
Yogyakarta
Sekar
Saat ini ia sedang berdiri di depan cermin yang ada di kamar hotelnya. Malam ini dirinya lebih memilih memakai kostum kain yang dililitkan untuk bawahan dan atasan kebaya lengan pendek. Semua yang ia kenakan saat ini bernuansa serba gelap dengan aksen gold, karena ia ingin tampak serasi dengan penampilan Harsa yang juga memakai batik berwarna gelap.
"Cantiknya..bagian sini sih lumayan ketutup, tapi kenapa yang di sini turun banget ya? Untung tertutup sama rambut." gumam Harsa dari belakang sembari mengelus punggungnya yang memang sedikit terbuka.
Ia hanya menanggapi dengan senyuman dan sedikit mendongakkan kepalanya, membuat bibir Harsa semakin bebas mengecup lehernya.
"Nikah yukk, nikah sama aku. Mau nggak? Aku pengin lihat kamu pakai kebaya warna putih pas pernikahan kita. Pasti cantik banget." gumam Harsa lagi, seraya menatap dirinya dari pantulan cermin.
Telapak tangannya mengelus rahang Harsa yang tengah menumpukkan dagu di pindaknya,
"Sebelum nikah, lebih baik kita sekarang ke gedung. Nanti telat lho." ucapnya mengakhiri peebincangan ini.
Namun Harsa malah membalikkan tubuhbya dengan cepat dan mencium bibirnya dengan sangat rakus. Tangannya dengan sekuat tenaga mendorong dada bidang kekasihnya itu.
Dengan wajah yang sudah ditekuk hendak melakukan aksi protes karena riasannya pasti sudah rusak, Harsa malah lebih dahulu membuka suara.
"Bawa warna lipstik lain kan? Atau gimana lah caranya, ini terlalu merah." lirih Harsa dengan jari yang menyapu jejak lipstik yang sudah tak beraturan menghiasi wajahnya.
Setelah itu Harsa melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk membersihkan bibirnya sendiri yang juga terkena lipstiknya yang memang berwarna merah terang.
"Nahh gitu dong ! Kalau cantik banget kaya' tadi itu bolehnya kalau di depan aku aja." gumam Harsa sambil mengedipkan satu matanya.
"Posesif !" timpalnya dengan tertawa geli sambil menyambut lengan Harsa yang mengajaknya untuk meninggalkan kamar.
Setelah sampai di gedung tempat acara dilangsungkan, ia sadar bahwa Genta bukanlah dari keluarga yang biasa-biasa saja. Terbukti d!ari banyaknya rangkaian bunga yang berderet dari luar hingga menuju lobby dan hampir semuanya dari nama-nama kelas atas.
"Mas Harsa !" teriakan seorang perempuan memanggil kekasihnya membuatnya menoleh.
Perempuan anggun dan cantik yang saat ini aedang memakai kebaya dan sanggul Jawa.
"Sangat cantik." batinnya dengan mata yang masih menilai setiap jengkal lekuk tubuh Arsya yang terlihat semampai dan memiliki tinggi yang sama dengan dirinya.
"Ehh Arsya, apa kabar?" sapa Harsa ke gadis itu.
"Oh jadi ini yang namanya Arsya, pantas kalau mama Harsa juga suka pada gadis ini."
Bukannya cemburu namun senyuman malah mengembang di wajahnya saat menatap gadis bernama Arsya itu.
"Baik mas, sama siapa?" tak lama Arsya menatap dirinya kemudian kembali menatap Harsa.
__ADS_1
"Pacar ya?" lirih Arsya setengah berbisik dan menampilkan wajah jahil.
Harsa terkekeh, lalu menganggukkan kepala.
"Ini Sekar, calon istri aku. Kenalan sendiri dong!"
"Ehh iya. Halo mbak salam kenal ya, aku Arsya. Adik sepupunya mas Genta."
Dengan cepat Harsa langsung menyahut ucapan Arsya itu,
"Dia lebih muda dari kamu, panggil aja Sekar."
Arsya malah tampak terkejut sampai menutup mulut.
