
Bali,
25 tahun kemudian
Sekar
Pagi ini seperti biasanya, ia menyiapkan sarapan untuk suaminya tercinta dan juga kedua anaknya yang saat ini sedang berkumpul di rumah.
Teriakan Alindya selalu memenuhi rumah setiap pagi apabila berkumpul dengan sang kakak.
"Mas Andraaaa...! Balikin nggak..?! Mamaaaa...! Mas Andra ini lho maaa..!"
Ia menghela napasnya dan menggelengkan kepalanya. Ketibutan yang tidak pernah berhenti dari balita hingga dewasa, bahkan malah semakin menjadi saat dua saudara yang biasanya terpisah jarak kemudian berkumpul.
Putra sulungnya berlari ke arahnya sambil membawa handphone yang ia yakini milik Alin. Kemudian Alin pun menyusul, berlari mengejar Andra.
"Mamaaa..!" teriakan Alin pun kembali menggema, sedangkan Andra malah terkekeh berdiri di sampingnya.
"Ma..lihat ma..! Pacarnya ganti lagi ma..! Ampun dehh anak mama satu itu .." Andra menyodorkan handphone Alin yang terpampang foto lelaki yang cukup tampan baginya.
Sedetik kemudian langsung melirik putra sulungnya.
"Kamu kan juga sama aja mas..! Kamu kapan mau awet sama cewek?" sindirnya yang malah membuat Andra mencibir.
"Kan udah pernah , sebelum yang terakhir kan empat tahun." jawab putranya santai, tanpa mempedulikan Alin yang masih berusaha mengambil kembali benda pipih itu.
"Kamu itu ngapain sih?! Ribut aja..! Ganggu orang mau ngambil roti..!" salak Andra ke putrinya yang sontak membulatkan mata menatap tajam sang kakak.
"Kalian itu kalau tiap kumpul, nggak usah pakai acara berantem sehari aja gitu nggak bisa ya?" suaminya yang sudah tampak rapi dengan kemeja berjalan mendekat ke arah mereka.
"Pagi sayang.." sapa suaminya sembari mengecup puncak kepalanya.
"Yahh..lumayan..! Cuma ya perlu dilihat dulu, dia siapa, orangnya bagaimana? Nggak semudah itu bisa bergabung di keluarga Harsa Dewananda dong..! Iya kan mas..? Kamu tahu kan tugasmu apa?" sahut suaminya setelah menatap layar handphone yang tengah menyala, kemudian menatap putranya. Seketika membuat bibir putrinya kembali mengerucut.
__ADS_1
Harsa tetaplah Harsa yang selalu posesif dan over protektif dengan dirinya dan juga putrinya. Setiap Alin dekat dengan pria, ia selalu mencari informasi tentang pria itu secara detail.
"Kerjaan kamu gimana Ndra?" tanya Harsa sembari menatap putranya yang tengah menikmati sarapan.
"Aman sih pa..sejauh ini aman.."
Akandra Diratama, seorang pengusaha muda yang membangun sebuah start up di berbagai bidang. Tak jauh dari sang papa yang juga bergelut di dunia bisnis. Andra memang benar-benar layak menjadi penerus keluarga Abinawa.
Bibirnya tersenyum melihat pemandangan pagi ini. Putranya yang tumbuh dewasa dengan rupawan seperti sang papa. Begitu juga Alin yang juga memiliki wajah yang lebih cenderung seperti Harsa. Jangan tanyakan siapa yang memiliki wajah seperti dirinya? Tentu saja tidak ada, ia hanya diberi tugas untuk mengandung.
"Kamu udah dapat sekretaris lagi mas?" tanyanya ke putranya.
"Belum ma, santai aja sih aku. Soalnya Andra juga nggak terlalu butuh sekretaris, kalau ada syukur nggak ya sudah. Tunggu dapat yang cocok yang bisa gantiin Dinar."
Kepalanya pun mengangguk, karena ia mengerti kriteria seperti apa yang dimiliki oleh putranya.
................
