
Jakarta,
Sekar
Tangannya sibuk menata pakaian suaminya di koper. Harsa akan melakukan perjalanan bisnis ke Singapura selama tiga hari.
"Kamu tidur di rumah mama lho ya selama aku pergi." ucap suaminya sambil mengambil baju yang ada di tangannya.
"Udah biar aku aja.." ia memilih duduk di tepi ranjang sambil menatap suaminya yang menata sendiri semua keperluan yang akan dibawa.
Kemudian ia beranjak berdiri memeluk tubuh tegap suaminya dari belakang dan tentunya sudah mulai terhalang oleh perutnya sudah sangat membuncit di usia kandungannya yang menginjak tiga puluh delapan minggu.
Harsa berbalik, menatap wajahnya, kemudian mencium keningnya.
"Kalau butuh ke kampus, minta diantar sama sopir mama aja. Jangan nyetir sendiri."
Ia hanya menanggapi ucapan Harsa dengan menganggukkan kepalanya, dirinya akan menuruti apa yang dikatakan suaminya selama hal itu baik. Jujur saat ini yang ia rindukan hanya memeluk suaminya seperti ini.
Entah kenapa semenjak hubungannya dengan Harsa terasa hambar, hatinya menjadi semakin sering khawatir setiap suaminya itu melakukan perjalanan bisnis.
Namun dirinya bukan tipe wanita yang mampu meluapkan perasaannya, ia termasuk wanita yang memilih diam dan memendam yang ia rasakan. Tapi bukan berarti ia hanya diam dan tidak ingin tahu, melainkan ia hanya ingin diam dan melihat secara nyata terlebih dahulu, apakah yang ia rasakan benar atau hanya sekedar prasangka saja.
Tangannya mengelus wajah Harsa yang sudah terasa sangat lama tidak ia sentuh. Bibirnya mengecup lembut bibir yang dulu selalu membuatnya terbuai.
"Hati-hati ya, kalau udah sampai sana kabari ya." ucapnya lembut saat mengantar Harsa ke bandara. Walaupun kepergian Harsa ke Singapura hanya selama tiga hari, tapi terasa sangat lama baginya.
................
Sekar
Kakinya melangkah menuju dapur, mengambil setoples keripik jagung dan membawanya ke ruang tengah.
"Mikirin apa sih?" tiba-tiba mama Priska sudah duduk di sampingnya. Bibirnya mengulas senyum tipis, kepalanya pun menggeleng.
"Tenang aja, di sini kan ada mama. Lagian Harsa juga cuma ke Singapura tiga hari." mama Priska mencoba menenangkannya dan pastinya menerka-nerka apa yang ia pikirkan.
Wajahnya kembali tersenyum, kali ini lebih lebar.
"Ma.." mama Priska kembali menoleh menatap wajahnya dan menaikkan satu alis.
__ADS_1
Ia melipat bibirnya, kemudian menggigit bibir bawahnya. Menimbang-nimbang apakah ia benar-benar akan bertanya atau tidak.
"Apa? Mau tanya apa?" mama Priska sampai menutup majalah yang dibaca demi mendengarkan pertanyaannya yang tak kunjung keluar dari mulutnya.
Ia menghela napasnya sebelum memutuskan benar-benar bertanya.
"Ehmm, dulu selama mama hamil, masih sering berhubungan nggak ma.." tanyanya sungkan sambil kembali melipat bibirnya.
Mama Priska tersenyum dan menahan tawa,
"Iya lah, papa mana kuat suruh puasa lama-lama. Dari awal hamil sampai mau lahir masih rutin, malah mau lahiran lebih rutin lagi. Kenapa? Harsa minta terus?"
Jawaban yang seharusnya membuat tertawa, namun malah terasa sakit baginya. Bibirnya kembali tersenyum dan menampilkan wajah paling bahagia di depan mamanya. Bahkan ia mencoba tertawa kecil. Bersandiwara bahagia bukanlah hal yang baru baginya.
"Kalau mau lahiran emang kalau bisa rutin, asal hati-hati aja. Bilang sama Harsa pelan-pelan jangan brutal." bisik mama Priska yang membuat wajahnya kembali tersenyum.
