
Jakarta,
Sekar
Badannya terasa sangat lemas, ia berjalan gontai keluar dari kamar mandi lalu duduk di pangkuan suaminya yang tengah sibuk di meja kerja.
Tangannya merangkul leher Harsa dan menenggelamkan wajah di pundak suaminya itu.
"Hei, kenapa?" Harsa yang sibuk dengan laptop nya langsung berhenti, bingung melihat tingkahnya yang mendadak manja seperti anak kecil yang duduk di pangkuan seorang ayah. Bukannya menjawab, ia malah memilih lebih erat memeluk tubuh kekar suaminya.
Harsa sedikit memundurkan wajah untuk berusaha menatapnya.
"Kamu kenapa? Kok pucat? Sakit?"
Kepalanya hanya menggeleng, tangannya menyerahkan sesuatu di genggaman Harsa. Ia mengubah posisinya demi melihat wajah suaminya saat ini.
Wajah Harsa yang bermula mengernyit, sekarang mata itu tampak membulat.
"Kamu hamil?!" teriak Harsa sambil menatap wajahnya yang mengulum senyum malu-malu.
Ia mengangkat bahunya masih dengan wajah yang malu-malu. Harsa bergantian yang memeluknya erat, bahkan sangat erat.
"Makasih sayang." Harsa memeluknya erat dan menghujaninya dengan kecupan-kecupan kecil.
"Udah telat seminggu kan ya kamu? Kok nggak bilang-bilang aku kalau mau beli test pack?"
Matanya melirik suaminya dengan pandangan merengut.
"Mas kan sibuk, lagian mau beli test pack aja emang harus laporan?"
Harsa malah terkekeh mendengar jawabannya,
"Yaudah, kita periksa ke dokter buat mastiin iya apa nggaknya dan bagaimana keadaannya. Oke?"
"Iya..." jawabnya masih dengan wajah yang merengut.
"Kok gitu mukanya? Nggak seneng hamil?" Harsa mengernyit kembali menatapnya.
"Skripsiku belum selesai mas. Bukannya nggak seneng, tapi aku bingung mikirin skripsi sambil hamil. Mas sih, nggak pernah mau pakai pengaman." rengeknya dengan wajah yang menunduk dan masih merengut.
Harsa membelai rambutnya,
"Bentar lagi kan juga kelar skripsinya. Bisa, kamu bisa!"
Ia semakin bergelayut manja di pangkuan suaminya, entah kenapa hari ini ia sangat menyukai aroma tubuh Harsa sejak bangun tidur.
__ADS_1
"Lagian nggak enak kalau pakai pengaman." bisik Harsa ke telinganya, sontak membuat matanya mendelik ke arah suami tampannya itu.
Harsa
Bukan pengalaman pertama baginya mengantar seseorang ke dokter kandungan. Bukan mengantar perempuan lain, tapi dulu ia pernah menemani mamanya periksa ke dokter kandungan saat ia masih SMA. Saat itu ia sangat bahagia akan memiliki seorang adik lagi, walaupun usia mereka pasti sangat jauh. Namun apa daya, mamanya jatuh terpeleset di saat usia kandungan itu menginjak 4 bulan dan berakhir harus kehilangan adiknya itu.
Dan saat ini ia kembali duduk di bangku antrean, bukan lagi sebagai seorang kakak yang menginginkan adik. Melainkan seorang laki-laki yang menginginkan panggilan baru baginya, Papa.
Ya, sebentar lagi akan ada yang memanggilnya papa.
Bibirnya tersenyum sepanjang hari setelah mengetahui istrinya hamil.
"Mas iihhh.. senyam senyum terus. Sehat?" Sekar menaikkan satu alis menatapnya.
Ia malah menjawab dengan senyuman yang semakin lebar.
"Bentar lagi ada yang mau panggil aku papa Harsa." jawabnya membuat Sekar tertawa kecil.
"Mas suka banget ya sama anak kecil?" pertanyaan Sekar semakin membuatnya tersenyum lebar.
"Iya dong, sampai cari istri aja juga yang masih kecil." godanya, sukses membuat Sekar menatap tajam ke arahnya dan semakin membuatnya tergelak.
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya mereka masuk ke ruangan dokter Andreas. Beliau dokter kandungan senior yang sudah sering dipakai di keluarga besar Harsa.
"Waahh, pengantin baru akhirnya datang ke sini juga." sapa dokter Andreas saat mereka memasuki ruangan.
"Halo om, sehat om? Iya ini, akhirnya dapat giliran masuk ke ruangan ini." sapanya balik, ia memang lebih akrab dengan sapaan itu.
