Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Ada Yang Hilang


__ADS_3

4 Bulan Kemudian...


Sekar


Malam ini suasana ruang tengah terlihat begitu sunyi hanya ada suara keyboard miliknya. Ia memilih berkutat di depan laptop untuk menyelesaikan skripsinya, sedangkan Harsa tengah berada di ruangan kerja untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.


Ia merasa beruntung karena kehamilannya bukan termasuk kehamilan yang penuh drama. Walaupun sempat mengalami mual di awal-awal kehamilan, namun hal itu tidak berpengaruh apapun padanya.


Selama kehamilannya ia justru merasa semakin bersemangat melakukan apapun, ya walaupun di tengah jalan rasa kantuk yang melanda pasti lebih besar.


Matanya melihat Harsa keluar dari ruangan kerja dan menuju ke dalam kamar. Dengan sedikit terburu ia menutup buku-bukunya dan juga laptop nya, lalu berjalan menyusul suaminya.


Ia memilih menuju ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum menyusul suaminya ke atas tempat tidur. Setelah menggosok gigi, ia menatap pantulan dirinya di cermin. Bibirnya tersenyum menatap dirinya yang saat ini tengah memakai gaun tidur berbahan satin berwarna putih. Walaupun kehamilannya telah memasuki lima bulan, namun bentuk tubuhnya masih belum berubah. Hanya saja bagian depan dan belakang miliknya menjadi lebih berisi.


Entah kenapa malam ini ia merasa lebih bergairah daripada biasanya. Memang ada yang mengatakan, saat kehamilan wanita justru merasakan lebih bergairah dari biasanya.


Bibirnya kembali tersenyum saat melihat suaminya masih duduk bersandar di ranjang, sambil memainkan handphone. Ia merangkak naik dan duduk di samping Harsa.


"Udah selesai ngerjain skripsinya?" tanya Harsa tanpa mengalihkan tatapan dari benda pipih berwarna hitam itu.


Kepalanya menggeleng,

__ADS_1


"Belum, tapi besok lagi aja."


Ia mengubah posisinya menjadi berbaring dan tangannya merangkul tubuh suaminya. Entah kenapa ia sangat ingin manja dengan suaminya malam ini. Harsa ikut berbaring di sampingnya, namun masih sibuk dengan handphone itu.


Ia semakin mengeratkan dekapannya dengan sedikit sentuhan nakal di titik-titik sensitif suaminya. Ia menenggelamkan wajahnya di lekuk bahu Harsa dan membuang napasnya menyapu kulit Harsa. Tapi suaminya lagi-lagi tetap bergeming, membuatnya melirik layar handphone Harsa.


Suaminya lebih memilih menonton video daripada menanggapi keinginannya, namun ia masih bertahan seperti itu dengan waktu yang cukup lama hingga akhirnya Harsa menaruh benda pipih itu di atas nakas. Namun Harsa benar-benar mengabaikannya, suaminya itu mengubah posisinya menjadi tidur miring memunggungi dirinya.


Matanya menatap sendu dengan sikap Harsa. Sudah dari awal dirinya dinyatakan hamil oleh dokter, sikap hangat Harsa tentang hal 'itu' pun semakin lama semakin memudar. Suaminya itu sama sekali tidak pernah menyentuhnya, bahkan saat dirinya mempunyai inisiatif untuk memancing terlebih dahulu. Bahkan hanya sekedar dekapam dan ciuman pun tidak pernah ia rasakan lagi dari suaminya.


Perhatian Harsa saat ini hanya mengantar dirinya kemana pun ia pergi dan menuruti makan sesuai keinginannya.


Ia membalikkan tubuhnya memunggungi Harsa, air matanya lagi-lagi menetes. Bagaimanapun ia rindu kehangatan dan segala tingkah mesum suaminya. Jujur hal itu yang membuatnya mampu luluh dengan seorang Harsa.


Bibirnya tersenyum, manarik napas dalam-dalam dan membuangnya pelan mencoba untuk berpikir positif dan selalu bahagia.


"Semuanya baik-baik saja Sekar, kamu sudah pernah merasakan yang jauh lebih sakit daripada ini. Kamu pasti bisa melewati semua ini." semangatnya dalam hati sembari mengusap air matanya, lalu masuk ke alam tidurnya.


................


Sekar

__ADS_1


Pagi ini seperti biasanya ia berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Suaminya sudah keluar dari kamar dengan kemeja berwarna biru.


"Pagi mas.." sapanya sambil tersenyum yang diasambut senyuman dari Harsa, lalu suaminya itu duduk dan mengambil beberapa potong sandwich.


"Nanti jadwal ke dokter kan?" pertanyaan Harsa membuatnya yang sedang sibuk di dapur menoleh ke arah Harsa.


Kepalanya mengangguk,


"Iya, kalau mas sibuk nanti aku sendiri aja nggak apa-apa. Soalnya dapat antrean jam setengah lima, takutnya mas keburu-buru."


"Bisa kok, aku cuma rapat bentar. Nanti makan siang udah bisa balik. Terus nanti malam diajak ketemuan sama teman-teman aku, ikut ya?"


Tangannya yang sedang sibuk menuang susu seketika berhenti dan menatap Harsa sambil tersenyum.


"Iya..."


Untuk hal seperti ini, Harsa masih selalu sama, masih membutuhkannya untuk mendampingi dalam acara apapun. Tapi sejujurnya bukan hal ini saja yang ia inginkan, ia butuh kehangatan dari seorang suami. Apakah ia terlalu berlebihan? Apakah meminta pelukan dan sentuhan dari seorang suami adalah hal yang berlebihan bagi seorang wanita?


Tangannya menarik kursi dan duduk di hadapan suaminya. Matanya menatap lekat wajah Harsa yang selalu ia rindukan. Kemudian membuang pandangannya ke atas, agar air mata yanv berusaha ia tahan tidak jatuh.


Terkadang dirinya merasa ada yang hilang dan kosong, ia tinggal satu rumah dengan Harsa, tapi entah kenapa empat bulan ini terasa begitu jauh.

__ADS_1


......................


__ADS_2