
Bali,
Sekar
Ternyata sudah dua jam ia memejamkan mata, begitu pula suaminya yang masih terlihat terlelap. Ia mencoba beringsut agar tidak membangunkan suaminya, namun ternyata tubuh bagian bawahnya masih terasa sangat nyeri membuatnya meringis dan mengurungkan niatnya.
"Kamu mau apa?" suara berat Harsa memecah kesunyian kamar itu.
"Haus mas, sama lapar.." jawabnya pelan. Memang daritadi sore ia belum sempat memakan makanan berat karena menunggu kedatangan suaminya yang katanya membawakan makanan untuknya. Tapi nyatanya, suaminya malah memakan dirinya terelebih dahulu.
Harsa terkekeh pelan, lalu beranjak berdiri tanpa risih sama sekali memperlihatkan pahatan sempurna yang masih belum tertutup apapun.
Tak sampai satu menit, Harsa membawakan segelas air putih dan sekotak makanan yang ia yakini itu adalah pizza.
"Aku tadi beli pizza, tapi karena ada godaan yaudah aku malah jadi lupa. Maaf ya sayang.." seloroh Harsa dengan mengerlingkan mata ke arahnya, seketika membuat bibirnya mencebik.
Bibirnya menyesap air putih itu hingga tak tersisa dengan mata melirik suaminya yang sibuk membuka pizza, lalu menyuapinya dengan sepotong pizza yang bertopping keju yang sangat banyak.
"Haaa....."
Pizza itu memang terasa sangat lezat walaupun sudah dingin, apalagi dimakan di saat lapar seperti ini.
"Enak nggak?" pertanyaan suaminya hanya ia jawab dengan anggukan kepala, karena mulutnya masih menikmati enaknya pizza yang mulai menyapu rongga mulutnya.
"Ini tadi nitip sama temenku, kalau beli langsung mesti turun gunung dulu kita. Besok pas mampir rumah, kita ke sana lagi."
"Makan yang banyak, kamu butuh tenaga ekstra." bisik Harsa lengkap dengan kerlingan nakal, kemudian beranjak dari tempat tidur membawa gelasnya yang telah kosong.
Namun ucapan suaminya seketika membuatnya berhenti mengunyah dan menelan makanan yang terasa begitu sulit baginya.
Setelah berhasil menghabiskan empat potong pizza untuk dirinya sendiri dan Harsa hanya memakan satu potong saja, ia kembali berbaring berharap untuk menikmati tidur malamnya lagi dengan tenang.
Tapi apa boleh buat, realita memang tak sesuai dengan ekspektasi. Kini suaminya sudah berada di atas tubuhnya lagi dan tentunya masih tanpa memakai apapun.
__ADS_1
Matanya mendelik menatap Harsa yang tengah tersenyum penuh arti padanya.
"Masih sakit nggak?"
Ia tahu ini hanyalah pertanyaan klise yang sebenarnya sama sekali tidak butuh jawaban. Tangan lembutnya membelai rahang suaminya dan menarik tengkuk suaminya, kemudian mendaratkan ciuman di bibir sexy milik Harsa yang selalu membuatnya melenguh.
Harsa menerbitkan seringainya saat ciuman itu terlepas.
"Kamu nakal dan kamu harus tanggungjawab.."
Badannya tiba-tiba ditarik oleh Harsa membuatnya berteriak dan sekarang posisinya duduk di atas pinggang suaminya.
"It's your turn, baby ! " bisik Harsa dengan kerlingan nakal.
Sungguh malam ini ia merasa bukan lagi menjadi Sekar yang polos, karena saat ini ia berhasil membuat seorang laki-laki mendesah dan mengerang.
"Bagus sayang..."
Ucapan-ucapan Harsa semakin membuatnya bukan menjadi seorang Sekar yang dulu lagi. Mulutnya semakin meracau dan mengeluarkan suara-suara yang entah bagaimana kalau sampai ada orang yang mendengarnya. Bahkan sekarang suaranya habis karena terlalu sering berteriak dan memekik.
Inilah kenyataannya menikah dengan laki-laki yang sudah pro dalam masalah bercinta. Selain menjadikannya lebih liar, juga membuatnya menjadi kehabisan tenaga.
Harsa
Matanya menatap wajah polos yang meringkuk di sampingnya. Sekar kembali tertidur pulas, setelah mengarungi panasnya cinta bersama dirinya. Entah berapa kali mereka melakukannya, yang jelas itu masih tidak cukup baginya.
Padahal bercinta seperti ini bukanlah hal yang baru baginya, tapi bersama Sekar seakan tak pernah membuatnya merasa puas. Tangannya mengusap perut ramping Sekar dengan bibir tersenyum.
"Cepatlah hadir.." gumamnya pelan, lalu kembali menarik pinggang ramping itu mendekat ke arahnya.
................
Sekar
__ADS_1
Matanya menangkap setitik sinar masuk ke dalam kamarnnya dan terdengar suara shower dari kamar mandi.
Baru kali ini, ia bangun dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Tulang-tulangnya seakan lepas dari badannya. Ia masih memilih bergelung di dalam selimut. Sesekali ia menatap bagian dadanya yang terlihat ada beberapa tanda yang dibuat oleh suaminya di sana.
Pipinya kembali memanas saat mengingat betapa gilanya mereka berdua. Baru satu malam bukan hanya ranjang yang menjadi sasaran Harsa, tapi suaminya itu mengajaknya di sofa dan juga di atas meja yang terletak di kamar itu.
Mereka menginap di sini selama tiga malam, berarti mungkin seluruh sudut ruangan ini akan mereka jamah untuk merayakan malam cinta mereka.
Ahhh..malam? Kelihatannya kali ini bukan hanya malam, karena suaminya sudah tidak ada lagi pekerjaan di sini.
Iissshhh...
Demi membayangkan hal itu, ia sampai tidak menyadari kalau suaminya telah keluar dari kamar mandi.
"Bayangin apa sih? Sampai merah gitu mukanya.." goda Harsa yang saat ini sudah berada di depan wajahnya. Bibirnya mencibir, lalu memilih menenggelamkan wajah di tumpukan bantal.
Tangan Harsa menyingkap selimutnya membuatnya langsung melotot.
"Mas..?! Aku nggak mau lagi, aku capek mas.." rengeknya dengan tatapan memelas. Suaminya malah tergelak melihatnya.
"Apa sih? Kamu curigaan banget deh. Ayo mandi, aku bantuin ke sana, udah aku siapin air hangat. Aku gendong, pasti kamu susah jalannya."
Namun ia memilih bangun sendiri dan beranjak dari kasur walaupun dengan terseok-seok.
"Nggak, aku bisa jalan sendiri." jawabnya sambil berlalu, membuat Harsa semakin tergelak.
"Sayang..sayang...kamu ini makin menggemaskan, jadi pengin ikutan mandi lho ini !" ucap Harsa sambil terkekeh.
Braakk...
Ia memilih menutup dengan cepat pintu kamar mandi daripada mendengar ocehan mesum suaminya.
......................
__ADS_1