Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Tetap Bertahan


__ADS_3

Jakarta,


Sekar


Saat ini dirinya tengah berkutat di dapur menyiapkan makanan pendamping untuk Andra yang berusia satu tahun.


"Sayang, ini Andra pakai baju yang ini?" teriakan Harsa cukup menggema hingga terdengar hingga dapur.


Kakinya melangkah menuju ke kamar yang berhiaskan wallpaper serba putih dengan gambar yang lucu-lucu khas anak-anak.


"Iya mas.." bibirnya tersenyum saat Harsa membantunya memandikan bayi montok berwajah tampan itu.


Tangannya mengelus pipi Andra dengan lembut,


"Pa..pa..pa..pa.." suara bayi yang sudah mulai belajar berdiri dan melangkah walaupun hanya beberapa langkah lalu terjatuh lagi.


"Mama..ini mama..sayang..M-A-M-A.." ucapnya sambil tersenyum dan penug penekanan.


"Mmm...Pa..paa..paa.." lagi-lagi bayi montok itu susah sekali menirukannya, membuatnya semakin gemas dan menggendong Andra.


Harsa termasuk suami yang mau membantu mengurus anak, mulai memandikan hingga menyuapi Andra. Sampai-sampai dirinya sekarang sudah bisa mencoba memasuki dunia kerja kantor mulai anaknya berusia empat bulan.


Andra sekarang sudah terlihat sangat rapi dan wangi, sebelum mereka menitipkan bayi itu ke rumah mama Priska. Jangan ditanya kenapa alasannya? Jelas mama Priska tidak mengijinkan cucunya ditinggal sendiri dengan seorang baby sitter saat mereka berdua bekerja.


Cupp...


Bibirnya mengecup pipi Harsa yang tentunya disambut tatapan dari Andra.


"Makasih ya mas.."


Satu tas berisi makanan untuk Andra, satu ransel untuk keperluan Andra selama satu hari yang harus mereka bawa setiap hari ke rumah mama.


"Mama, titip ya. Makasih ya ma.." pamitnya sambil mencium tangan mamanya.


"Kalian weekend jadi ke Bali?" pertanyaan mama Priska membuat mereka yang sudah berada di depan pintu langsung terhenti.


Kepalanya mengangguk,

__ADS_1


"Iya ma, nggak apa-apa?" tanyanya lembut.


"Nggak apa-apa banget dong..! Yang lama ya, buatin adik buat Andra..!" ucapan penuh semangat dari mama Priska membuatnya tersenyum getir.


Bagaimana tidak? Jangan ditanya apa alasannya, Harsa dan dirinya kembali berhubungan ranjang setelah Andra berusia enam bulan dan hanya satu kali.


"Iya ma..makasih.." ucapnya dengan tersenyun tipis, lalu mereka kembali melangkah menuju mobil.


"Aku udah ngajuin cuti kok mas, kita di Bali empat hari ya?" tanyanya sambil menatap Harsa yang fokus menyetir membelah padatnya ibu kota.


"Iya, tapi beneran Andra nggak ikut? Aku pengin ngajak dia ke pantai." Harsa melempar senyum padanya.


"Kalau sekali-kali nggak sama Andra nggak apa-!apa kan mas? Aku pengin kita pergi berdua aja." tanyanya lembut dan penuh harap.


"Iya.."


Sungguh kali ini ia hanya ingin berdua dengan suaminya, tanpa ada yang mengganggu walaupun itu anaknya sendiri. Tujuannya hanya ia ingin hubungan intim mereka kembali menghangat. Walaupun Harsa di sana sebenarnya juga untuk bekerja.


................


Sekar


Hari pertama menginjakkan kaki di Bali adalah tepat hari anniversary mereka. Ia berharap malam ini akan menjadi malam spesial mereka, karena ia telah menyiapkan surprise dinner untuk mereka berdua.


"Mas, nanti malam kemana?" tanyanya sambil duduk di tepi ranjang dan menatap Harsa yang tengah menggantung kemeja.


"Kalau jadi sih nanti mau makan keluar sama anak-anak kantor sama kolega sekalian. Kenapa?"


Jawaban Harsa membuatnya menelan salivanya dan hatinya merasa kecewa karena kegagalan sudah berada di depan mata.


Siang tengah berganti sore. Setelah mereka berenang bersama, mereka mandi secara bergantian. Jauh dari kesan hangay dan romantis. Namun ia tetap berusaha tenang dan sabar.


Harsa memakai jam tangan yang menandakan suaminya akan segera berangkat.


"Kamu makan sendiri nggak apa-apa kan? Atau nanti kalau kamu mau nyusul, kabari aja. Aku cuma di lounge bawah kok. Aku pergi dulu ya." ucap Harsa tergesa dan meninggalkannya tanpa sebuah kecupan. Ia kembali menghela napasnya.


................

__ADS_1


Harsa


"Heii..! Lhoh, istri mana?" sapa sahabatnya sekaligus partner bisnisnya sekarang.


"Ya kan nggak pada ngajak istri, yaudah aku tinggal di kamar." jawabnya sambil terkekeh.


"Ditinggal atau sengaja ditinggal? Biar aman?" seloroh Kairav sambil meninju lengannya yang membuatnya tergelak. Namun disambut tatapan tajam dari Adit dan ia tahu itu.


"Hai Harsa..!" seorang perempuan cantik menyapanya sambil mengecup pipinya.


"Hei halo..! Apa kabar?" sapanya balik ke perempuan yang memang dari dulu menaruh hati padanya.


Adit berdehem pelan di sebelahnya,


"Nggak usah macam-macam!" gumam Adit pelan namun penuh penekanan. Ia tahu maksud sahabatnya itu, karena Letta termasuk gadis yang terkenal 'nakal' di lingkupnya.


drrtt...drttt...


"Selamat malam, apakah ini benar bapak Harsa?"


"Iya benar.."


"Maaf bapak, kami dari Asaka Restaurant mengganggu waktunya sebentar. Kami mau menanyakan, apakah reservasi atas nama bapak jadi untuk malam ini? Mohon maaf sebelumnya, karena ini sudah melebihi batas waktu reservasi."


Ia mengerutkan keningnya, berpikir mencoba mencerna kalimat yang baru saja ia dengar.


"Reservasi atas nama saya?" tanyanya berusaha memastikan kembali.


"Iya bapak, reservasi atas nama Bapak Harsa Dewananda untuk acara anniversary."


Ia menelan salivanya dengan sangat berat, tiba-tiba pikirannya melayang ke istrinya yang saat ini menunggunya di kamar.


"Harsa ! Ayo, ini pada nungguin kamu !" teriakan Kairav seketika membuyarkan pikirannya.


"Ehmm, gini aja mbak. Maaf sebelumnya, saya nggak jadi ke sana, soalnya saya tiba-tiba nggak enak badan. Kalau memang ada biaya yang perlu ditagihkan bisa kirim ke nomor saya ya. Maaf sebelumnya." pungkasnya mengakhiri panggilan itu dan ia kembali berjalan mendekat ke arah teman-temannya.


......................

__ADS_1


__ADS_2