"What?! Lebih muda dari aku? Wahh menang banyak dong kamu mas?!"
"Sekar hati-hati ya, dia om-om me sum.." Arsya mendekatkan diri padanya dengan sedikit berbisik yang langsung membuatnya tergelak.
"Dasar bayi..!" timpal Harsa sambil menarik telinga Arsya.
"Nggak ada yang pengin kamu kasih ke aku nih?" tanya kekasihnya itu ke Arsya yang masih mengusap telinga yang terlihat merah.
Arsya menautkan kedua alis,
"Kasih apa?"
Gadis itu malah mengulum senyum dan melirik centil ke arah Harsa, namun hal itu malah membuatnya geli.
"Aku nggak mau ngundang kamu mas. Ntar malah bojoku kamu ajak berantem lagi." canda Arsya kali ini sukses membuat Harsa tergelak.
"Ya nggak mungkin dong, Harsa kan udah punya calon istri secantik mbaknya ini." suara seorang lelaki paruh baya yang masih tampak gagah dan tampan menyapa mereka.
"Om, apa kabar? Sehat om?" sapa Harsa ke lelaki itu.
"Sehat puji Tuhan."
"Ayah iiihh..orang aku mau godain mas Harsa biar dia kelimpungan kalau Sekar marah." gerutu Arsya yang membuatnya terkekeh.
"Yang, ini kenalin om Ardhana, ayahnya Arsya.."
Belum sempat mereka berjabat tangan dan berkenalan sudah disambut suara teriakan kembali dari sisi samping mereka.
"Ayah..! Dicari om Arya.." teriak gadis seusianya.
__ADS_1
"Halah, ngopo meneh sih?! Sing mantu sopo, sing repot sopo kat mau." gerutu Om Ardhana.
"Maaf ya Sekar, om tinggal dulu."
................
Harsa
Acara after party pun akan segera berakhir dan sesuai pesan dengan om Arya bahwa malam ini dirinya harus membuat Genta mabuk.
Wajah sahabatnya itu pun juga sudah tampak merah, tapi masih terlihat sadar. Namun ia yakin, sebentar lagi Genta pasti akan tumbang.
Tangannya masih merangkul bahu Sekar dengan posesif. Efek membuat Genta mabuk, kepalanya pun terasa sudah mulai sedikit pening karena menenggak alkohol terus menerus.
"Mabuk ya?" bisik Sekar di telinganya.
Bibirnya tersenyum,
"Nggak sih, cuma pusing sedikit." jawabnya yang disambut dengan decakan dari Sekar.
"Kamu pusing nggak?" ia tahu Sekar meminum setengah gelas wine dari gelasnya tadi, padahal ia sudah melarangnya namun kekasihnya itu justru malah menenggak habis minuman itu.
"Aku ngantuk mas." gumam Sekar seraya menyandarkan kepala di bahunya.
Tangannya mengelus rambut lurus Sekar,
"Bentar lagi selesai kok, tahan ya."
................
Sekar
Setelah menahan kantuk dan pening setengah jam, akhirnya mereka berdua tiba di dalam kamar. Harsa memijat pangkal hidung berkali-kali, sedangkan matanya juga sudah mulai menggelayut.
Namun entah kenapa melihat Harsa membuka kemeja dan menampakkan tubuh tegap kekasihnya itu malah membuat dirinya menjadi gelisah.
Ia berusaha membuang pikiran kotornya itu dengan membersihkan wajahnya dan berganti baju. Harsa mendekat kepadanya saat ia terlihat kesusahan menarik ritsleting belakang kebayanya.
"Kamu kenapa mukanya merah gitu, hmm?" napas Harsa mulai menyapu tengkuknya, membuatnya semakin kesusahan menahan gejolak yang membuatnya semakin pening.
"Aku mau ganti baju, aku ngantuk mas." elaknya saat Harsa mengecup pipinya.
Namun Harsa tampaknya mengerti apa yang ia rasakan saat ini, kekasihnya itu tampak tersenyum miring menatapnya.
__ADS_1
"Yakin mau tidur?"
......................