
Jakarta,
Sekar
Sore ini suasana hatinya sangat berbunga-bunga, ia telah memarkirkan mobil berwarna hitam itu dengan sangat manis di parkiran bandara.
Kakinya melangkah menuju ruang tunggu penjemputan. Cukup ramai suasana sore itu, sehingga ia lebih memilih berdiri dan bersandar pada salah satu pilar, sambil sibuk memainkan handphone nya.
"Sibuk banget mbak sama handphone nya, chat sama siapa mbak? Pacarnya?"
Suara lelaki yang tak asing menyapa gendang telinganya dan membuatnya langsung menoleh, pasalnya lelaki itu telah melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Mas, ngagetin aja sih..!" gerutunya, namun tangannya langsung refleks memeluk lelaki tegap di hadapannya, siapa lagi kalau bukan kekasihnya.
"Kangen.." gumamnya manja dengan sedikit mendongak menatap wajah tampan Harsa yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
Harsa malah mencibirnya,
"Yang benar? Terus mau ngapain dong kita?"
"Makan!" jawabnya lantang tanpa basa-basi.
"Hubungannya kangen sama makan itu apa?"
Ia hanya memberikan cengirannya,
"Aku lapar mas, nahan kangen bikin lapar." kilahnya,memang daritadi siang ia belum makan.
Bukan karena ia tidak punya uang, walaupun ia sekarang tidak bekerja, tapi Harsa telah memberinya kartu ATM, selama ia belum diperbolehkan kekasihnya itu untuk bekerja lagi.
"Kebiasaan deh kamu! Nanti kalau sakit lagi gimana?" jiwa Harsa yang protektif langsung muncul.
"Kita makan di sekitar sini, baru keluar bandara. Soalnya pasti macet banget kalau tol jam segini."
"Iya mas, udah dong jangan marah-marah, senyum dulu!" pintanya dengan menampilkan senyuman manisnya.
Mereka memilih salah satu makanan cepat saji di bandara itu.
"Bukannya tadi mas sama mbak Lintang?" tanyanya penasaran karena ia tidak melihat sosok Lintang daritadi.
Harsa menganggukkan kepala,
__ADS_1
"Tadi dia pulang naik taksi.."
"Mama jadi ke Bandung?" tanya Harsa yang duduk di sebelahnya dengan jari yang sibuk memilin-milin rambutnya.
Ia yang masih menikmati makanannya hanya mampu menganggukkan kepala, tanpa menatap Harsa.
"Kita malam ini ke apartemen aja ya, kangen.."
Bisikan Harsa di telinganya langsung membuat detak jantungnya bedegup cepat dan tubuhnya meremang.
"Nggak macam-macam lho mas. Aku bilangin mama lho!" tegasnya seraya menatap tajam kekasihnya itu.
Harsa tampak terkekeh kemudian tersenyum penuh arti,
"Nggak sayang, aku ngerti batas kok."
"Pengen cuma cium sama peluk sepuasnya dan berduaan aja.." imbuh Harsa lagi.
Harsa
Setelah menaklukan padatnya Jakarta, akhirnya mereka sampai juga di apartemen. Tangannya mendorong kopernya masuk, Sekar berjalan di depannya.
"Aku mau minum, haus aku.." gumam Sekar sambil berjalan ke arah dapur yang berwarna serba putih itu.
Tangannya memeluk pinggang ramping itu dari belakang.
"Aku kangen banget sama kamu." bisiknya sembari menyapukan napas hangat di kulit mulus Sekar.
Sekar tersenyum tipis, menoleh ke belakang dan mengecup bibirnya sekilas.
"Mandi dulu sana, habis pergi jauh lho mas.."
"Mandiin dong..mandi bareng yukk.." ucapnya sambil mengerlingkan mata.
Sungguh ia paling suka menjahili Sekar saat ini, melihat perempuan itu merona, malu, ataupun menggerutu selalu membuatnya gemas.
Kekasih ya itu sudah membulatkan matanya,
"Nggak! Mas nggak macam-macam deh ya..!"
Ia berakting menekuk wajahnya,
__ADS_1
"Kok macam-macam? Kan cuma mandi bareng." jawabnya santai seakan tak berdosa.
Sekar membalikkan badan, menatap wajahnya sambil mengangkat satu alis.
"Mas sehat kan?" tanya Sekar seraya menempelkan punggung tangan ke dahinya.
Dengan sekuat hati ia menahan tawa. Kalau bukan Sekar yang ada di hadapannya sekarang, pasti suasana akan berubah menjadi panas penuh gairah, contohnya seperti wanita-wanitanya dulu pasti akan dengan senang hati menerima ajakannya kali ini.
Kepalanya menggeleng,
"Nggak sehat, makanya minta dimandiin." ia memasang wajah memelas.
"Habis dimandiin, terus disuapin juga? Mau nen juga sambil dipuk-puk?" ocehan Sekar sukses membuatnya tergelak.
Ia langsung mendekap erat tubuh ramping itu dan menggendong Sekar bak koala untuk masuk ke dalam kamar tanpa mendengar teriakan Sekar.
"Mas..mas..turunin nggak?! Turun aku bilang..!"
"Nggak..!" jawabnya singkat dan santai dan tetap berjalan menuju ranjang.
Ia merebahkan tubuh Sekar di atas ranjang miliknya, lalu mengungkung kekasihnya itu.
Lagi-lagi tanpa permisi ia menyerang bibir ranum Sekar yang seakan selalu menggodanya. Awalnya ia hanya berniat menjahili kekasihnya itu, tapi semakin lama penyatuan wajah mereka semakin memanas.
Bahkan tangan Sekar sampai menarik rahangnya dan menekan tengkuknya. Ia melepas ciuman itu sejenak dan menatap wajah Sekar yang sudah merona dengan napas tersengal.
"Kamu harus tanggungjawab kali ini, kamu mulai nakal." desisnya ke telinga Sekar dan tubuh Sekar langsung menggeliat.
Bibirnya mulai menelusuri telinga hingga leher jenjang Sekar.
"Mas..jangan dulu ya. Aku masih belum siap." desis Sekar dengan mata terpejam.
"Hmm..iya, aku tau batas." gumamnya tanpa melepas sedetik pun bibirnya mengabsen kulit mulus dan wangi manis Sekar.
Sekar
Ia sudah mulai tumbuh menuju ke perempuan dewasa. Sekeras apapun ia menahannya, ia juga terhanyut juga dengan permainan Harsa.
Tapi bagaimanapun ia tetap harus menjaga hal itu hingga waktunya tiba, benar-benar siap dan yakin. Satu per satu bajunya ataupun baju Harsa mulai terlepas. Kekasihnya itu memang terlihat sangat lihai menguasai permainan malam ini. Namun ia yakin, ia percaya Harsa mampu menjaga batas itu.
"Cantik..." puji Harsa menatap lekat setiap lekuk tubuhnya.
__ADS_1
"I love you.." bisik Harsa lagi yang hanya ia balas dengan senyuman tipis.
......................