Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Merawat


__ADS_3

Harsa


Jam 3 pagi ia terbangun, dirinya merasa badannya penuh dengan keringat. Mungkin efek memeluk Sekar yang sedang demam, ditambah dengan kamar Sekar yang saat ini tidak menyalakan kipas angin sekalipun.


Ia bergerak pelan, agar tidak membangunkan Sekar. Dipegangnya dahi dan juga wajah gadis yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu. Masih sedikit hangat, tapi sudah tidak sepanas saat ia datang tadi.


Ia melangkah berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil dan menyegarkan badannya dari keringat.


"Mas..?"


Saat keluar dari kamar mandi, ia melihat Sekar sudah terbangun.


"Mas kepanasan ya? Sampai basah gitu kaosnya."


Memang kaos yang ia kenakan terlihat sedikit basah, apalagi berwarna abu-abu.


"Nggak apa-apa, maaf bikin kamu kebangun. Kamu mau minum atau makan?" tawarnya sambil menyeka wajahnya dengan handuk kecil.


"Minum aja mas.." gadis itu beranjak dari ranjang itu.


"Kamu mau ngapain? Udah aku ambilin aja."


Namun Sekar tetap beranjak dari ranjang dan mengambil minumnya sendiri.


"Mas, aku masih kuat bangun. Jangan dimanjain. Mas, pakai cooler aja ya. Anginnya kasih ke tembok. Kita pakai selimut tapi." ucap gadis itu sembari menghidupkan cooler, lalu menata selimut tebal di atas kasur.


Kemudian Sekar kembali naik ke atas ranjang, sedangkan dirinya masih berdiri mengamati gerak kekasihnya itu.


"Mas mau ganti kaos? Aku punya sih kaos yang ukuran besar gitu. Tapi warnanya kuning." cengir Sekar sambil terkekeh.


"Aku lepas aja gimana? Sebenarnya aku kalau tidur di ruangan nggak pakai AC, aku nggak pernah pakai baju." ucapnya, memang kenyataannya seperti itu, bahkan di kamarnya yang memakai AC pun ia sering shirtless.


Wajah Sekar sudah tampak merona, mungkin karena malu.


"Terserah mas, enaknya gimana. Senyamannya mas aja.."


"Oke.." jawabnya singkat.


Baginya hal biasa seorang laki-laki bernampilan shirtless. Ia membuka kaosnya dan menyampirkannya di kursi belajar Sekar.


Kakinya melangkah menuju ranjang dan kembali merebahkan badannya di sebelah Sekar.


"Di sini kost nya nggak ada AC nya semua?" tanyanya sambil menatap wajah cantik tanpa make up sedikitpun itu.


"Ada sih, cuma 3 kamar yang nggak pakai. Ini salah satunya."


"Kamu nggak berniat pindah kamar?" tanyanya lagi, namun Sekar malah menggelengkan kepalanya.


"Nggak mas, mahal. Bisa-bisa gajiku habis cuma bayar kost aja. Belum pulsa listriknya, ini aja aku udah harus berhemat." ucap gadis itu sambil mencengirkan wajah.

__ADS_1


"Emang kamu kerja part time gitu nutup sama kebutuhan kamu?" selidiknya lagi, ia seorang pengusaha yang sangat tahu berapa gaji pegawai part time.


"Ya kalau cuma ngandalin part time sih jelas nggak nutup. Aku juga sambil jualan online mas, jualan aksesoris, terus aku juga freelance content writer." jelas Sekar sembari berbaring memandang langit-langit kamar.


"Aku bantuin ya? Boleh nggak?" ijinnya berusaha meminta persetujuan Sekar.


Sekar menoleh menatapnya,


"Bantuin apa mas?"


"Aku yang ngurusin kost kamu. Dan kamu pindah ke kamar yang lebih bagus. Ya?" rayunya pelan, karena ia sangat tahu Sekar adalah perempuan yang sangat keras untuk urusan seperti ini.


"Nggak ah mas, aku nggak enak. Aku masih bukan apa-apa mas, dan aku masih bisa kerja. Kalau pun sampai terpaksa, masih ada uang sama perhiasan dari mama yang masih bisa aku pakai."


"Benar kan, pasti menolak.." batinnya.


"Aku itu pacar kamu sayang, bukan orang lain. Ya? Kita cari kost baru ya, yang nggak campur gini gimana?" ia mencoba memberikan penjelasan pada Sekar, jujur ia merasa kasihan dengan perjuangan Sekar untuk menjalani kehidupan.