"Tapi teman Sekar ada lho ma, nggak ngelakuin sama sekali selama hamil. Padahal kehamilannya sehat-sehat aja nggak ada kelainan." pancingnya.
Mama Priska mengerutkan kening seakan memikirkan sesuatu hal.
"Ada sih emang, ada yang takut nyakitin istri sama anaknya. Ada yang emang nggak mau ngelakuin itu, tapi tetap minta dibantuin. Tapi ya ada juga yang jadi nggak nafsu. Beda-beda sih orang ya, tapi kalau papa dulu sih nggak ada perubahan tetap ganas."
"Iya sih ya ma, emang beda-beda." pungkasnya sambil tertawa kecil, entah tertawa untuk apa. Tertawa untuk dirinya sendiri, mungkin itu salah satunya.
................
Mama Priska
Pagi ini seperti biasanya ia menyiapkan sarapan di dapur dengan satu asistennya.
"Mama....aaakkhhh...!"
Teriakan dan jeritan dari lantai atas membuatna langsung menghentikan aktivitasnya. Ia langsung mematikan kompor dan berlari ke atas dengan tergopoh-gopoh. Beruntung Sekar tidak mengunci kamar, memang ia selalu mengingatkan menantunya itu untuk tidak mengunci pintu kamar selama hamil besar ini.
Matanya menyapu selalu seluruh kamar tidak menemukan Sekar, kakinya berjalan cepat menuju kamar mandi. Benar, menantunya itu tengah terduduk di lantai kamar mandi dengan celana yang sudah basah.
"Kamu kenapa? Jatuh?" tanyanya panik, tak lama suaminya pun masuk ke kamar Harsa.
Sekar menggelengkan kepala dengan wajah yang ketakutan.
__ADS_1
"Ma, ketubanku kelihatannya udah pecah. Aku tadi mau buang air kecil, tapi nggak berhenti-henyi keluar airnya."
Dengan sigap suaminya langsung menggendong Sekar dan membawa ke atas tempat tidur.
"Diam dulu, jangan banyak gerak!" titah suaminya ke menantunya.
Matanya kembali menyapu seluruh sudut kamar itu,
"Itu tas persiapan melahirkan?" Sekar menganggukkan kepala.
Ia membuka dan mengambil satu ****** ***** serta pembalut pasca melahirkan.
"Kamu mau pakai sendiri atau mama bantu?" tanyanya ke menantunya. Suaminya yang paham hal itu langsung keluar kamar dan menutupnya.
"Sekar pakai sendiri aja ma, tapi minta tolong selimutnya ya ma."
Walaupun dengan sedikit kesusahan Sekar berusaha sendiri.
"Makasih ma."
"Kamu diam dulu di sini ya. Papa baru siapin kursi roda, nanti kamu harus di kursi roda, kita turun pakai lift aja."
Sekar
Sudah sepuluh kali lebih, sejak dari rumah hingga sampai di rumah sakit ia mencoba menghubungi Harsa. Namun sama sekali tidak diangkat oleh suaminya, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk mengirim pesan.
Mas, aku tiba-tiba pecah ketuban. Ini aku di rumah sakit.
Hanya itu yang ia sampaikan ke Harsa, sambil menunggu kedatangan bidan untuk memeriksanya.
"Belum ada pembukaan sama sekali ya bu ini. Kita tunggu dokternya dulu ya bu, beliau masih ada operasi. Yang penting jangan banyak gerak dulu, nanti rembes lagi." ucap bidan itu kepadanya dan ke mama Priska yang sedari tadi menemaninya.
"Mama bawa makanan sama minuman. Kamu mau? Isi tenaga dulu, selagi belum kontraksi, kamu harus tenang. Jangan maksa lahiran normal, kalau memang nggak bisa ya diterima aja. Nurut sama dokter aja ya." ucap mama Priska sambil mengelus perutnya yang disambut anggukan kepalanya.
"Harsa masih belum bisa dihubungi?" kepalanya kali ini menggeleng dengan tatapan sendu.
"Nggak apa-apa, ada mama sama papa. Kamu tenang aja, istirahat dulu. Nanti biar papa yang hubungi Harsa." bibirnya tersenyum tipis, ia merasa sangat beruntung memiliki mertua yang sangat baik dan sayang padanya.
......................
__ADS_1