
Harsa
Pagi ini pemandangan saat ia membuka matanya adalah perempuan cantik yang memeluknya sangat posesif.
Bagaimana tidak, lengan Sekar melingkar di perutnya, kaki Sekar melingkar di pahanya, seakan mengunci tubuhnya.
Dan ternyata selimut yang seharusnya menutupi tubuh mereka berdua malah tersingkap dan hanya menutupi telapak kaki mereka berdua.
"Ya Tuhan ini perempuan tidurnya kok jadi bar bar gini sihh.." gumamnya pelan, saat melihat kaos miliknya yang dikenakan Sekar pun tersingkap ke atas, sehingga memamerkan paha mulus kekasihnya itu.
Bukannya membenahi selimut atau kaos Sekar, tangannya malah membelai paha putih itu dengan lembut, hingga tanpa sadar membuat Sekar melenguh.
Mata Sekar terbuka perlahan dan menatap wajanhya yang tengah melemparkan senyum penuh makna.
Dengan gerakan yang lihai, ia langsung kembali menikmati bibir ranum itu. Awal hari yang dibuka dengan pagi yang panas. Entah kenapa pagi ini Sekar seakan mempersilahkan dirinya untuk menuntaskan misinya.
Kaos yang tadinya hanya tersingkap sebatas paha, sekarang justru telah tergeletak entah dimana. Saat jarinya akan membuka sebuah kait yang menutupi benda yang membuatnya gila saat ini, sebuah teriakan membuat mereka terperanjat.
"Harsa...!" suara teriakan yang memenuhi ruang tamu apartemennya.
"Mama.." Sekar yang panik, langsung bangun dan membuat kening mereka saling beradu.
"Aduuhh..sakit.." rengek Sekar sambil mengusap dahi.
"Tenang makanya, kan kamarnya udah aku kunci. Udah sekarang kamu mandi, biar aku yang keluar ketemu sama mama dulu. Biasa aja, santai, orang di rumah juga udah pernah sekamar." ucapnya pelan dan santai, sangat kontras dengan Sekar yang sudah lari memungut kaos yang telah tergeletak di kasur, lalu masuk ke kamar mandi.
Ia memilih mengambil dan memakai jogger dan kaosnya terlebih dahulu, sebelum keluar kamar. Dengan santainya ia melenggang keluar kamar dan melihat mamanya telah duduk di kursi makan.
"Pagi ma.." sapanya sambil mengecup pipi mamanya.
Mamanya melirik tajam dan mengamati penampilannya dari atas hingga bawah.
"Kenapa nggak pulang rumah?"
Ia berjalan mengambil air putih, lalu meminumnya untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
"Ya kan biasanya juga jarang pulang rumah. Emang kenapa ma?" jawabnya seraya menarik kursi duduk berhadapan dengan mamanya.
__ADS_1
Mamanya berdecak kesal, lalu membuang tatapan dari wajahnya.
"Harsa..kamu jangan macam-macam dong sama Sekar. Kamu jangan samain Sekar sama cewek-cewek kamu dulu. Mama tahu banget, Sekar itu masih gadis."
Ucapan mamanya membuatnya tertegun sejenak,kemudian tertawa geli.
"Mama kenapa sih? Siapa yang macam-macam?"
"Terus mana Sekar sekarang?" selidik mamanya dengan tatapan menyapu seluruh penjuru ruangan.
"Baru mandi ma, baru bangun tidur kita. Nanti sore kita kan mau ke Semarang."
Mamanya kembali menghela napas,
"Pokoknya jaga Sekar baik-baik, sebisa mungkin tahan dulu mas, jangan dirusak anak gadis orang."
Ia kembali tertawa geli dengan ucapan mamanya,
"Mama ini kenapa sih, nggak usah berlebihan deh. Lagian siapa juga yang ngerusak anak gadis orang, Harsa kan nggak pernah ngerusak wanita."
"Pagi ma..." sapa Sekar yang sudah tampak rapi dengan kaos miliknya yang lain dipadu dengan celana jeans yang kemarin Sekar pakai.
"Ehh pagi sayang..habis mandi ya.." sapa mamanya ke Sekar yang tengah mencium tangan mamanya.
"Iya ma.." Sekar mengambil segelas air putih, lalu meminumnya.
"Kalian kenapa nggak nikah secepatnya aja sih?!"
Uhuukk...uhuukk..
Sekar yang sedang meminum air itu langsung tersedak saat mendengar ucapan mamanya. Ia berjalan mendekat ke arah kekasihnya itu sambil menepuk-nepuk punggung Sekar.
"Mama ihh..,Sekar kan jadi kaget." gerutunya tanpa melirik ke mamanya.
"Maaf..maaf..mama nggak sengaja.."
Ia dan Sekar kembali duduk di hadapan mamanya,
__ADS_1
"Maksud mama, daripada kalian pacaran terus mending nikah sekalian. Mama takut kalian kebablasan, apalagi Harsa."
Sekar memijit pangkal hidung mancung itu,
"Ma, tapi Sekar masih kuliah, masih jadi duta wisata juga. Gimana mau nikah? Masih 19 tahun ma, tunggu 21 tahun lah ma. Satu setengah tahun lagi." ucapnya dengan tatapan memohon.
"Kamu selesai duta wisata kapan Sekar?" tanya mamanya, Sekar hanya menelan saliva dan tampak gugup.
"Ehhmm..akhir tahun depan ma.."
Mamanya langsung tersenyun lebar,
"Yaudah, kalau gitu habis duta wisata kalian nikah. Beres."
"Ma..." sahut Sekar pelan.
"Nggak ada ma..ma..ma..nggak ada tapi..tapi..! Harsa bilang nunggu 1,5 tahun lagi kan? Mama minta setelah akhir tahun depan. Yaudah nggak jauh beda, cuma beda berapa bulan." titah mamanya seakan benar-benar tak terbantahkan.
"Biar kalian nggak cuma tidar tidur bareng terus,kan kalau udah nikah lebih bermanfaat gitu bikinin mama cucu. Ya kan?" ucap mamanya lagi sembari mengedipkan salah satu mata ke arahnya.
Sekar hanya mampu menerima dan menghela napas menatapnya, sedangkan dirinya justru tersenyum lebar.
"Genta aja udah mau nikah kan? Masa' kamu masih mau main-main terus.." gumam mamanya dan dirinya malah mencibir.
"Ya kan dia beda, Prisha udah lulus kuliah ma.." kilahnya.
"Sama aja! Aduh Genta..Genta..mantan calon menantu mama yang hanya dalam mimpi mama.." ucap mamanya yang membuatnya terkekeh.
"Yaudah mama mau pergi lagi, kalian juga mau pulang ke rumah kan?"
Langkah mamanya langsung terhenti dan berbalik kembali menatap mereka.
"Harsa, jaga dulu, ditahan! Kalau sampai bablas dan kamu nggak tanggungjawab, mama seret kamu!" mamanya kembali melenggang keluar apartemen miliknya.
"Nggih ma.." sahutnya dengan suara pelan.
......................
__ADS_1