Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Mama Priska Adalah Segalanya


__ADS_3

Sekar,


tokk..tokk..tokk..


ceklek..


"Boleh mama masuk?" ia menyambut mama Priska yang berdiri di depan pintu kamarnya hanya dengan berbalut bathrobe.


"Boleh dong ma, tapi Sekar ganti baju dulu sebentar ya, habis mandi."


Setelah berganti dengan piyama, ia berjalan menghampiri mama Priska yang telah menyandarkan badan di sandaran ranjangnya.


"Kalian kemarin tidur di mana? Di apartemen?" pertanyaan mama Priska membuatnya menelan salivanya dan menganggukkan kepalanya.


"Belum diapa-apain Harsa kan kamu? Ngomong sama mama kalau Harsa udah berani buka segel kamu."


Ia cukup tertegun dengan ucapan mama Priska, tak sadar malah membuatnya mengulum senyum. Memang Harsa belum sampai membuka segelnya, namun modus lelaki itu sudah semakin menjadi. Bahkan hampir setiap inchi kulitnya saja sudah dijamah oleh kekasihnya itu.


Mama Priska berdecak dan mendengus pelan setelah melihat wajahnya.


"Pasti dia udah minta macam-macam."


Ia tertawa pelan,


"Mas Harsa tahu batas kok ma, tenang. Ngomong-ngomong ada apa ma? Mama mau tidur sama Sekar?" tanyanya karena mengingat calon papa mertuanya sedang ke luar kota.


"Boleh, kalau nggak diusir sama pacar kamu yang udah nggak pernah bisa tidur sendiri itu." sindir mamanya yang membuat mereka berdua terkekeh.


"Mas Harsa belum pulang ma, jadi nanti aku langsung bisa kunci pintu biar dia nggak masuk." gelaknya.


Pasti ada sesuatu penting yang akan dibicarakan oleh mama Priska kepadanya.


"Mama cuma mau minta maaf, bukan maksud kami menyembunyikan semuanya. Tapi mama cuma masih menunggu waktu untuk kasih tahu kamu. Seharusnya mama dengar ucapan Harsa saat itu."

__ADS_1


Ia hanya mampu diam mematung mendengar ucapan mama Priska, kemudian mengerutkan dahinya.


"Mama dikasih tahu mas Harsa tentang kejadian kemarin?"


Mama Priska mendekat ke arahnya, lalu merengkuhnya ke dalam dekapan. Dekapan seoarang mama yang sudah lama sekali tidak ia rasakan, malah membuatnya meneteskan air matanya.


"Maafin mama ya sayang, seharusnya mama dengarin Harsa. Malah mama jadi nyakitin kamu kalau gini." mama Priska mengelus rambut lurusnya.


Kepalanya langsung menggeleng,


"Nggak ma, mama nggak salah apa-apa. Tapi malah Sekar yang malu ma. Sekar malu karena kelakuan ayah Sekar yang.." seketika kalimatnya terpotong.


"Nggak boleh ngomong gitu, bagaimanapun itu ayah kamu. Dan semua itu kesalahan ayah kamu di masa lalu. Kamu juga nggak boleh malu, itu semua bukan salah kamu."


Kedua telapak tangan mama Priska menangkup wajahnya, membuat mata mereka saling berhadapan.


"Sayang, kita nggak bisa memilih lahir dan besar di keluarga, lingkungan, ataupun situasi seperti apa. Tapi ingat, kita bisa menentukan masa depan kita sendiri, asalkan kita mau. Ngerti?"


Kepalanya langsung mengangguk dengan wajah yang masih banjir dengan air mata. Mama Priska kembali memeluknya sambil mengelus rambutnya, terasa sangat menenangkan.


Penjelasan mama Priska kali ini cukup membuatnya terperanjat, ternyata keluarga besar Harsa telah mengerahui hal itu.


"Beneran ma? Keluarga besar udah tahu?" tanyanya berusaha meyakinkan diri bahwa ia tidak salah dengar.


Mama Priska hanya mengangguk dan tersenyum padanya. Sungguh ia merasa akan sangat canggung bila berhadapan kembali dengan keluarga besar Harsa, namun ia juga merasa bahagia dengan apa yang dikatakan mama Priska.


"Harsa sayang banget sama kamu dan mama juga bahagia banget ternyata Harsa nggak salah pilih perempuan buat jadi yang terakhir dan selamanya. Mama titip Harsa ya ke kamu, doa mama selalu buat kalian." senyum mama Priska terukir di wajah cantik wanita yang telah memasuki usia separuh abad.


Ia mendekap erat mama Priska, bahkan sangat erat seakan meluapkan semua apa yang ia rasakan.


"Makasih ma, makasih banyak ma. Sekar nggak tahu lagi harus bilang apa? Tanpa mas Harsa dan keluarga ini, Sekar nggak akan sebahagia ini ma." ungkapnya dengan sedikit terisak. Hanya itu yang bisa katakan untuk orangtua Harsa saat ini.


"Mama jangan bikin nangis calon istri aku dong ma." suara Harsa memecah keheningan kamarnya. Suasana kamar yang semula terasa sangat haru, berubah menjadi ramai.

__ADS_1


Ia masih bersandar pada bahu mama Priska sembari mengusap pipinya yang basah. Namun Harsa langsung menariknya cepat dan mendekapnya erat.


"Kamu nggak diapa-apain mama kan?"selidik kekasihnya dengan menyipitkan mata tajam itu.


Bisa-bisanya pertanyaan itu terlontar dari mulut Harsa, batinnya.


Mama Priska langsung menjewer telinga Harsa,


"Gitu kamu sama mama?! Tahu gitu mama jodohin Sekar sama cowok lain daripada sama kamu!" salak mama Priska yang langsung memulai perdebatan sengit antara ibu dan anak.


Tak terima dengan ucapan mama Priska, Harsa pun kembali menjawab.


"Iihhh mama..! Yang anak mama itu Sekar apa aku sih? Kok malah Sekar yang mau dijodohin sama orang?!"


Mama Priska mencibirkan bibir, bahkan mencebik ke arah Harsa.


"Baik baik ya kamu sama Sekar. Beruntung Sekar mau sama kamu. Kalau mama jadi Sekar sih ya pikir-pikir dulu." timpal mama Priska sambil beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke arah pintu.


"Lhoh ma?! Katanya mau tidur sama Sekar?" tanyanya karena siapa tahu calon mertuanya itu lupa.


Mama Priska melambaikam tangan ke arahnya,


"Nggak ahh..! Pacar kamu galak, takut diusir." ucap mama Priska sambil melenggang keluar dan menutup pintu kamarnya.


Namun tak lama, pintunya kembali terbuka dan kepala mama Priska kembali menyembul dari balik pintu.


"Sekar hati-hati ya sama Harsa, ingat yang mama katakan tadi." pintu kamarnya pun kembali tertutup.


Dirinya terkekeh yang membuat Harsa mengernyitkan wajah.


"Ngomongin apa sama mama tentang aku? Hmm?"


Ia mengulum senyum, melirik manja ke arah Harsa, lalu memilih menarik selimutnya untuk tidur.

__ADS_1


"Jawab atau nggak aku bikin kamu tidur nyenyak lagi semalaman ini?" Harsa sudah merangkak naik ke atas ranjangnya dan menggelitiki pinggangnya yang membuatnya langsung menggeliat menahan geli dan tertawa.


......................


__ADS_2