Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Dua Garis Samar


__ADS_3

Jakarta,


Mama Priska


tokk..tokk..tokk..


"Sayang, mama boleh masuk?" Tak lama pintu kamar itu terbuka dan memperlihatkan menantunya yang telah selesai mandi sore.


"Iya ma..kenapa? Andra rewel ya..? Maaf..maaf..Sekar mandinya kelamaan ya.."d menantunya tampak terburu mengerind gkan rambut dengan handuk.


Ia melangkah dan duduk di tepi ranjang berukuran king size itu, sambil tersenyum menatap tengkuk dan leher putih menantunya yang masih ada beberapa bercak kemerahan, tentunya karena ulah putra tercintanya.


"Andra tidur kok, ada mbak juga di bawah." jelasnya masih sambil mengulum senyum.


"Gimana honeymoon keduanya? Pulang membuahkan hasil dong?!" godanya yang langsung membuat wajah menantunya berubah menjadi merah.


"Iihhh..mama...! Doanya aja ya ma.."


"Nggak KB kamu?" selidiknya yang disambut dengan gelengan kepala Sekar.


"Maaf ya sayang.." ucapnya membuat menantunya mengernyitkan wajah.


"Buat apa ma..? Kok minta maaf..?" Sekar berhenti dengan kesibukannya dan menatap wajahnya.


Bibirnya tersenyum,


"Mama minta maaf buat sikap Harsa selama ini ke kamu. Kalau bukan kamu istrinya Harsa, pasti udah minta cerai atau Harsa malah ditinggal selingkuh. Tapi kamu hebat..."


Sekar berjalan mendekat dan duduk di sampingnya masih dengan tatapan bingung.


"Mama bersyukur banget punya menantu kamu, sesabar kamu." ucapnya sembari merengkuh tangan menantunya.


Sekar mengerjap-ngerjapkan mata menatapnya,


"Mama ngomong apa sih? Sekar nggak ngerti ma.."

__ADS_1


Ia menghela napasnya pelan dan tersenyum,


"Harsa itu nggak sekuat pembawaannya. Mama udah berkali-kali bilang sama dia, kalau nggak kuat temanin kamu lahiran mending nggak usah. Jangan dikuat-kuatin, karena pasti akan berefek di kemudian hari."


Sekar tampak menaikkan kedua alis dengan tatapan terkejut. Mungkin terkejut karena ia tahu semua masalah ini. Padahal Harsa selalu menceritakan apapun padanya.


"Mama udah bilang ke Harsa, mending lebih baik dia jujur bilang ke kamu kalau dia nggak bisa temanin kamu lahiran, daripada trauma lagi. Tapi anak itu selalu ngeyel." dengusnya pelan.


"Mama tahu semuanya?" pertanyaan Sekar hanya ia jawab dengan anggukkan dan senyuman.


"Harsa itu punya trauma karena lihat mama dulu pendarahan pas keguguran adiknya Kanaya. Dia pas di rumah, saat itu dia yang bawa mama ke rumah sakit."


"Semenjak itu, cita-citanya jadi dokter malah pudar. Dia udah benar-benar takut sama masalah seperti itu." jelasnya ke menantunya, mencoba untuk menceritakan semua kenyataan yang ada.


Sekar tampak tertegun menatapnya, kemudian menghela napas.


"Nggak apa-apa ma, kemarin kalau nggak ada acara berantem dulu di sana, mungkin juga nggak akan bisa selesai masalahnya."


"Makasih ya ma, udah jagain Andra kemarin." Sekar tersenyum lebar padanya, lalu memeluknya erat, memang hubungannya dengan menantunya termasuk sangat baik. Bahkan kadang melebihi hubungannya dengan putrinya sendiri, mungkin karena jarak yang terpisah saat ini.


Sekar sontak mendongak menatapnya dan mencibir7


"Sekar bisa jalan aja udah syukur ma. Mama juga pasti lihat kan ini semua." tunjuk menantunya ke bercak merah yang ia lihat tadi, seketika membuatnya tertawa geli.


"Yahh..namanya juga anaknya Abinawa, bapaknya juga gitu dulu pas masih muda. Sekarang? Udah encok semua badannya." gelaknya yang disambut dengan tawa lepas Sekar.


................


Bali,


Tiga Bulan Kemudian,


Harsa


Malam ini, sebelum tidur ia memilih memeriksa pekerjaannya sambil bersandar pada sandaran ranjang. Matanya menatap gadget nya, namun sesekali juga melempar pandangan pada seorang wanita yang tengah sibuk mondar mandir ke kamar mandi. Siapa lagi kalau bukan Sekar, istrinya sendiri.

__ADS_1


"Kamu itu kenapa?" selidiknya dengan pandangan mata tetap menatap pada layar benda pipih itu.


"Aku mual mas..."


Jari-jarinya langsung berhenti dan menatap istrinya yang kembali berlari ke kamar mandi.


Hooogghhh....


Kakinya berjalan menuju ke kamar mandi yang bernuansa serba putih, melihat wajah istrinya dari pantulan cermin.


"Kamu sakit?" tanyanya sembari memijat tengkuk istrinya dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya menyatukan rambut panjang itu ke belakang.


Sekar menggelengkan kepalanya dengan wajah yang sudah pucat.


"Cuma mual aj, padahal aku nggak makan aneh-aneh lho.."


Mereka diam sejenak dengan pikiran masing-masing.


"Udah mens kamu?" istrinya tengah sibuk menyeka bibir dengan air langsung terdiam dan menatapnya dari pantulan cermin besar di depan mereka.


Tatapan mata Sekar sudah merupakan jawaban atas pertanyaannya saat ini.


"Masih punya testpack kan? Aku ambil dulu." dirinya tahu, Sekar selalu menyimpan testpack dan alat tes penghitung masa subur.


Dengan sabar ia menunggu istrinya menggunakan testpack.


"Mas..! Iihhh...mas tunggu di luar aja, aku kan jadi aneh kalau ditungguin gini.." gerutu Sekar dengan bibir yang mengerucut.


Bagaimana tidak? Saat ini posisinya berjongkok di depan Sekar yang tengah duduk di closet. Ia hanya terkekeh mendengar omelan istrinya, namun tak berniat sedikit pun beranjak dari tempat itu.


"Malu? Ngapain malu?! Orang udah sering lihat, hampir tiap hari juga ngerasain." gumamnya membuat Sekar memutar bola matanya dan memasang wajah malas.


"Mas...samar lagi.." lirih Sekar setelah mencoba testpack ketiga kalinya dan hasil yang tetap sama yaitu dua garis dengan satu garis yang samar hampir tidak terlihat.


"Coba aku hubungi dokter, kalau masih bisa kontrol sore ini kita ke sana. Tapi kalau nggak bisa, ya besok." ucapnya sembari menggendong Sekar, sontak membuat istrinya memekik karena kaget dengan tingkahnya.

__ADS_1


......................


__ADS_2