
Yogyakarta
Sekar
Mandi di bawah guyuran shower pada jam dua dini hari adalah hal baru baginya. Ia kira Harsa akan benar-benar 'memakannya' malam ini. Ternyata lelakinya itu hanya menciumnya, lalu menyuruhnya untuk mandi dengan air hangat sebelum tidur.
Sungguh, otaknya saat ini sudah tercemar dengan hal-hal me sum seperti kekasihnya. Apalagi saat Harsa mencumbunya dengan sangat panas, terkadang membuat dirinya hilang akal, bahkan selalu hampir hilang kendali.
Setidaknya mandi dengan air hangat sesuai perintah Harsa membuat badannya lebih segar dan juga membuat otaknya lebih bersih.
"Udah? Enak kan?" kekasihnya itu tengah menatap dirinya yang telah keluar dari kamar mandi dengan berbalut bathrobe berwarna putih.
Bibirnya tersenyum dan mengangguk, kemudian gantian Harsa yang ingin menyegarkan diri dari efek alkohol yang telah mereka konsumsi.
Namun kekasihnya itu lagi-lagi menggodanya dengan mengecup bibirnya sekilas sebelum masuk ke kamar mandi.
"Nggak mau mandi bareng sih, pasti lebih enak, lebih segar." gumam Harsa yang langsung mendapatkan lirikan tajam darinya.
Saat ini mereka berdua telah berbaring di atas ranjang dengan posisi saling memeluk. Dengan posisi seperti ini, ia dapat melihat secara dekat wajah tampan Harsa.
Sampai sekarang terkadang masih terasa seperti mimpi baginya berpacaran dengan seorang Harsa Dewananda, apalagi tidur di satu ranjang yang sama seperti ini, saling memeluk.
"Kamu kok ganteng banget sih mas.." jujurnya dengan tangan yang sibuk membelai wajah tampan yang digandrungi banyak perempuan di luar sana.
Harsa malah tertawa geli mendengar pujian yang ia lontarkan.
"Kamu mau minta apa? Kok tiba-tiba bilang gitu.."
Dahinya langsung mengernyit,
"Kok gitu?"
"Kamu minta dicium? Apa minta diapain?" Harsa kembali menarik pinggangnya sehingga tubuh mereka saling merapat tak ada celah.
"Aku minta mas nggak macam-macam, nggak main di belakang aku. Nggak genit sama cewek-cewek. Ngg...."
Belum selesai ia berbicara, Harsa sudah mengecup bibirnya berkali-kali. Tangannya langsung mendorong wajah kekasihnya itu.
"Aku masih ngomong mas.."
Harsa mengulum senyum,
"Iya aku udah tahu. Tapi kalau mereka yang genit sama aku, aku harus gimana?"
"Ya mas nggak boleh ngeladenin mereka." sahutnya cepat.
"Iya Sekar ku tercinta.."
Harsa kembali menikmati bibirnya, sepertinya bibirnya terlalu candu untuk kekasihnya ini.
"Mas itu pernah pacaran sama mbak Arsya? Atau cinta tak berbalas?" ejeknya, sekaligus ingin tahu seberapa jauh hubungan mereka dulu.
__ADS_1
Harsa mengendurkan pelukan, lalu terkekeh.
"Nggak tahu aku dulu sama Arsya gimana. Dibilang nggak pacaran, tapi dekat banget udah kayak orang pacaran. Dibilang pacaran, tapi aku belum pernah sama sekali pegang ataupun cium dia."
"Ahh..yang bener....?!" godanya, karena ia tidak yakin dengan ucapan Harsa.
Harsa meliriknya,
"Serius..! Ya kalau sekedar peluk sama cium pipi ya pernah, tapi itu hanya sebatas karena menyapa saat ketemu, bukan karena romantis."
"Me sum kali..bukan romantis..!" salaknya langsung membuat Harsa tergelak.
"Mbak Arsya tipe mas banget ya kelihatannya?" selidiknya lagi, jujur bukan karena cemburu melainkan hanya ingin tahu.
Harsa langsung menatapnya dengan lekat,
"Kamu cemburu sama Arsya?"
Ia malah terkejut dengan pertanyaan Harsa, apakah ia kelihatan seperti orang cemburu?
"Nggak mas, nggak sama sekali. Aku malah suka sama mbak Arsya, walaupun aku tahu mas kelihatannya dulu suka banget sama dia. Tapi nih kalau dari penerawanganku, kelihatannya mas yang nggak benar deh sama mbak Arsya." ucapnya jujur tanpa basa -basi.
Harsa mengusap kepalanya dengan gemas,
"Iya, aku dulu yang salah. Aku nggak ngasih kejelasan apapun sama Arsya saat itu, aku jalan sama dia, tapi aku juga jalan sama cewek-cewek lain. Lagian saat itu Arsya juga masih sekolah, aku juga masih kuliah, jauh-jauhan lagi."
"Ya dulu sempat dekat lagi sama Arsya pas dia sama cowoknya ada masalah. Tapi ya dia pilih balik lagi ke cowoknya daripada sama aku." cerita Harsa sambil tertawa pelan.
Ia menatap lekat wajah tampan Harsa, tangannya mengelus dada Harsa.
"Tapi di sini sekarang ada siapa?"
Ia menunggu jawaban Harsa dengan tatapan penuh makna, sambil menggigit bibir bawahnya.
"Calon istriku yang lagi menggoda aku ini lah.." bisik Harsa tepat depan wajahnya dengan tangan yang sudah kembali menarik pinggangnya.
