Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Awal Bertemu


__ADS_3

1 Tahun Kemudian


Jakarta,


Harsa


"Hari ini jadwal kamu kemana saja mas?" tanya mamanya yang sedang berkutat menyiapkan sarapan bersama dua asisten rumah tangga di ruang makan.


Tangannya menarik kursi makan,


"Hari ini ngisi seminar di Depok ma, habis itu paling mau kumpul sama anak-anak. Kenapa ma?" tanyanya balik sembari mengambil beberapa potong roti yang telah diisi sayuran, keju , dan daging.


"Nggak apa-apa sih, mama cuma tanya aja."


Kemudian mamanya duduk di hadapannya dan menatap dirinya,


"Kamu nggak kepikiran serius sama perempuan? Mau sampai kapak kamu main-main gitu terus? Arsya udah mau nikah, seandainya dulu kamu jelas serius sama Arsya, mama kan bahagia banget."


Ia mengangkat satu alisnya dan menatap wajah mamanya,


"Kenapa jadi bawa-bawa Arsya sih ma? Dia itu sudah masa lalu.."


"Ya makanya terus masa depan kamu sekarang siapa? Mama capek lihat kamu ganti-ganti cewek nggak jelas gitu. Pilih salah satu, buat serius, tapi juga yang bener. Jangan seperti siapa kemarin namanya? Yang ke sini katanya model itu, mama nggak suka itu cewek seperti itu." jelas mamanya.


"Agni namanya, iya ma.." Daripada ia beradu pendapat dengan mamanya di pagi hari, ia lebih memilih mengalah saja.


................


Depok,


Sekar


Ia menatap undangan seminar yang bertemakan tentang Binis dan Public Speaking.


"Harsa Dewananda.." gumamnya dengan mata menatap nama salah satu narasumber seminar hari ini.


"Ini yang katanya pengusaha muda sukses dan ganteng itu? Seganteng apa sih, sampai pada seantusias itu ikutan seminar ini?" gumamnya lagi pelan.


Memang teman-teman seangkatannya bahkan kakak tingkatnya yang hampir dikatakan tidak pernah ikut seminar, sampai rela ikut seminar hari ini hanya salah satu narasumber yang bernama Harsa.


Setelah memarkirkan motornya, ia pun berlari menyusuri bangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis karena dirasa waktu seminar sudah hampir dimulai.


Harsa


Brruuuukkk....


"Maaf..maaf pak.." wajah perempuan itu tampak berkeringat dan terlihat sangat tergesa-gesa hingga menabrak dirinya yang sedang berdiri dengan beberapa narasumber yang akan mengisi seminar di kampus itu.

__ADS_1


Mata gadis itu menatap matanya, ia sedikit menyipitkan matanya dan tersenyum tipis.


"Pak..?" ucapnya dengan menaikkan satu alisnya.


Bibir perempuan itu langsung mengatup rapat,


"Maaf..maaf mas..saya nggak sengaja. Saya mau masuk dulu mas, seminarnya mau dimulai." ucap perempuan yang wajahnya terlihat semakin menggemaskan baginya.


"Ya sudah, masuk aja. Masuk tinggal masuk." balasnya datar.


Namun wajah perempuan itu malah tampak merengut, kemudian pandangan beralih ke bawah yang membuatnya juga mengikuti arah pandangan perempuan yang tidak ia ketahui namanya itu.


"Gimana saya mau masuk kalau mas nggak lepasin tangan mas.." gumam perempuan itu pelan masih dengan tatapan memelas yang langsung membuatnya menahan tawa.


"Oke, sorry. Silahkan masuk nona..!" tangannya pun melepas genggaman telapak lembut itu.


"Siapa namamu?" suaranya sontak membuat langkah perempuan itu berhenti tepat di sampingnya.


Bibir tipis itu tersenyum manis,


"Sekar.."


Sekar


 


"Gila..gila..ganteng banget itu laki..! Mimpi apa aku ketemu sama laki seganteng itu..!" gumamnya dalam hati seraya menggeleng-gelengkan kepala dan kaki yang tetap melangkah masuk ke auditorium.


"Fokus..fokus..! Fokus Sekar..! Lupakan dia..fokus ke seminar..!" gumamnya lagi dalam hati.