Setelah membaca sekilas data yang telah ditulis perawat di depan, akhirnya Sekar diminta untuk langsung naik ke atas bed pemeriksaan.
Matanya menatap perut istrinya yang mulai dibuka dan diolesi gel, lalu beralih menatap layar yang ada di depan saat dokter Andreas mulai memutar-mutar alat usg.
"Ini kantung janinnya, bagus." ia melihat apa yang disebut dokter Andreas.
"Yang titik ini, janinnya." ia melihat sebuah titik kecil di kantung itu dengan tersenyum.
"Belum ada detak jantungnya sih ini, soalnya masih 5 minggu. Tapi udah bagus, udah kelihatan janinnya." ucap dokter Andreas sembari menghentikan aktivitas itu.
"Bagus..bagus.. selamat ya Harsa Sekar. Tok cer juga nihh kalian ! Langsung tanpa jeda !" seloroh dokter Andreas ke arah mereka.
Dokter Andreas merangkulnya berjalan menuju kembali ke meja periksa, sedangkan istrinya masih dibersihkan perutnya oleh perawat.
"Tok cer karena rajin bikinnya sih om." gelaknya.
"Lhah, harus itu !"
__ADS_1
Sekar sudah kembali duduk di sampingnya dengan tersenyum tipis.
"Sekar, semuanya bagus. Usianya 5 minggu. Ada mual nggak?" pertanyaan dokter Andreas dijawab gelengan kepala oleh Sekar.
"Oke, semoga aja tidak. Tapi ini saya resepkan sekalian obat anti mual, jaga-jaga kalau sampai ada mual parah baru diminum aja."
"Terus tidak ada yang perlu dipantang, makan semuanya selama batas wajar. Olahraga dan beraktivitas boleh tapi jangan yang berat-berat, karena masih awal hamil." jelas dokter Andreas pada istrinya yang terlihat sangat serius mendengarkan.
Dokter Andreas beralih menatapnya,
"Kalau olahraga yang itu juga masih boleh, tapi jangan digempur terus-terusan dan pelan-pelan, yang lembut ya Harsa." ucapan dokter Andreas membuatnya tergelak, sedangkan wajah Sekar sudah berubah merona karena malu.
Setelah selesai memeriksakan kandungan, mereka berdua memutuskan ke rumah mama untuk membawa kabar bahagia ini.
Sepanjang jalan ia menebar senyum kepada siapapun yang berpapasan dengan dirinya. Entah kenapa, saat ini merasa bahagia sebagai laki-laki. Tak disangka ia berhasil membuat seorang anak dari benihnya yang selalu ia tanam di rahim Sekar.
"Mas? Sehat?" lirikan Sekar hanya ia balas dengan senyuman. Tangannya mengelus perut Sekar yang masih sangat rata.
"Anak papa mau makan apa? Bilang ya sama papa." ucapnya yang malah membuat wajah Sekar kembali merona.
Sekar
Ia ikut bahagia saat melihat suaminya sangat bahagia dengan kehamilannya.
"Wahh..ini yang ditunggu-tungu. Gimana?" mata mama Priska sangat berbinar menatapnya.
Kepalanya mengangguk dan mengulum senyum, lalu mama Priska mendekapnya erat.
"Waahh, selamat sayang. Makasih ya sayang." ucapan mama Priska membuatnya terharu, ia merasa sangat beruntung masuk di keluarga ini.
"Ayo makan dulu, cucu mama nggak boleh kelaparan. Masih doyan makan kan kamu? Malan yang banyak." mama Priska menggandeng tangannya menuju ke ruang makan.
"Selamatnya buat Sekar aja nih? Yang berjuang menanam nggak diselamatin?" sindir suaminya ke mertuanya.
Mama Priska melirik Harsa sambil mengulum senyum,
"Menanam kalau lahannya nggak subur kan juga nggak bakalan jadi." jawaban mama Priska membuat Harsa mendengus pelan.
"Selamat ya mas, akhirnya kamu mau jadi papa. Nggak usah banyak bertingkah, udah jadi orangtua." mama Priska memeluk Harsa dan mengecup pipi Harsa yang membuatnya tersenyum geli.
......................
Mohon maaf, lama banget up nya karena habis sakit dan ngerawat keluarga yang juga pada sakit.
Oh iya habis ini bakal ada konflik. Jadi maap ya, agak menguras emosi sedikit.
__ADS_1
Semangat ! Sehat selalu buat kita.
......................