
Sekar
Hari ini badannya terasa sangat lelah, ia membuka matanya perlahan, lalu tangannya meraba-raba kasur mencari benda pipih yang ia genggam tadi malam.
Bibirnya tersenyum tipis,
Maaf semalem aku udah tidur mas. Makasih ya mas, jaketnya aku cuci dulu.
Walaupun badannya terasa remuk, namun ia tetap harus berangkat kuliah, lalu tetap masuk kerja. Kalau bukan dirinya sendiri yang berjuang untuk hidup mau siapa lagi?
Uang peninggalan ibunya pun mulai menipis, meskipun masih ada beberapa perhiasan dan rumah yang dibeli ibunya, namun ia tetap berusaha untuk bekerja dan bertahan tidak menjual apapun.
Harsa
Bibirnya sering tersenyum akhir-akhir ini, hatinya merasa sangat bahagia layaknya remaja yang baru mengenal cinta.
Matanya menatap layar handphone masih dengan bibir tersenyum. Gambar Sekar yang ia ambil secara diam-diam saat berada di coffee shop tempat gadis itu berkerja.
Baru pertama kalinya ia jatuh cinta pada pandangan pertama seperti ini. Dan hal seperti mengambil foto secara diam-diam juga merupakan hal yang baru baginya.
Sudah tiga hari setelah perkenalannya dengan Sekar saat itu, ia belum lagi bertegur sapa melalui telepon ataupun pesan.
Ia memang sengaja tidak ingin membuat Sekar risih dengan niatnya untuk masuk ke dalam kehidupan gadis itu.
"Senyum terus...! Gilaa lo..!" teriakan Adit memenuhi ruang kerjanya langsung membuyarkan lamunannya.
Ia melirik malas ke arah sahabatnya yang selalu saja seenaknya masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Cantik..." gumam Adit lagi, saat melihat layar handphone miliknya yang tergeletak di atas meja masih dalam keadaan menyala dan menampilkan wajah Sekar.
"Buat gue aja ya..gue suka yang polos-polos gini.." goda Adit kepada sembari mengulum senyum.
"Mata lo polos..! Yang ada, lo bikin anak orang jadi polos tanpa baju..!" protesnya,lalu terkekeh.
"Udah jadian lo?"
Dirinya langsung tergelak,
"Gue aja nggak hubungi dia 3 hari.."
"Haa..? Tumben lama..! Biasanya lo langsung tancap gas.."
"Bukan gue yang tancap gas, tapi cewek-cewek itu yang minta ditancap sama gue.."
Memang benar kenyataannya, banyak wanita yang selalu agresif padanya, walaupun hanya sekedar kencan satu malam ataupun minta dijadikan pacar bahkan calon istrinya.
"Sabar lah, besok gue samperin dia. Mau ambil jaket gue di kosnya." ucapnya sengaja memancing pertanyaan dari sahabatnya.
Dan benar saja, Adit langsung melongo menatapnya.
__ADS_1
"Lo ngapain ke kos dia? Kok bisa sampai jaket lo di sana?"
Namun ia lebih memilih mengulum senyumnya.
"Waaahhh..dasar lo ya?! Bener-bener lak nat lo Sa..!"
Dirinya langsung tergelak dengan suara yang menggelegar.
"Makanya punya otak itu jangan ranjang mulu yang dipikirin! Gue pinjamin jaket ke Sekar pas gue antarin dia pulang, bajunya basah kehujanan. Ngerti?!"
"Aaahh..tanggung amat..! Hujan-hujan, basah..enaknya ngapain..?"
Ia hanya menggelengkan kepalanya,
"Enaknya minum susu anget..! Tapi pakai gelas..!" timpalnya kemudian menyibukkan dirinya kembali dengan setumpuk kertas di depannya.
................
Harsa
Mobilnya telah terparkir manis di depan coffe shop Sekar bekerja.
"Permisi.." sapanya ke salah satu barista di sana.
"Iya kak, selamat sore. Ada yang bisa dibantu?"
"Maaf, saya mau tanya. Sekar masuk apa ya?" tanyanya to the point tanpa basa-basi.
"Sakit?" selidiknya seakan mencoba menggali lebih dalam sakit apa.
"Iya kak, dari kemarin emang demam."