"Hei..! Udah sampai sini lagi aja kamu..! Emang nggak ada tugas nyambut pejabat-pejabat lagi?" sahabatnya sudah bertengger manis di sampingnya.


Ia pun menggelengkan kepalanya,


"Nggak, paling weekend besuk aku balik lagi. Senin aku ada tugas soalnya."


"Haa? Gila ya kamu ! Depok - Semarang udah berasa Depok - Jakarta aja tinggal naik KRL..!" wajah Bunga tak dapat menutupi keterkejutannya itu, sedangkan dirinya hanya memberikan cengiran.


"Ya namanya juga anak beasiswa, kalau nggak rajin masuk. Bisa dicopot aku, nggak dapat beasiswa, nggak kuliah dong aku nantinya."


"Helooo..! Tapi kan kamu udah duta wisata provinsi, nggak mungkin lah kampus mau ngelepas aset begitu saja!" elak Bunga sambil melirik ke arahnya.


"Apa sih arti sebuah gelar.." timpalnya sambil mengerucutkan bibir.


Memang setelah berhasil menyandang Duta Wisata Provinsi, ia harus mampu membagi kuliahnya dan tugasnya sebagai duta wisata.


Itu jelas tidak mudah baginya, kuliah di luar kota dengan beasiswa pastinya mengharuskan dirinya bolak-balik Semarang - Depok hanya demi mengatur waktu.

__ADS_1


Gila bukan?


Ya, itulah yang ia rasakan terhadap dirinya sendiri. Disibukkan dengan kuliah mengejar nilai bagus agar tetap mendapatkan beasiswa dan juga disibukkan dengan tugas sebagai duta wisata.


Kalau perempuan seusianya pasti sibuk dengan berpacaran, apalah arti dirinya yang pacar saja tidak punya. Bukannya tidak ada yang mendekati, tapi ia lebih memeilih untuk menjalani hidup tanpa kekasih terlebih dahulu. Daripada isi kepalanya semakin bercabang dan membuatnya semakin gila.


Matanya tiba-tiba membelalak saat menatap panggung dengan bibir setengah menganga, saat seorang lelaki menatap dan tersenyum manis padanya.


"Ya Tuhanku..! Apa yang aku lakukan tadi? Ternyata dia.." gumamnya pelan sambil menutup mulutnya yang masih menganga, lalu menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap mata lelaki itu.


"Harsa Dewananda..itu dia orangnya.." gumamnya dalam hati.


................


Harsa


"Sumpah demi apa banget ini?! Kita ketemuan nongkrong di daerah Depok? Berasa Jakarta kurang cafe aja." gelak Raka, sahabatnya yang saat ini sudah datang di hadapannya.


"Ya daripada kena macet, jam-jam segini lagi. Kalian juga pas lagi di daerah sini. Yaudah ketemuan aja di sini." jawabnya sambil terkekeh dengan mata menatap buku menu di hadapannya.


"Tapi kan nggak bisa lihat gadis-gadis menggemaskan di sini.." timpal Raka yang kembali membuatnya terkekeh.


"Banyak lagi, kan di sini banyak adik-adik gemes. Iya kan Sa?"


Pertanyaan Adit hanya ia jawab dengan mengulum senyum dan menaik turunkan alisnya.


"Udah? Order sekarang aja ya?" tanyanya sambil menatap ketiga sahabatnya.


Kepalanya menoleh ke belakang dan melihat waiter yang berjalan di belakangnya menuju meja bar.


"Mbak..maaf mau pesan.."


Gadis itu menoleh, "Iya sebentar ya kak.." ucap gadis itu kepadanya, lalu menaruh tray di meja bar terlebih dahulu.


Waiter itu telah berdiri di sampingnya,


"Sore kak, dengan saya Sekar, ada yang bisa dibantu?"


Sapaan gadis itu langsung membuat matanya beralih cepat menatap wajah waiter yang ada di sampingnya saat ini.


Sekar


Matanya saat ini kembali beradu tatapan dengan mata lelaki yang bernama Harsa Dewananda.


Entah ada apakah semua ini?


Apakah ini sebuah keberuntungan?

__ADS_1


Entahlah..yang ia sadari hanya satu, lelaki itu sangat tampan, sampai-sampai tanpa ia sadari, dirinya menelan salivanya sambil menatap mata Harsa.


......................


__ADS_2