"Jangan mancing kalau nggak mau tanggungjawab. Nyiksa banget kalau mesti nyelesain di kamar mandi terus." kini desisan dan hembusan Harsa menyapu cuping telinganya.
................
Harsa
Lima tahun tidak bertemu dengan sahabatnya, membuatnya seakan kurang waktu untuk membicarakan semua hal dengan Genta
"Berarti lo di London masih berapa tahun lagi Ta?"
"Sekitar dua tahun lagi sih, lama ya..tekor lama-lama gue di London." jawab Genta sambil tergelak.
"That's why..aku dulu nggak mau hidup di sana apa di New York. Bisa hidup sih bisa, cuma mesti berhitung banget. Belum biaya cewek di sana, haduuhhh..."
Ucapannya membuat Genta kembali terbahak, pasalnya sahabatnya itu sangat mengerti bagaimana kelakuannya selama ini.
__ADS_1
"Terus kapan renacan lo mau nikahin Sekar?" Genta menatapnya, kemudian menyeruput kopi.
"Not now Ta, lo tahu dia umur berapa?" jelasnya sambil terkekeh.
Genta pun menggeleng sambil mengernyitkan wajah.
"Di bawah gue 9 tahun Ta, dia masih 19 tahun." jawabnya sambil terkekeh.
Wajah Genta langsung berubah drastis saat mendengar jawabannya, mata Genta tampak membulat dengan ekspresi terkejut.
"Whaaattt??!! Waahh gila..benar-benar jauh dari biasanya. Bukannya lo dari dulu nggak pernah mau terpaut jauh? Berarti Sekar memang benar-benar berbeda dari yang lain, buktinya sampai lo bertekuk lutut gitu.."
Ia terkekeh-kekeh,
"You know me lah gimana..."
"Kalau lo lihat Sekar, dia memang terlihat sangat biasa dibanding sama cewek-cewek gue yang kemarin. Dandannya biasa, cara berpakaiannya juga biasa, jauh dari kata branded."
Genta sangat tahu bagaimana perempuan-perempuannya dulu, walaupun mereka lama tidak pernah bertemu. Perempuan yang juga berasal dari kalangan atas dengan barang-barang branded papan atas yang menempel di seluruh lekuk tubuh mereka.
"Dia hidup sendiri, mamanya udah meninggal, ayahnya udah lama pergi ninggalin mereka dari Sekar masih sekolah.Tapi gue udah tahu siapa ayahnya, pengusaha juga di Surabaya."
Genta tampak mendengarkan ceritanya,
"Serius? Jadi dia hidup sendiri selama ini? Kasihan banget sih. Tapi lo tetap harus minta restu ayahnya, bagaimanapun dia orangtua Sekar."
Ia menghela napasnya dan menganggukkan kepalanya,
"Iya, dia perempuan paling gigih yang pernah gue temui. Bayangin aja, dia nekat bolak- balik Depok-Semarang buat tetap kuliah dengan beasiswa dan tetap menjalankan tugas duta wisata. Ditambah dia masih part time di tempat kopi. Gila kan?"
"Iya pasti sih kalau itu Ta, tapi gue juga harus tetap waspada sama ayahnya. Dia aja sebagai orangtua bisa ninggalin anak gitu aja, setidaknya ya maaf nih udah jadi nilai kurang di mata gue."
Genta mengangguk-anggukkan kepala,
"Makanya sejatuh cinta itu lo sama Sekar. I see..i see..gue tahu sekarang Sekar bukan perempuan biasa-biasa saja. Buktinya sampaimembuat seorang Harsa Dewananda bertekuk lutut." ucap Genta sambil tersenyum lebar.
"Makanya sekarang aku bawa dia tinggal di rumah, mama papa juga malah senang kalau Sekar tinggal di rumah. Pertama mau aku suruh tinggal di apartemen berdua sama aku, mama marah-marah." gelaknya yang langsung disambut tawa oleh Genta.
"Ya mana bisa setuju, bisa panjang urusannya kalau lo bawa dia tinggal berdua di apartemen. Bukannya nyuruh Sekar ngurusin bisnis lo, tapi yang ada malah ngurusin lo di apartemen. Lo ajak kerja bikin bayi terus yang ada." timpal Genta yang sangat mengerti dirinya dan masa lalunya.
Kali ini ia semakin tak bisa mengontrol tawanya,
"Kapan gue bisa mendesah bareng kayak kalian berdua, udah pengin punya anak aku Ta."
"Mendesah doang mah gampang, habis ini juga bisa, asal jangan sampai mendesah bikin anak. Tahan dulu lah, kasihan Sekar, dia masih polos kelihatannya. Gue aja tahan sama Prisha, walaupun rasanya udah di ubun-ubun, ya gimana caranya tersalurkan yang penting nggak sampai itu sebelum waktunya."
Ucapan sahabatnya itu selalu membuat kesadarannya pulih kembali. Ia tahu Genta adalah laki-laki yang masih bisa menjaga sesuatu sebelum waktunya, walaupun ya pasti lebih hanya sekedar tidur bersama.
Tapi Genta termasuk lebih baik daripada dirinya yang sudah menjelajah, walaupun hanya dengan dua wanita yang berakhir di ranjang. Sungguh ia mengakui itu, bahkan tadi malam ia hampir saja hilang kendali kalau saja Sekar tidak mencoba menyadarkannya.
......................
__ADS_1