Ia menganggukkan kepalanya,
"Oh baik kalau begitu. Makasih ya mbak kalau gitu."
"Ehmm..saya mau order kopi aren hot satu aja ya mbak, less sugar."
Sekar
Kakinya melangkah gontai untuk membuka pintu, saat mendengar suara ketukan pintu.
Haatttchiiimmmm....!
Haatttcchhiimmm...!
Matanya membulat seketika saat melihat siapa orang yang ada di hadapannya saat ini.
"Mas Harsa?!" ucapnya dengan suara sedikit meninggi.
__ADS_1
Namun, lelaki itu masih diam dan hanya tersenyum tipis.
"Mas ngapain ke sini? Hattchhhiimmm..!" ia kembali bersin di depan Harsa.
"Boleh aku masuk? Atau aku tunggu di ruang tamu?" tanya lelaki itu masih sambil menatap dirinya.
"Masuk aja mas nggak apa-apa." ucapnya dengan sedikit gugup.
Ia tidak menutup pintunya setelah Harsa masuk ke kamarnya.
"Kok duduk bawah mas?"
"Kursinya cuma ada 1, kalau aku pakai, kamu mau duduk mana? Mau 1 kursi sama aku?" godanya sambil berusaha menahan senyum.
"Ini dimakan dulu, aku bawain bakso, biasanya kalau lagi sakit penginnya yang kuah-kuah." ucap Harsa seraya menyodorkan satu tas plastik berisi bakso 2 porsi.
Ia berjalan mengambil peralatan makan, namun langkahnya terhenti dengan ucapan Harsa.
"Kamu nggak pengin ganti baju atau pakai jaket mungkin? Ini pintu kamarnya dibuka lho."
Dirinya langsung tersadar bahwa saat ini ia hanya memakai tanktop dipadu degan celana panjang. Maklum kamarnya tidak memakai pendingin ruangan. Jadi, walaupun sakit ia tetap memakai baju tanpa lengan.
Dengan cepat ia langsung mengambil kaos berlengan di lemari, lalu berjalan menuju kamar mandi. Suatu hal yang memalukan baginya saat ini, Harsa melihatnya memakai tanktop yang memperlihatkan belahan dadanya dan lagi ini terjadi di dalam kamar.
Harsa
Sejak pintu kamar Sekar dibuka dan gadis itu berdiri di hadapannya, detak jantungnya berdegup kencang. Apalagi melihat penampilan Sekar yang hanya menggunakan tanktop tipis yang terlihat sangat sexy di matanya.
Namun, ia berusaha meredam hal itu dengan mengalihkan pikirannya ke hal lain. Wajah Sekar tampak sedikit pucat dan hidung yang merah, tapi masih terlihat cantik.
Gadis itu sudah kembali di hadapannya dengan kaos yang sedikit kebesaran dan membawa 2 mangkok.
"Mas mau makan juga kan?" tanya Sekar sambil menuang bakso dan sesekali menatap dirinya.
"Iya, aku lapar. Tadi niatnya mau makan di tempat kamu kerja, kamunya nggak ada. Yaudah aku cuma beli ini, terus beli bakso itu." jelasnya sembari melirik secangkir cup kopi bertuliskan Rasa Kopi.
Setelah selesai menuang bakso, Sekar kembali menatap wajahnya.
"Mas tahu aku sakit dari temanku? Terus ke sini? Mas nyariin aku?"
Ia yang sedang mengaduk bakso di mangkok langsung kembali menatap wajah cantik itu. Sekar langsung berdehem pelan dan tampak menelan saliva, entah karena gugup atau apa.
"Ehmm..maksud aku, mas ada apa nyariin aku?" tanya Sekar lagi pelan dengan sedikit menunduk.
Ia mengulas senyumnya, tampaknya gadis itu lupa kalau jaket miliknya masih dibawa gadis cantik itu. Walaupun sejujurnya ia tidak berpikir ke masalah jaket, namun hal itu bisa jadi alasan utamanya untuk bertemu Sekar kan?
Namun, ia lebih memilih menjawab secara jujur sesuai perasaannya.
"Ya karena pengin ketemu. Emang kenapa? Nggak boleh? Ada yang marah kalau aku main ke kost kamu gini?"
__ADS_1
......................