Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Pertengkaran Pertama


__ADS_3

Semarang,


Harsa


Sore ini hingga nanti malam tugasnya adalah menemani Sekar menjalankan tugas sebagai duta wisata.


Memilih menunggu di ruangan yang sama dimana Sekar sedang dirias. Matanya menatap wajah khas perempuan Jawa yang ada pada Sekar saat dirias dengan sanggul Jawa.


"Cantik.." batinnya, kali ini ia merasa tidak salah memilih kekasih.


"Halo mbak cantik..! Ini buat kamu..!" seorang lelaki berpakaian batik lengan panjang dengan wajah yang cukup tampan dan berperawakan tinggi tegap sedang menyapa Sekar.


Sekar menerima sebuah paper bag yang sangat ia ketahui itu berisikan sebuah parfum. Matanya terus menatap tajam ke arah dua orang itu dan memasang telinga untuk mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.


"Waahh..makasih mas..! Cieee..yang habis liburan..!"


Mereka berdua terlihat sangat akrab, bahkan tak segan tangan Sekar memegang lengan lelaki itu. Entah apakah kekasihnya itu sedang memancing cemburunya atau memang Sekar lupa kalau ada dirinya saat ini.


Namun kali ini ia lebih memilih diam dan terus mengamati, bagaimanapun ia harus menjaga image - nya yang telah ia bangun selama ini.


Hingga akhirnya matanya dan mata Sekar bertatapan di cermin yang berada di depan kekasihnya itu. Sekar langsung tersenyum canggung dan melepaskan tangan dari lengan lelaki itu.


"Oh iya, nanti pulangnya bareng aku aja, daripada naik taksi." tawar lelaki itu kembali, rasanya saat ini ia ingin langsung memberitahu bahwa ada dirinya saat ini sebagai pacar Sekar, namun masih ia tahan.


"Ehhmm..nggak usah mas. Aku bareng sama mas Harsa." jawab Sekar sambil memberikan cengiran.


Lelaki itu langsung tertegun sekaligus bingung,


"Mas Harsa siapa?"


"Pacar aku mas, itu dia di sana nungguin aku."


Saat ia mendengar jawaban Sekar, ia langsung berpura-pura sibuk dengan handphone nya, karena dirinya tahu pasti lelaki itu akan menoleh ke arahnya.


"Ohh..sorry..! Aku nggak tahu kalau kamu udah punya pacar."


Dari sudut matanya ia bisa menangkap ekspresi lelaki itu tampak tersenyum getir.


"Mas Harsa?!" sedetik kemudian seorang perempuan menyapanya membuatnya terperanjat.


"Mas Harsa pacarnya mbak Lintang kan?! Ngapain di sini?" ia menelan salivanya lalu melirik ke arah Sekar yang sudah menampilkan tatapan tajam ke arahnya melalui pantulan kaca.


Ia berdehem pelan menetralisir kegugupannya, baru kali ini merasa mati kutu di hadapan perempuan.


"Ehh hai, aku lagi nungguin Sekar. Oh iya, sorry aku udah nggak sama Lintang lagi." jawabnya dengan ramah namun penuh penekanan.


"Ohh..jadi sekarang jalan sama Sekar?"


"Sekar..! Mas Harsa ini pacar kamu?" tiba-tiba suara perempuan itu memenuhi ruangan itu, hingga semua orang di dalamnya menatap dirinya.

__ADS_1


Sekar mengangguk dan tersenyum,


"Iya, dia calon suami aku." jawab Sekar tak kalah tegasnya, entah karena merasa cemburu atau ingin memberi tahu kepada semua seorang bahwa mereka mempunyai rencana untuk menikah.


"Whaatt???!!!" pekik perempuan dan lelaki yang tidak ia ketahui namanya itu secara bersamaan.


"Masih lama..masih lama..Mas Harsa nungguin aku kelar jabatan ini dulu. Iya kan mas?"


Dirinya hanya mengangguk, saat Sekar tersenyum ramah ke arahnya namun dengan tatapan mematikan.


Ia mengangguk sambil menggaruk tengkuknya, lalu memijat pangkal hidungnya. Dan ia memilih kembali berkutat pada gadget miliknya, daripada membahas hal-hal tidak penting yang bisa menyulut api dalam hubungan mereka berdua.


................


Sekar


Setelah selesai menyapu riasan di wajahnya, ia kembali membenahi isi pouch nya, lalu memasukkannya dalam tas.


Suasana di mobil terasa begitu sunyi, mereka berdua hanyut dalam pikiran dan emosi masing-masing.


Setelah kejadian di ruang rias tadi, baik Harsa maupun dirinya sama-sama lebih banyak diam, hanya berpura-pura baik-baik saja di depan umum.


Ia memilih membuang pandangannya ke jendela yang ada di samping kirinya dengan bibir terkatup rapat.


"Kamu mau makan lagi nggak?" pertanyaan Harsa memecah kesunyian malam ini. Dirinya hanya menggelengkan kepala, perutnya terasa tidak lapar untuk malam ini, padahal tadi saja ia hanya makan sedikit.


Tanpa banyak bertanya lagi Harsa kembali melajukan mobil ke rumahnya. Malam ini mereka akan bermalam di rumahnya saja, karena ia sangat tahu ini adalah kotanya. Apalagi ia masih menyandang gelar sebagai duta wisata, wajahnya cukup dikenali di kota ini.