Jakarta,
Lari pagi menikmati udara pagi itulah hobinya. Langit Jakarta pagi ini masih cukup gelap, ia keluar dari rumahnya yang minimalis. Kakinya berlari menyusuri area perumahanny, kemudian keluar ke jalan raya yang tak jauh dari rumahnya.
"Sh.iittt..! Sial...!" belum ada lima menit ia keluar dari rumah, bajunya sudah basah karena terkena cipratan genangan air yang ada di dekatnya. Ada sebuah mobil dengan kecepatan cukup tinggi melintas di sampingnya kemudian melewati genangan itu dan berhenti sekitar 5 meter setelahnya.
Jarinya mengetuk kaca mobil itu dan setelah dibuka ia melihat seorang perempuan yang berpenampilan cukup acak-acakan dengan sedikit bau alkohol, tertunduk di setir mobil.
"Maaf permisi, mbak jalannya hati-hati dong. Ini baju saya basah kena genangan air yang mbak lewati tadi."
Wajahnya langsung mengernyit saat tidak mendapat respon sedikitpun dari gadis itu.
"Mbak..mbak..mbak nggak apa-apa?" tanyanya sambil sedikit memiringkan kepala gadis itu.
"Hmmm..." ia menghela napasnya, bersyukur ternyata gadi itu masih merespon.
__ADS_1
Kakinya kembali melangkah meninggalkan mobil itu, namun baru beberapa langkah ia kembali menatap mobil mewah berwarna hitam itu.
Ia bimbang, akankah ia harus menolong gadis itu atau malah membiarkannya? Ia tahu gadis itu sedang mabuk dan sangat berbahaya pulang dengan kondisi menyetir sendirian. Tapi otaknya kembali berpikir, siapa gadis itu? Tentu ia tidak bisa menolong seseorang tanpa tahu identitas yang jelas.
Kakinya kembali menuju ke mobil itu dan ternyata kaca bagian pengemudi masih terbuka. Jarinya menyentuh tomboll unlock agar bisa membuka pintu mobil.
Matanya menatap gadis yang tengah tertidur pulas dengan kepala bersandar di setir mobil. Ia mencari tas gadis itu untuk mencari identitas apa saja.
"Raya Sheela, pekerjaan karyawan swasta." gumamnya pelan saat membaca kartu identitas kependudukan milik gadis yang ia yakini bernama Raya dan ternyata alamat gadis itu adalah cluster mewah yang berada di sebelahnya cluster nya.
"Ohh dia pegawai bank.." gumamnya lagi saat menemukan ID Card kantor dimana gadis itu bekerja.
"Heii..kamu bisa geser ke bangku sebelah nggak? Aku antarin kamu pulang." ia mencoba mengajak berkomunikasi gadis yang masih tertidur itu.
Lagi-lagi gadis itu hanya menjawab dengan sebuah jawaban,
"Hmmm....."
"Pindah sana ya, aku yang nyetir.." ia masih berusaha saat ini dan ternyata berhasil. Gadis itu berpindah dengan gerakan sempoyongan dan masih dengan mata yang tertutup.
"Rumah kamu ada orang kan jam segini?" masih mencoba bertanya dengan Raya itulah yang ia lakukan sambil melajukan mobil menuju gerbang komplek yang sudah ada di depannya.
"Nggak ada.." jawab Raya masih dengan mata tertutup.
"Permisi pak, ke blok C7.." sapanya ke satpam penjaga cluster.
"Silahkan mas.."
Rumah yang gelap dan sepi, entah tidak pernah dipakai atau memang Raya lupa menyalakan lampu saat keluar rumah. Tapi jelas rumah ini menunjukkan tidak ada kehidupan di dalam, karena lampu bagian luar ataupun dalam tidak menyala padahal pagi ini masih sangat gelap.
Namun ia berusaha untuk turun dan menekan tombol bel rumah dan ternyata berakhir sia-sia. Memang benar ucapan gadis itu kalau rumahnya kosong. Ia kembali ke dalam mobil, kemudian menatap gadis yang berpenampilan acak-acakan itu.
"Cantik dan memiliki badan yang bagus, tapi kenapa dia pulang dalam keadaan berantakan seperti ini." batinnya sambil menatap lekat Raya.
__ADS_1
......................