Kamu suka juga?"
Perempuan berambut panjang ikal itu pun mengangguk sambil mencicipi kuah soto dari sendok.
"Enak, udah pas..!" ucap Kanaya dengan cengiran.
"Ma, kalau gitu siang ini Sekar ke kantor Mas Harsa ya? Ngantarin makanan kesukaan dia." pintanya ke mama Priska yang sedang memotong seledri.
"Boleh banget dong sayang, pasti Harsa suka."
__ADS_1
"Kamu mau ikut nggak?" tanyanya langsung ke depan wajah calon adik iparnya.
Kanaya malah tersenyum menggelengkan kepala sembari berbisik kepadanya.
"Nggak mau ganggu orang bercinta."
Ia langsung melirik malas ke arah Kanaya yang terkekeh.
"Hati-hati sama mas Harsa, dia nafsunya luar biasa." goda Kanaya sembari mencibir ke arahnya.
"Husshh..! Kamu itu..!" sela mama Priska.
"Gimana nggak coba? Udah 3 hari Kanaya di sini lho, tanda merah di tengkuk Sekar bukannya hilang, malah makin melebar. Hobi banget sih dia bikin stempel."
Seketika matanya membulat dan memegang tengkuknya.
"Udah nggak usah malu, di sini mah bebas..! Kalau sampai mas Harsa macam-macam, mama sendiri yang bakal nyeret mas Harsa." ucap Kanaya lagi dengan santainya dan diiringi senyuman mama Priska.
................
Harsa
"Apa yang sudah saya lakukan dan apa yang akan saya lakukan ke Sekar apakah penting buat bapak?" selidiknya sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya.
"Dia anak saya Harsa, bagaimanapun Sekar darah daging saya. Jadi saya minta kamu jangan macam-macam, apalagi mempermainkan Sekar." tegas Pak Wira sambil menatap tajam ke arahnya.
Bibirnya tersenyum tipis menanggapi ucapan ayah Sekar yang saat ini datang ke kantornya untuk menemuinya.
"Apakah kamu punya niatan untuk membalas dendam dengan apa yang pernah saya lakukan dengan keluarga kamu?" tatapannya pun kali ini tak kalah tajam dengan tatapan pak Wira yang seakan ingin menguliti dirinya.
"Balas dendam?" bibirnya tersenyum miring.
"Saya ataupun keluarga saya bisa melakukan apapun dengan berbagai cara. Tapi balas dendam bukanlah hal yang masuk dalam list saya." jelasnya penuh penekanan tanpa memutus kontak mata sedetik pun dengan ayah Sekar.
"Berarti kamu benar-benar mencintai putri saya?"
__ADS_1
Ia membuang pandangannya ke kaca jendela di sebelah kanannya, lalu kembali menatap ayah Sekar.
Sebelumnya ia memilih menghela napas untuk meredam emosinya,
"Maaf pak, saya bukan lelaki yang mempermainkan seorang wanita. Sekar sudah saya bawa tinggal ke rumah, itu artinya saya sudah bertanggungjawab penuh padanya." ucapnya dengan penuh keyakinan.
Ceklek..
Matanya seketika membulat saat melihat Sekar telah berdiri di pintu ruangannya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang..!" ucapnya seraya beranjak dari tempat duduknya.
Namun Sekar mengacungkan jari telunjuk ke arahnya dan menatapnya tajam, tatapan yang tidak pernah ia dapatkan selama ini dari seorang wanita apalagi Sekar.
"Duduk.." titah Sekar padanya.
"Sekar.." gantian ayah Sekar yang ingin menghampiri kekasihnya dan Sekar pun melakukan hal yang sama.
Sekar menutup pintu ruangannya dengan sedikit keras, lalu menaruh tas kain yang entah berisi apa di atas meja tamu, kemudian berjalan ke arahnya.
Kelasihnya itu mengambil duduk di sebelah Pak Wira, menatap mereka secara bergantian dengan napas yang naik turun.
"Apa yang selama ini tidak aku ketahui?" pertanyaan yang penuh dengan penekanan seakan meminta sebuah kejelasan.
"Yang..tenang dulu..ak.." ucapannya tersenyum saat mendengar kembali emosi Sekar.
"Ceritakan sekarang juga! Apa yang nggak aku ketahui selama ini?! Apa yang pernah ayahku lakukan dengan keluargamu?"
Ia hanya mampu memejamkan matanya sejenak, menghirup napasnya dalam-dalam terlebih dahulu, kemudian menatap Pak Wira.
"Itu bukan kapasitasku untuk menceritakan semuanya." ucapnya tenang.
Sekar mengerutkan kening menatapnya, menggelengkan kepala sambil tertawa sumbang.
"Kalau itu bukan kapasitasmu, lalu apa kapasitasmu? Dan kalau ayahku pun juga nggak menceritakan semuanya, apa kamu tetap diam saja? Membiarkan aku nggak ngerti apa-apa?"
__ADS_1
Jujur, bukan maksudnya ia tidak ingin menjelaskan, namun ia menunggu penjelasan itu keluar dari mulut ayah Sekar sendiri.
......................