Sekar tersenyum sambil menatapnya,


"Nanti kalau nggak campur, mas nggak bisa nginap lagi di sini lho."


Dirinya pun ikut mengulum senyum, ia tahu maksud Sekar bukan macam-macam, hanya ingin tidak mau menerima bantuannya.


"Emang suka ya aku nginap gini terus?" godanya.


"Hiissshhh..." elak kekasihnya itu dengan wajah merona kemudian berbalik badan memunggungi dirinya.


"Pindah ya yang? Ke kost yang lebih nyaman lagi. Aku yang bayar kost. Kamu kerja buat biaya hidup kamu aja. Gimana?" rayunya sembari mendekap erat Sekar dari belakang.


"Nanti gampang. Udah ahh ayo tidur lagi, aku masib lemes." gumam Sekar dengan mata yang sudah terpejam.


Bibirnya mengecup puncak kepala Sekar,


"Iya, besok periksa ya." lirihnya.


................


Sekar


Pagi ini terasa sangat berbeda, ia membuka matanya dan mendapati tangan seorang lelaki melingkar di pinggangnya.


Ia berasa masih seperti mimpi, saat ini Harsa telah menjadi kekasihnya. Matanya menatap lelaki yang bertelanjang dada yang saat ini tidur di sampingnya.


Badan Harsa sangat bagus dan wajahnya sangat tampan, bagaimana tidak para wanita berebut menginginkan kekasihnya itu.


Ia mengangkat kepalanya sedikit, lalu mengecup pipi lelaki itu. Dan Harsa pun tampak terganggu dengan tingkahnya.


"Pagi mas.." sapanya yang membuat Harsa tersenyum.

__ADS_1


"Masih lemes?" tanya Harsa seraya memerika panas di tubuhnya dengan punggung tangan.


Ia pun mengangguk,


"Panasnya sih udah nggak terlalu, tapi masih lemes."


"Habis ini sarapan, terus periksa ya. Kita cek darah, udah 3 hari kamu demam."


drrrtt..drrttt...


Handphone Harsa bergetar menunjukkan adanya panggilan.


Mama is calling


Begitu layar yang tampak pada benda pipih itu.


"Iya pagi ma..Ada apa?" sapa Harsa ke sang mama.


"Iya, tadi malam aku langsung balik ke Jakarta, ke apartemen sebentar ambil mobil. Ini tidur di tempat Sekar ma."


Matanya seketika membulat saat mendengarkan kejujuran Harsa kepada sang mama.


"Cewek aku lah ma, nanti Harsa kenalin." sekilas Harsa melirik dan tersenyum ke arahnya.


"Nggak ma, ini dia lagi sakit. Makanya aku merawat dia di kost." ucap Harsa lagi sambil terkekeh, entah perbincangan apa yang terjadi antara mama dengan sang anak.


Setelah mengakhiri panggilan itu, ia dan Harsa saling menatap. Ia mengangkat satu alisnya, sedangkan Harsa mengernyitkan dahi.


"Kenapa?" tanya Harsa kepadanya dengan wajah bingung.


"Sejujur itu kamu sama mama kamu, bilang lagi todur di tempat cewek kamu?" selidiknya kali ini, sungguh ia tak mengerti jalan pikiran lelaki ini.


"Ya kenapa harus bohong? Mama juga tahu kamu lagi sakit. Lagian nggak sakit pun nggak masalah, mama udah pengin aku nikah." jawab kekasihnya itu dengan sangat santai.


"Ya tapi mas, mama kan belum kenal aku. Nanti gimana coba pandangan mama kamu ke aku. Dikira aku cewek nggak benar lagi." protesnya kali ini sambil mendengus kesal.


Harsa tersenyum,


"Mama nggak sekolot itu, tenang aja. Dan aku yakin, mama pasti suka dapat calon menantu seperti kamu. Aku jamin."


Ia kembali melirik Harsa,


"Kita baru sehari pacaran, nggak usah jauh-jauh mikirnya. Aku masih kuliah mas."


"Aku bakal nunggu kamu, sampai kamu selesai kuliah. Udah ayo bangun, cari sarapan." ajak Harsa.


Namun sedetik kemudian, Harsa menahan lengannya.


"Boleh cium dulu nggak sih?"

__ADS_1


......................


__ADS_2