
8 Bulan Kemudian..
Sekar
Mas Harsa ❤
Mau pilih yang mana?
Matanya membulat saat melihat gambar yang dikirimkan Harsa. Semburat merah di wajahnya saat ini pasti sudah tidak tahu malu keluar begitu saja menghiasi wajahnya.
Tak lama handphone nya kembali berdering menunjukkan adanya panggilan dari Harsa.
"Lama banget sih balesnya" omel Harsa di seberang sana, padahal baru beberapa menit yang lalu pesan itu muncul.
"Ini baru mau dibales lho.."
"Semuanya aja ya dibeli biar bisa buat ganti tiap hari."
Ia menelan salivanya dengan susah payah. Buat ganti tiap hari? Jadi setiap hari, setelah menikah dirinya harus menggunakan pakaian dinas malamnya itu tiap hari?
Dirinya bergidik ngeri membayangkan hal itu. Sudah dipastikan setelah ia sah menyandang gelar sebagai Nyonya Harsa, tidur malamnya akan selalu terganggu.
"Iya, terserah mas aja." itulah jawaban yang keluar dari mulutnya, memang mau apalagi selain pasrah.
"Istri pintar, udah nggak sabar lihat kamu pakai itu." goda Harsa sambil tertawa pelan. Untung saja kali ini bukan video call, jadi Harsa tidak bisa melihat wajahnya yang pasti sudah berubah merah.
"Jadi pergi sama mama kan? Nanti ketemu di coffee shop ya yang."
"Iya jadi, ini udah siap. Iya mas, berarti ini aku perginya diantar sopir aja ya, nggak usah nyetir sendiri?"
"Iya, nanti langsung turun coffee shop. Hati-hato ya sayang, minta sama mama yang mahal-mahal. Kuras aja uangnya." ucap Harsa sambil tergelak yang membuatnya juga ikut terkekeh.
__ADS_1
Saat ini ia dan juga mama Priska sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Memang ia hanya pergi berdua saja dengan calon mertuanya saat ini.
"Nanti kamu pilih sendiri yang kamu suka ya. Mama kan nggak tahu selera kamu seperti apa?" ucap mama Priska dengan santainya, sangat berbeda dengan dirinya yang malah gugup saat memasuki toko berlian ternama itu.
Tampak seorang lelaki menyambut kedatangan mereka saat mulai masuk ke toko itu.
"Waahhh, selamat siang Bu Priska. Ada yang bisa dibantu?"
Mereka tampak akrab, pasti mama adalah salah satu pelanggan setia di tempat ini, batinnya.
"Halo, ada dong ! Keluarin semua koleksi kamu yang satu set, nanti biar anak aku yang pilih sendiri. Pokoknya yang bagus ya ! Nggak mau yang biasa-biasa aja." titah mama Priska ke lelaki itu sembari duduk di kursi depan etalase.
Tak butuh waktu lama, ada sekitar 10 set perhiasan dengan model berbeda ada di depan matanya saat ini.
Ia kembali menelan salivanya, lalu melirik mama Priska yang tengah menatapnya.
"Udah ayo pilih, kamu suka yang mana?" senyuman mama Priska yang terlihat sangat tidak ada beban untuk menyuruhnya memilih perhiasan dengan harga yang fantastis menurutnya, membuatnya semakin tertegun.
"Mau yang itu?" kepalanya mengangguk pelan, jujur ia takut kalau yang dipilihnya adalah harga yang paling mahal.
"Anak aku mau yang ini."
Lelaki itu kemudian menatapnya, seakan meneliti dari atas hingga bawah.
"Dia calon istrinya Harsa. Mau nikah dua minggu lagi, nanti aku kasih undangannya ya." sahut mama Priska yang seakan tahu makna dari tatapan itu.
"Oalah, calon istrinya Harsa, pantas cantik banget. Yaudah, aku siapin dulu ya ini bu."
Setelah menunggu beberapa menit, lelaki itu kembali datang dengan selembar kertas yang pastinya itu adalah nota pembelian.
"Ini bu, satu set perhiasan dengan kode seri ini. Totalnya tiga ratus lima puluh delapan juta, enam ratu ribu rupiah."
__ADS_1
Matanya sontak membulat sempurna saat mendengar deretan angka yang diucapkan oleh lelaki itu.
Mama Priska menyerahkan kartu atm berwarna hitam ke lelaki itu seakan tanpa beban, padahal ia yang melihatnya saja sudah pening rasanya.
"Tunggu dulu ya bu, saya ambilkan mesinnya dulu ke sini."
Tangannya langsung menggenggam tangan mertuanya, membuat mama Priska menatap bingung ke arahnya.
"Mama, mahal banget. Kalau nggak jadi aja gimana ma?" bisiknya agar terdengar oleh pegawai di sana.
Mama Priska menatapnya dengan setengah tertegun, kemudian tertawa kecil.
"Apa sih kamu? Nanti mama jelasin di luar."
Akhirnya mereka keluar juga dari tempat paling horor baginya, tempat yang mampu menguji adrenalinnya. Walaupun saat ini ia sudah memegang keuangan pribadi Harsa dengan deretan angka yang fantastis dan beberapa aset Harsa yang harganya juga tak kalah fantastis. Namun baginya harga perhiasan itu masih membuat kepalanya pening.
Mungkin memang saat ini ia harus mulai terbiasa dengan deretan angka yang fantastis itu dalam hidupnya. Apa seperti ini rasanya menjadi orang kaya yang selalu membeli barang tanpa menilik berapa harganya terlebih dahulu?
"Tradisi di keluarga kami memang gitu Sekar, menyuruh calon menantu wanita untuk memilih sendiri barang sesuai keinginannya."
Sesuai keinginannya? Ini bukan keinginannya, mama Priska yang memaksanya masuk ke tempat horor itu. Kalau keinginannya sendiri sih, di toko emas biasa sudah cukup, batinnya.
"Ma, tapi itu mahal banget. Barang-barang yang dari mama buat Sekar dari kemarin itu kalau di total udah hampir 500 juta lho ma. Belum yang dari mas Harsa. Pusing aku ma kalau lihat harganya." jujurnya yang semakin membuat mama Priska tertawa.
"Iiihh..mama malah ketawa.." gerutunya melirik ke mama Priska.
"Baru kamu lho yang gini, calon-calonnya sepupu-sepupu Harsa malah antusias banget kalau diajak belanja yang mahal-mahal. Kamu malah manyun gitu." jelas mama Priska.
"Kamu nggak ingat, kamu sekarang kan jadi anaknya Tuan Abinawa? Kamu dua minggu lagi sah jadi istrinya Harsa Dewananda lho, kamu udah mulai harus terbiasa dengan gaya hidup Harsa kalau di luaran sana. Walaupun kenyataannya ya kamu tahu sendiri, kita makan di warung emperan aja juga bisa." sambung mama Priska lalu kembali menikmati makan siang mereka.
Ia hanya mampu menghela napasnya, bukankah seharusnya ia bahagia sebagai wanita karena bisa membeli apa saja tanpa memandang harga? Tapi kenyataannya, ia malah masih harus beradaptasi padahal dirinya sudah tinggal bersama keluarga Harsa selama hampir setahun.
__ADS_1
......................