Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Semua Untuk Kamu


__ADS_3

Bali,


Sekar


Setelah melewati siang yang panas dengan sebuah cumbuan yang panas, tapi ia masih membatasi untuk tidak memberikan puncak kenikmatan kepada suaminya.


Dirinya tahu Harsa akan mengajaknya ke suatu tempat. Ia ingin membuktikan terlebih dahulu ucapan Adit tadi pagi.


Setelah berjalan-jalan, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah lahan yang sangat besar. Mobil suaminya memasuki sebuah gerbang dan halaman yang sangat luas. Ada dua buah bangunan di sekitarnya, sebuah paviliun berwarna putih dengan aksen serba kayu yang ia yakini untuk rumah mereka nantinya. Di sebelah kanannya ada bangunan yang bergaya industrial yang mungkin nantinya akan menjadi kantor salah satu bisnis Harsa.


Bibirnya masih mengatup rapat, tak berbicara apapun menunggu suaminya terlebih dahulu.


"Kita udah sampai." ucap Harsa sambil tersenyum menatapnya.


Ia mengernyitkan dahi, berpura-pura tidak tahu tentang hal ini.


"Ini rumah siapa mas?"


"Turun dulu yukk.." suaminya memilih tersenyum dan tak menjawab pertanyaannya.


Mereka berdua berjalan menuju ke paviliun berwarna putih.


"Siang mas Harsa, siang mbak. Mau masuk? Tadi sudah saya bersihkan, cuma ya masih ada debu." sapa salah satu penjaga menghampiri mereka.


"Makasih pak. Ini Pak Amir, pegawainya kantor papa yang di sini." Harsa menjelaskannya karena ia baru pertama kali bertemu pak Amir.


Rumah dengan suasana yang sangat asri, sesuai dengan impiannya selama ini. Itulah yang ia rasakan saat memasuki gerbang depan hingga melangkahkan kaki di bagian dalam rumah itu.


Harsa memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagu di bahunya.


"Besok kamu aja yang belanja furniture nya ya, soalnya aku nggak tahu penginnya kamu gimana."


Matanya sedikit menoleh dan menatap wajah suaminya.


"Emang ini rumah siapa?"


Harsa mengecup pipinya,

__ADS_1


"Rumah kamu."


Kedua alisnya terangkat dan mengulum senyum, masih sambil menatap Harsa.


"Ini rumah kita sayang. Dan bangunan sebelah itu buat kantor, jadi kalau aku ngantor kan dekat. Tiga bulan lagi aku penginnya kita udah pindah ke sini."


Ia membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Harsa dan menatap lekat wajah suaminya.


"Mas kok nggak bilang kalau buat rumah di sini?" tanyanya sembari menyipitkan matanya. Pasalnya ia tidak menemukan kejanggalan dana di setiap rekening suaminya.


"Maaf.." hanya itu yang Harsa ucapkan padanya.


Kakinya kembali melangkah menyusuri setiap ruangan yang ada. Rumah yang hanya memiliki satu lantai, namun karena memiliki lahan yang sangat luas, sehingga setiap ruangan pun sangat luas menurutnya.


Harsa kembali memeluknya erat,


"Ini kamar kita, sebelah kamar anak-anak. Biar nggak pada ganggu." bisik suaminya.


Bibirnya mengulum senyum, kemudian mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


Harsa tersenyum menatapnya,


"Maaf ya, aku bangun ini dari uang aku yang masih dibawa papa. Emang biar kamu nggak tahu, niatnya kan memang bikin kejutan buat kamu."


Matanya mendelik ke arah Harsa dengan cemberut, namun sedetik kemudian tersenyum.


"Makasih mas." ucapnya kemudian mengecup pipi suaminya.


"Tapi lebih baik lain kali bilang mas sama aku, bukannya aku nggak suka kejutan. Soalnya pindah kota bukan suatu hal yang sepele, aku masih kerja juga lho mas."


Suaminya langsung terkekeh mendengar ucapannya, kemudian menarik pinggangnya.


"Kita kerja bareng di sana ya, kerja bareng ngurus start-up aku yang baru."


Bibirnya kembali mengerucut,


"Jadi aku mesti resign dong sama kerjaan aku yang sekarang?"

__ADS_1


Harsa menganggukan kepala dengan cepat,


"Kalau bisa hari ini resign sih bagus, lebih cepat lebih bagus. Biar cowok yang selama ini berusaha dekatin kamu juga tahu, kalau kamu istrinya siapa." ketus Harsa padanya, seketika membuat matanya membulat.


"Cowok siapa?!"


"Anak baru yang namanya sama kayak aku, Dewa !" jawaban Harsa membuatnya tertawa geli.


"Tiap hari aku pantengin cctv kantor kamu, cuma buat lihat tingkah buaya satu itu!" dengus Harsa kembali


"Tiap jemput kamu, rasanya pengin buka kaca mobil biar dia tahu kamu istri siapa!" dengus suaminya kesal dengan wajah yang sudah ditekuk.


Ia mengulum senyum, tangannya membelai lembut wajah tampan suaminya.


"Kan dia tahu aku udah punya suami, punya anak. Ya kali, suka sama istri orang. Gadis-gadis di kantor aja juga banyak."


"Terserah kalau nggak percaya..! Yang penting resign, kerja berdua sama aku." ucap Harsa sambil memalingkan wajah darinya, membuatnya semangat menggoda suaminya.


"Iya. Terus habis ini mau kerja berdua juga nggak?" bisiknya dengan nada menggoda.


Harsa tersenyum tipis menatapnya,


"Jangan nyoba bangunin singa tidur. Sayangnya di sini belum ada kasur atau sofa, kalau ada..udah habis kamu di sini." bisik Harsa menatap lekat wajahnya.


"My wild husband is back !" timpalnya masih dengan tatapan menggoda.


"Kita cari makan dulu sekarang, terus balik ke hotel." Harsa langsung merengkuh tangannya dan mengajaknya keluar dari rumah mereka.


Namun dengan cepat ia malah menahan lengan suaminya, lalu berjinjit dan mengecup bibir suaminya.


Niat awal yang semula hanya mengecup, semakin lama semakin menjadi. Namun, mereka sadar sedang berada di mana.


"Jangan harap kamu bisa jalan mulai malam ini." bisikan Harsa di telinganya seketika membuat kulitnya meremang dan wajahnya merona.


Membayangkan apa yang akan Harsa lakukan padanya setelah tahu isi yang ada di dalam paper bag yang ia buka tadi pagi.


......................

__ADS_1


__ADS_2