
Harsa
Setelah video call dengan putra mereka yang terlihat semakin menggemaskan, ia kembali menaruh handphone nya, sedangkan Sekar masih ada di pangkuannya. Ya, sejak tadi istrinya itu memilih duduk di pangkuannya.
"Kamu mau gini terus posisinya?" tanyanya dengan tangan yang masih melingkar di pinggang istrinya.
Sekar menatap wajahnya,
"Emang kenapa kalau aku gini terus? Mas nggak suka?" tanya istrinya dengan nada yang masih terdengar ketus.
Bibirnya kembali tersenyum,
"Nggak apa-apa sih, cuma kayak gini terus? Nggak pengin lebih?"
Sekar yang tadi membuang muka darinya, kini meliriknya.
"Nggak kerasa ada yang on?" imbuhnya sambil mengulum senyum.
Istrinya yang masih duduk di pangkuannya masih memilih diam.
"Yaudah, kalau gitu aku selesain sendiri." godanya dan langsung membuat Sekar kembali menatapnya dengan tajam.
"Mas?!" kedua alisnya terangkat saat mendengar bentakan kesal istrinya.
"Mas itu kenapa sih?! Mas itu sebenarnya selama ini kenapa?!" Sekar yang sama sekali tidak pernah berteriak, kini membentak dirinya dengan wajah yang kesal dan mata yang mulai berembun.
Dirinya masih memilih diam dan membiarkan istrinya mengeluarkan semua perasaan yang dipendam karena sikapnya.
"Mas itu masih normal kan? Atau mas selama ini selingkuh sama perempuan lain?" pertanyaan demi pertanyaan keluar dari bibir istrinya.
Kemudian suasana kembali hening cukup lama.
"Kenapa mas diam aja?" Sekar kembali menatap tajam matanya.
"Udah? Ada lagi yang kamu tanyain?" jawabnya tenang tanpa tersulut emosi sedikit pun.
__ADS_1
Ia menghela napasnya, tanganya menyelipkan rambut lurus Sekar ke belakang telinga.
"Aku jawab jujur, kamu percaya sama aku atau nggak itu hak kamu."
"Semenjak kamu hamil, jujur aku takut. Aku takut kalau sampai kamu kenapa-kenapa, karena aku punya trauma pas mama keguguran. Dulu mama bilang sama dokter kalau sebelumnya mereka habis berhubungan. Walaupun sebenarnya ternyata itu bukan alasan mama keguguran, tapi itu bikin aku takut. Aku nggak mau kehilangan anak kita, cuma karena nafsuku."
Sekar menatapnya dan terlihat mencerna semua ucapannya.
"Kalau kamu tanya apakah aku masih normal ?" ia tertawa pelan sembari mengusap lembut wajah Sekar.
"Masih dong sayang..! Tiap kamu berusaha ngerayu aku, bukannya aku nggak on, tapi aku berusaha menghindar karena aku takut nggak bisa ngerem. Makanya aku lebih milih tidur nggak menghadap ke kamu, itu buat ngeredam aku sendiri. Sekali aku nyentuh kamu, aku sadar nggak bisa berhenti di tengah jalan." jelasnya sambil menatap mata indah istrinya.
Sekar tertegun menatap dirinya,
"Mas kan bisa minta aku dengan cara lain pas aku hamil. Terus kenapa setelah lahiran mas juga nggak pernah minta?"
Jarinya merengkuh jari lentik istrinya,
"Iya, aku sadar itu lah kesalahan aku. Seharusnya aku lebih milih minta sama kamu daripada self service. Cuma aku sama sekali nggak pernah minta sama cewek lain. Ya, pikiranku seperti jaman aku masih jomblo aja, semuanya sendiri."
"Terus setelah lahiran, kamu tahu sendiri kan kita baru ngelakuin setelah Andra 5 bulan. Itu karena apa? Karena aku termasuk lelaki yang trauma menemani istri melahirkan."
"Haa..? Trauma..?"
Kepalanya mengangguk,
"Aku udah sampai konsul ke psikolog tanpa kamu ketahui, kalau kamu mau tahu rekam medisnya nanti aku kasih tahu, aku simpan di kantor. Aku berusaha nyembuhin trauma itu, pelan-pelan dan akhirnya bisa cuma belum terlalu pulih. Mentalku termasuk belum siap ngelihat kamu kesakitan saat melahirkan."
"Aku ngerasa nggak berdaya saat kamu kesakitan ngeluarin anak kita. Kadang aku jadi ngerasa bersalah bikin kamu hamil.." ucapnya tercekat.
Sekar mengelus wajahnya,
"Kenapa mas baru cerita sekarang? Kenapa mas bikin pikiranku kemana-mana dan ngerasa nggak dicintai lagi?"
Bibirnya mengecup bibir istrinya,
__ADS_1
"Maaf..."
"Tapi mas masih cinta nggak sama aku?" pertanyaan Sekar membuatnya tergelak.
"Masih sayang..masih sama seperti dulu, nggak berubah. Bahkan semakin bertambah semenjak ada Andra dalam kehidupan kita." ucapnya tulus.
Namun Sekar malah mencibir ke arahnya.
"Gombal..! Bertambah tapi dingin ke istri..?!" ketus Sekar yang malah membuatnya terkekeh.
Bibirnya mengecup pundak istrinya,
"Maaf ya sayang, apalagi buat kemarin. Bukannya aku nggak ingat anniversary kita, tapi kemarin Kairav juga ngajak meeting sesuatu hal. Rencananya malam setelah aku ketemu sama anak-anak, baru kita kencan. Tapi kamu keburu marah.."
"Bohong..! Gombal..!" istrinya kembali melontarkan kata-kata kesal.
"Hei..! Kamu nggak sadar kenapa aku booking kamar segede ini? Kamu juga belum buka paper bag yang ada di sana kan?" tunjuknya ke arah meja yang berada di ujung ruangan itu.
Sekar mengernyit dan menoleh ke arah dimana ia tunjuk.
"Itu apa?"
"Sana ambil..!" Sekar beranjak dari pangkuannya dan mengambil paper bag berwarna hitam itu, kemudian kembali berjalan ke arahnya.
"Buka dong..!" pintanya sembari menyandarkan punggung ke sofa dan mengulum senyum penuh makna.
Mata istrinya kembali membulat dengan wajah yang sudah merona.
"Mas?!"
Dengan tiba-tiba, Sekar mendudukan diri di pangkuannya dan menghadap ke arahnya. Tangan Sekar melingkar di lehernya. Tingkah istrinya membuatnya tertawa.
"Mumpung nggak ada Andra yang tidur di tengah-tengah kasur. Aku udah nahan lama, tiap pengin, Andra mesti kebangun terus tidur di tengah, kalau nggak ya kamu yang ketiduran. Yaudah, langsung meredup." bisiknya tepat di depan bibir istrinya.
Mereka kembali menyatukan wajah mereka, kali ini semakin memanas.
__ADS_1
"Mau sekarang?" bisiknya dengan napas yang masih memburu dan menatap bagian atas istrinya yang sudah polos oleh tangan nakalnya. Sekar menatapnya sayu sembari menggigit bibir bawah yang terlihat basah.
......................