Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Permohonan


__ADS_3

Bali,


Harsa


Saat ini ia hanya mampu berlutut di depan istrinya, berusaha dengan berbagai cara agar Sekar memaafkannya. Tatapannya sedikit mendongak menatap wajah istrinya yang penuh air mata dan membuang muka darinya.


"Maafin aku yang.." entah sudah berapa kali ia mengucapkan hal itu. Mau seribu kali ia harus mengucapkan kata maaf pun ia bersedia.


"Bukannya aku nggak mau nyentuh kamu. Tapi nggak tahu kenapa, setelah kamu hamil aku kasihan sama kamu. Dan ternyata itu terbawa setelah kamu melahirkan. Aku kasihan setiap lihat kamu ngurusin Andra, apalagi setelah kamu kerja."


Ia berusaha menjelaskan yang sebenarnya ia alami, tanpa ada yang ditutupi sedikit pun. Namun Sekar masih enggan untuk menatapnya.


"Aku nggak pernah ada main sama cewek lain. Oke aku salah, kalau aku nggak tegas sama mereka yang sering manja ke aku. Tapi sumpah, aku nggak pernah ada ketertarikan apapun sama mereka." jelasnya lagi sembari merengkuh tangan istrinya.


"Bukan nggak pernah ada ketertarikan, tapi belum!" salak Sekar dengan nada yang sangat sinis dan lagi-lagi tanpa menatapnya.


Saat ini ia hanya mampu menghela napas dan berusaha tetap mengambil hati istrinya kembali.


"Please, jangan ke Surabaya. Aku minta maaf." pintanya sekali lagi dengan tatapan memohon. Namun istrinya masih enggan menatapnya, bahkan hanya sekedar melirik pun tidak.


Ini pertama kalinya ia berlutut meminta maaf di depan seorang wanita dan ini terjadi hanya kepada Sekar.


"Oke, aku tetap di sini." Jawaban istrinya membuat bibirnya tersenyum saat itu juga. Namun kebahagiaannya tiba-tiba sirna saat Sekar beranjak berdiri dan mengambil sling bag berwarna hitam itu dan memakainya, tanpa menghiraukan sedikit pun dirinya yang masih berlutut.


Wajahnya langsung mengernyit,


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau keluar sama teman-temanku, mau cari makan. Mas tidur dulu aja, aku pulang malam." ucap istrinya tanpa menatapnya dan menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Sekar


Suasana malam di Legian, Bali sudah semakin ramai. Wajahnya masih terlihat tersenyum saat berkumpul bersama teman-temannya yang dulu juga mengikuti pemilihan duta wisata di daerah mereka masing-masing.


"Kamu kenapa Sekar? Ada masalah?"


Pertanyaan itu hanya ia jawab dengan gelengan kepala, kemudian menyesap mocktail yang ada di depannya. Dia masih sepenuhnya sadar kalau ia adalah ibu menyusui, makanya ia lebih memilih minuman tanpa alkohol.


"Yakin?" Andira menyipitkan mata sambil menatapnya.


"Iya, kenapa sih?" tanyanya dengan nada yang sedikit meninggi, mungkin karena suasana hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Namun, ia bukan tipe perempuan yang menceritakan semua masalah ke teman-temannya.


"Kelihatannya kamu lagi ada masalah deh ! Dan sedang tidak baik-baik saja." Ucapan Andira membuatnya menelan salivanya.


"Buktinya, sampai mesti dibuntuti terus. Kamu tadi nggak ijin sama suami kamu kalau mau pergi sama kita-kita?"


Harsa tersenyum ke arahnya, sungguh ia tidak menyangka suaminya itu mengikutinya daritadi.


"Aku ke sana bentar ya." ucapnya sembari meninggalkan meja dan menuju ke meja suaminya yang sedang duduk sendiri dan menikmati sebotol air mineral.


"Mas, ngapain ke sini?" desisnya dengan nada penuh kejengkelan.


"Ya, ngikutin kamu sama sekalian jemput kamu. Emang kenapa?" Harsa terlihat sangat santai menjawab seakan mereka tidak bertengkar sebelumnya.


Jangan tanya darimana Harsa tahu kemana ia pergi, karena jawabannya adalah sebuah aplikasi gps yang terpasang di handphone mereka berdua.


"Aku bisa pulang sendiri, lagian aku juga sama teman-teman aku." dengusnya kasar sembari membuang pandangan ke arah beberapa perempuan yang sedang meliak-liukan tubuh seiring hentakan musik.


"Ngapain mesti ke tempat seperti ini? Nggak ada tempat lain buat kalian ngumpul? Sejak kapan kamu jadi mau ke tempat seperti ini?"

__ADS_1


Semua rentetan pertanyaan yang keluar dari bibir suaminya membuatnya menganga. Bukan karena Harsa berubah, selama ini untuk urusan seperti ini dan urusan lelaki, suaminya itu masih sangat posesif dan serba berlebihan.


Tapi masalahnya hal ini ditanyakan oleh Harsa seusai mereka bertengkar hebat. Oh..God..!


"Terserah mas deh..!" ia memilih pergi meninggalkan meja suaminya dan kembali menuju ke mejanya sendiri.


Dirinya memilih tetap tertawa bersama teman-temannya, walaupun sesekali melirik ke arah suaminya yang masih duduk tenang menunggunya sambil sibuk dengan gadget berlayar lebar itu. Namun, lama-lama ia jengah dengan situasi yang membuatnya tidak bebas.


"Mas mau di sini terus? Aku mau pulang!" salaknya, sontak membuat Harsa mengalihkan pandangan dari layar gadget ke wajahnya.


"Oke..! Ayo..!" Harsa berdiri mengikuti langkahnya.


Harsa


Di sepanjang perjalanan menuju hotel, Sekar memilih diam dan berulang kali menghempaskan tangannya sangat mencoba menggenggam tangan lembut istrinya itu.


Bahkan hingga sudah berada di dalam kamar pun, Sekar masih mengacuhkannya. Istrinya itu pun memilih tidur miring membelakangi dirinya.


Namun dirinya tetap berusaha untuk merebut kembali hati istrinya. Tangannya melingkar di pingging ramping Sekar dan mencoba memeluknya erat. Lagi-lagi tangan lembut itu menghempaskan tangannya.


"Berat ahh mas..! Aku capek, mau tidur !" salak Sekar tanpa membalikkan badan.


Bibirnya tersenyum tipis kemudian mengecup puncak kepala istrinya.


"Iya, selamat malam sayang.." gumamnya lembut, lalu menarik diri sejenak dari istrinya sembari menatap langit-langit kamar hotelnya.


"2 tahun yang lalu, malam pertama mereka terasa begitu indah. Tapi sekarang? Aku sendiri yang membuatnya berantakan." batinnya, kemudian menatap punggung Sekar yang napasnya mulai teratur.


......................

__ADS_1


__ADS_2