Harsa


"Mau sampai kapan kita saling diam seperti ini?" sungguh ia tidak pernah bisa menyelesaikan masalah dengan cara diam. Baginya semua masalah harus dibicarakan dan diselesaikan.


Ia tahu Sekar marah padanya karena masalah Lintang yang ternyata adalah mantan pacarnya, sedangkan ia habis pergi berdua saja saat di Singapura. Namun, ia sendiri juga terbakar cemburu saat ada lelaki yang bernama Dipta yang ternyata pasangan duta wisata Sekar yang juga menaruh hati kepada kekasihnya.


Sekar berbalik badan menatap ke arahnya dengan wajah yang sudah sangat tidak bersahabat.


"Yaudah kita mau ngomongin apa dulu sekarang? Lintang atau Dipta?" salak Sekar, ia tak menyangka Sekar yang berusia 9 tahun di bawahnya berani meluapkan emosi padanya, namun justru bagus menurutnya.


Ia menghela napasnya pelan,


"Kita duduk dulu, bisa?" pintanya yang dituruti oleh Sekar.


"Oke aku jelasin. Aku sama Lintang memang pernah pacaran tapi itu jauh sebelum aku kenal kamu."


"Dan kami putus karena aku lihat sendiri Lintang tidur sama sahabat aku sendiri." penjelasannya membuat Sekar kaget hingga menutup mulut dengan tangan.


"Tapi aku masih tetap harus profesional dalam masalah kerjaan, Lintang brand ambassador bisnis aku sampai 3 bulan lagi. Baru setelah itu aku bisa putus masalah kerjaan sama dia." pungkasnya sambil menatap wajah Sekar.


"Tapi mas sering pergi berduaan sama dia, nginap lagi. Aku takut ma-" tangannya menarik tangan Sekar dan memaksa Sekar duduk di pangkuannya.

__ADS_1


Bibirnya kembali tersenyum, seakan lupa bahwa dirinya pun sedang merasakan cemburu.


"Baru kemarin, cuma kemarin aku pergi berdua sama Lintang, biasanya aku ajak teman lain atau karyawan lain. Kebetulan kemarin mereka lagi ada rapat semuanya, jadi terpaksa." jelasnya seraya menyelipkan rambut lurus itu ke belakang telinga Sekar.


"Mas nggak tidur sekamar kan tapi?" tanya Sekar dengan polosnya.


Dirinya langsung terkekeh,


"Nggak lah, ntar aku nggak dapat jatah lagi sama calon istriku ini. Lagian mama juga nggak pernah suka sama Lintang, mama itu cuma suka sama dua orang, kamu sama Arsya."


Sekar mengerutkan kening,


"Arsya siapa?"


"Dia sepupunya Genta, dulu aku pernah jalan sama dia sebelum sama Lintang. Tenang, dia udah mau nikah kok sebentar lagi."


Berusaha jujur dan terbuka itu yang hanya ia bisa lakukan untuk tetap menjaga hubungannya dengan Sekar.


Sekar menganggukkan kepala,


"Sebentar, aku gantian mau tanya?!" ucapnya menatap tajam mata Sekar.


"Sering jalan kamu sama Dipta kalau pas di sini?" tanyanya membuat Sekar menelan saliva.


"Ya kan aku pasangan sama dia mas, kalau ada apa-apa ya aku pasti berdua sama dia."


Jawaban Sekar membuatnya menyipitkan matanya,


"Oke, jadi besok-besok kalau kamu ada tugas lagi, harus aku antar."


"Posesif deh, mulai..! Aku aja percaya lho mas sama mbak Lintang kalau ada acara berdua. Ya walaupun was-was sih, lagian mas udah pernah pacaran." Sekar menekuk wajah menatapnya.


"Ya kamu ikut dong makanya! Kalau aku emang susah percaya sama buaya macam Dipta itu..! Nggak bakal aku lepasin kamu sendiri kalau ada dia."


Sekar tergelak mendengar ucapannya,


"Aku nggak suka mas sama Dipta, sama sekali nggak ada rasa, nggak ada setrumnya." bisik Sekar di depan wajahnya seraya menangkup kedua pipinya.


Bibirnya langsung menyambar bibir ranum Sekar, tangannya mulai mengelus punggung Sekar dengan halus.


"Kalau gini nyetrum nggak?" gumamnya pelan dan menggoda, lalu kembali mengecup bibir ranum itu.


"Dulu juga gini nggak sama Lintang?" gantian Sekar yang menggodanya membuatnya tertawa pelan.


"Itu masa lalu sayang, nggak usah dibahas." gumamnya seraya menggesekkan hidung mancungnya ke hidung Sekar.


"Kelihatannya aku mau nyetrum kamu aja deh sekarang. Mau di kamar apa di sini?" desisnya menggoda.


Selalu berdekatan dengan Sekar membuatnya tidak bisa berjanji akan mampu menjaga diri untuk tidak menyentuh. Sekar terlalu candu bagi dirinya. Rasa sayang, nafsu, dan juga posesifnya yang berlebih seakan selalu mendorongnya untuk segera memiliki Sekar seutuhnya. Sekar adalah miliknya, hanya untuk dirinya.

__ADS_1


Akankah mereka berdua tetap mampu menjaga batas itu?


Sabar ya kakak..jawabannya ada di chapt selanjutnya..! 😘😝


__ADS_2