
Sekar
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Usia kandungannya menginjak bulan ke delapan. Ia memutar badannya ke kanan dan ke kiri melihat penampilannya di cermin. Baju bernuansa putih dan hitam akan menemani sidang skripsinya hari ini.
Perut besarnya tidak mengurangi semangatnya sama sekali dalam menghadapi sidang skripsinya, justru ia tampak semakin bersemangat.
"Mas beneran nggak kerja?" tanyanya ke Harsa yang telah menunggunya duduk di ranjang sembari memainkan handphone.
"Nggak, udah diurusin sama Adit. Cuma meeting sama perusahaan plat merah." ucap Harsa dengan mata sibuk menatap benda pipih itu.
Dia berdiri tepat di depan suaminya, sontak membuat Harsa mendongak menatap wajahnya.
"Aku cantik nggak?" genitnya sembari mengerlingkan matanya seperti yang dulu sering ia lakukan saat menggoda suaminya itu.
Harsa hanya tersenyum simpul menatapnya, kemudian beranjak dari ranjang untuk keluar kamar. Lagi-lagi ia hanya mampu menghela napasnya dengan sikap dingin suaminya.
"Sabar ya nak.." gumamnya pelan dengan tangan mengelus lembut perutnya yang sudah membuncit.
Kampusnya terlihat cukup sepi siang ini, hanya ada beberapa mahasiswa yang mengerjakan tugas dan bersiap untuk sidang.
Beberapa sahabatnya pun sudah berkumpul menunggunya di lobby depan ruangan tempatnya akan bertarung nanti.
"Wahh..gila..! Baru kali ini ada orang sidang pas hamil gede gini..! Semangat ya sayangku..!" ucap Bunga lalu memeluknya.
Harsa memilih duduk di salah satu sudut lobby sembari membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan.
Setelah bertarung sekitar satu jam di dalam ruangan, akhirnya ia keluar dari ruangan dengan wajah yang ceria. Pelukan dari sahabat-sahabatnya pun menyambutnya saat keluar dari ruangan. Layaknya para mahasiswa lainnya, ia mengabadikan moment sidangnya dengan berfoto-foto.
"Mas.." ucapnya sambil menatap suaminya yang telah setia mengantar dan menunggunya saat sidang.
__ADS_1
Harsa menoleh sekilas ke arahnya, lalu kembali menatap jalanan di depan.
"Makasih ya mas.." ucapnya lembut sambil tersenyum lalu mengecup pipi Harsa.
Dan lagi-lagi suaminya hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman tipis. Jangan ditanya bagaimana suasana hatinya selama ini? Dirinya selalu merasa bahagia saat bertemu dengan sahabat-sahabatnya, tapi kembali sendu saat bersama Harsa.
Sudah tujuh bulan Harsa benar-benar tidak menyentuhnya, bahkan meminta dirinya untuk melakukan 'hal lain' untuk membuat suaminya itu bahagia pun tidak.
Pernah ia bertanya tentang hal itu, tapi hanya ditanggapi senyuman dan jawaban asal dari Harsa. Kemudian suaminya itu berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Bahkan tak segan-segan ia pernah mengirim sebuah artikel tentang pentingnya berhubungan intim saat hamil besar. Namun suaminya sama sekali tak menanggapi hal itu. Hingga akhirnya ia pun memilih mengalah dan diam, lalu mencoba memikirkan kesibukan lainnya.
Ia sempat berpikir negatif, suaminya itu bermain dengan wanita lain. Hasilnya tak ada bukti sedikitpun yang menunjukkan Harsa berselingkuh. Ia masih bebas membuka handphone Harsa, dirinya juga masih bebas mengecek semua rekening Harsa dan tidak ada yang mencurigakan.
"Mas, apa aku boleh kerja setelah melahirkan?" tanyanya pelan sambil menatap Harsa.
Ia menghela napasnya pelan,
"Aku pengin ngerasain kerja mas, benar-benar kerja."
Harsa meliriknya , lalu menatapnya saat mobil mereka berhenti di lampu merah.
"Emang kamu mau kerja apa? Kantor tinggal milih, kamu mau jadi apa juga tinggal milih."
Ucapan Harsa membuatnya suasana hatinya semakin tak menentu.
"Aku pengin kerja di tempat lain yang orang pada nggak kenal aku." jawabnya pelan dengan kepala menunduk.
"Kita lihat nanti kalau udah lahiran, yang penting kamu lahiran dulu." tegas suaminya yang hanya mampu membuatnya mengangguk dan menangis dalam diam.
__ADS_1
"Iya mas.." jawabnya pelan, lalu membuang pandangannya ke jendela sampingnya sambil sesekali menyeka air mata yang masih menggenang di matanya.
................
Harsa
Setelah selesai membersihkan diri, ia melihat Sekar telah berbaring miring memunggunginya. Perut Sekar sudah terlihat sangat besar, apalagi istrinya itu memiliki badan yang masih terbilang kurus di kalangan orang hamil.
Ia merasa kasihan dengan Sekar yang terlihat mulai susah membawa badan dan lebih mudah lelah.
Dirinya tahu sudah lama ia tidak menyentuh Sekar, bahkan ia sangat mengerti istrinya berusaha memancingnya dengan berbagai cara. Tapi entah kenapa, setelah kehamilan istrinya ia menganggap 'kegiatan menyenangkan' yang dulu sangat ia sukai, sekarang sudah bukan lagi prioritasnya. Bahkan hasrat itu bisa dibilang memudar, bukan karena ia takut melakukan saat kehamilan Sekar, tapi sungguh ia sama sekali tidak memikirkan 'hal itu'.
Dia merangkak naik, berbaring di samping Sekar sambil sesekali menatap ke arah istrinya yang masih memunggunginya.
Sekar
Saat ia akan terlelap, tiba-tiba ia merasakan tangan kokoh suaminya memeluknya dari belakang dan mengelus perutnya. Harsa kemudian duduk dan mengecup perutnya dari samping.
"Sehat ya nak.." gumam Harsa pelan, kemudian suaminya kembali berbaring di sampingnya.
Matanya kembali terbuka dan bibirnya tersenyum. Namun tiba-tiba ia berpikir sejenak, apakah Harsa selama ini hanya menginginkan anak darinya? Karena setiap tindakan hangat suaminya selama ia hamil hanya tertuju pada kandungannya, bukan untuk dirinya lagi. Atau hanya dirinya saja yang berlebihan?
Hal ini jujur memaksa dirinya untuk mengingat masa sulitnya menerima kehadiran cinta Harsa di dalam hidupnya. Tak ada satu pun orang yang tahu betapa sulit dirinya membuka hatinya kembali untuk menerima cinta di dalam hidupnya setelah kandasnya hubungan dirinya dengan Nanda. Masa lalu yang ditinggalkan oleh ayahnya pun masih sangat membekas di hatinya.
Dengan penuh perjuangan ia melawan rasa trauma dan keringat dinginnya saat Harsa datang ke kosnya dan tidur satu ranjang dengannya. Jujur ia sempat ingin menolak Harsa saat itu, tapi ia melihat kegigihan dan kehangatan Harsa yang mampu membuatnya luluh.
Tapi apa yang ditakutkannya pun terjadi, semua kehangatan itu sirna di usia pernikahannya yang baru terbilang sangat dini.
......................
__ADS_1