
Semarang,
Harsa
Sayup-sayup ia mendengar sedikit suara dua orang yang sedang berbicara di luar kamar. Ia mengenakan bajunya terlebih dahulu dan mencuci wajahnya sekilas, lalu kakinya melangkah keluar.
Ia berdiri di depan kamar dan melihat ada ayahnya Sekar di sana. Walaupun Sekar belum pernah mengenalkan dirinya pada sang ayah, namun ia sudah terlebih dahulu tahu siapa ayah dari kekasihnya itu.
"Selamat pagi pak.." sapanya dengan langkah kaki menuju ruang tamu.
Sekar dan sang ayah langsung menoleh menatap dirinya. Ayah Sekar tampak tercengang melihat dirinya.
"Pagi pak, perkenalkan saya Harsa Dewananda, pacar dan calon suami anak bapak." ucapnya yang masih disambut diam oleh ayah Sekar.
Ayah Sekar tampak menelan saliva sambil menatapnya dan berdehem pelan sebelum membalas sapaannya.
"Pagi.." hanya jawaban itu yang keluar dari ayah Sekar yang membuatnya tersenyum tipis.
"Kita duduk dulu ya.." ajak Sekar sambil bergantian menatap mereka berdua.
Matanya menatap Sekar, lalu beralih ke bagian dada kekasihnya yang sedikit terbuka. Ia memperingatkan Sekar lewat bahasa mata mereka berdua.
"Ehmm, aku siapin sarapan dulu ya? Ayah sama mas Harsa ngobrol-ngobrol dulu aja ya." kekasihnya itu berdiri sembari membenahi kimono piyama yang sedikit terbuka dan memperlihatkan belahan dadanya dengan satu tanda kemerahan di sana.
Ayah Sekar menyilangkan kaki dan menyandarkan punggung di sandaran sofa sambil menatapnya dengan sesekali memijat kening dan pangkal hidung, kemudian menghela napas.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?" Ayah Sekar yang ia kenal dengan nama Pak Wira bertanya tanpa basa basi padanya.
"Baru satu bulan pak.." jawabnya singkat namun masih tetap sopan.
"Baru satu bulan? Terus kalian memutuskan mau menikah?"
Kepalanya mengangguk,
"Tapi biar Sekar selesai tugasnya jadi duta wisata dulu pak."
__ADS_1
Pak Wira menghela napas kembali,
"Sejauh apa kamu tahu tentang putri saya?"
Bibirnya tersenyum tipis,
"Sejauh saya tahu bahwa Sekar adalah putri bapak, bahkan sebelum Sekar memberi tahu saya siapa ayahnya."
Pak Wira menatap tajam ke arahnya,
"Saya minta, jangan kasih tahu Sekar tentang apa yang sudah terjadi."
"Selagi itu terbaik dan tidak menyakiti hati Sekar, saya akan coba jaga cerita itu. Tapi, saya orang yang memilik prinsip untuk selalu jujur dalam sebuah hubungan." jawabnya dengan tegas.
................
Wira Pradana
Ia tidak menyangka bahwa putrinya memiliki hubungan dengan Harsa Dewananda, keluarga besar Wangsa Putranto. Siapa yang tidak tahu mereka? Salah satu konglomerat di negeri ini yang memiliki berbagai macam bisnis papan atas.
Ia tidak mungkin bisa melarang Sekar untuk berhenti berhubungan dengan Harsa, bukan hanya karena ia ayah yang tidak bertanggungjawab, melainkan juga kisah masa lalunya.
Bahkan tadi Harsa dengan sangat yakin mengatakan bahwa lelaki itu adalah calon suami putrinya. Harsa memang terkesan tidak meminta restunya, namun kekasih putrinya itu juga tidak salah karena selama ini Sekar hidup sebatang kara.
Saat ini yang ia takutkan adalah keseriusan Harsa pada putrinya. Apakah Harsa benar-benar mencintai putrinya? Atau malah akan membalas dendam kejadian di masa lalu padanya, setelah lelaki itu tahu bahwa Sekar adalah putrinya?
Apalagi saat ia tahu bahwa mereka baru berpacaran selama satu bulan, namun sudah tidur bersama, bahkan ia sempat melihat bercak kemerahan di dada putrinya.
Apa yang sudah mereka lakukan? Apakah Harsa sudah melakukan hal itu kepada putrinya? Dan kalau sudah apakah putrinya akan ditinggalkan begitu saja? Mengingat keluarga besar Harsa termasuk orang yang bisa melakukan segala cara dengan mudah.
Namun Harsa terlihat sangat menyayangi Sekar, apalagi setelah ia tahu bahwa Sekar sudah tinggal di rumah orangtua Harsa.
Jujur, ada kebahagiaan tersendiri, tapi juga ada kekhawatiran yang menyelimuti hatinya saat ini. Bagaimanapun Sekar adalah putrinya, ia tidak mau terjadi hal buruk menimpa putrinya.
................
__ADS_1
Sekar
Setelah kepulangan ayahnya, ia merasa ada yang aneh dengan ayahnya dan juga Harsa saat bertemu.
"Mikirin apa sih?" Harsa sudah memeluknya dari belakang saat ia melamun saat mencuci piring.
Ia segera menyelesaikan cuciannya, lalu mengelap tangannya.
"Mas kenal sama ayah?" tanyanya sambil menatap mata Harsa, seakan mencari kejujuran.
Harsa tersenyum padanya,
"Kenapa tanya gitu?"
"Mas, aku itu tanya, kenapa tanya balik?" balasnya dengan wajah yang sudah ditekuk.
Tangan Harsa menyelipkan rambutnya ke belakang telinga,
"Sesama pengusaha pasti kan tahu yang."
Ia menyipitkan matanya,
"Yakin? Nggak bohong?"
"Iya." jawab Harsa singkat, lalu mengecup lehernya.
"Kok masih wangi sih?! Mandi yukk.." goda Harsa masih sibuk mengecupi dirinya.
"Mandi yukk..mandi yukk..! Mandi sendiri..!" timpalnya membuat Harsa terkekeh.
"Lha iya, maksudnya ayo mandi. Kamu mandi duluan, baru aku. Katanya mau pergi? Sekarang kalau gini, siapa pikirannya yang me sum?!"
Ucapan Harsa langsung membuatnya malu, sudah pasti wajahnya merah saat ini.
"Keseringan jalan sama kamu, ya jadi gini..!" elaknya sambil mendorong tubuh tegap kekasihnya, lalu berlari ke kamar mandi, meninggalkan Harsa yang masih tergelak di dapur.
__ADS_1
......................