Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Terbakar Cemburu


__ADS_3

Sekar


Sore ini ia sudah sampai di coffee shop milik Harsa yang sekarang sudah sah menjadi miliknya karena calon suaminya telah mengubah kepemilikan bisnis itu menjadi atas namanya.


"Sore mbak.." sapa salah satu karyawannya yang berada di balik meja kasir.


"Sore..mas Harsa belum sampai?"siapa tahu calon suaminya itu sudah berada ruang kerjanya.


"Belum kok mbak."


"Oh yaudah. Aku minta tolong dong buatin matcha latte seperti biasanya ya. Makasih."


Ia berjalan menuju kursi yang berada di luar sembari menikmati jalanan yang terlihat cukup lengang sore ini, mungkin karena hujan. Tangannya mencari handphone yang berada di dalam tasnya.


Aku udah sampai mas, hati-hati. Kangen banget sama kamu.


Pesan singkat yang sangat menggambarkan perasaannya saat ini. Hampir sebulan ia tidak bertemu Harsa karena lelaki itu ada acara bisnis ke beberapa negara di benua Eropa, lalu berlanjut 3 hari di Singapura.


Bibirnya menyesap minuman berwarna hijau yang masih terlihat sedikit mengepul dengan pandangan yang tertuju di jalanan. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan bibir tersenyum tipis.


"Sore, maaf..sendirian aja? Boleh saya duduk sini?" terdengar suara ramah seorang lelaki menyapanya, membuat kepalanya mendongak menatap sosok tinggi menjulang di hadapannya.


Tangannya menunjuk dirinya sendiri dengan tatapan setengah bingung,


"Saya? Mas ngomong sama saya?"


Lelaki yang ia tidak ketahui namanya itu pun tersenyum dan langsung mengambil duduk di hadapannya, semakin membuat keningnya berkerut.


"Iya kamu.." ucap lelaki yang berwajah manis dan berkulit sawo matang.


"Maaf sebelumnya, apa kita saling kenal?" selidiknya, ia takut siapa tahu dirinya lupa.


Lelaki itu tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya,


"Aku Panji.." lelaki itu mengulurkan tangan ke arahnya.


"Sekar.." ia pun membalas uluran tangan itu sambil tersenyum tipis.


"Boleh kan gabung sini?"

__ADS_1


Ia menelan salivanya, jujur ia bingung dengan situasi seperti ini. Perasaannya selalu tidak enak untuk menolak sikap baik seseorang, namun dibalik itu ia takut Harsa salah paham. Apalagi calon suaminya itu sangat pencemburu.


"Nanti kalau teman atau pacarmu datang, aku pindah kok. Tenang aja.." Mungkin karena terlalu lama menjawab, akhirnya Panji bicara seperti itu. Mau tak mau ia menganggukkan kepala, ia yakin kalau Harsa tahu, calon suaminya itu pasti bisa mendengarkannya.


Akhirnya mereka terlarut dalam obrolan yang cukup lama, bahkan bisa saling melepas tawa. Panji termasuk lelaki yang menyenangkan, mampu mencairkan suasana yang semula canggung menjadi penuh tawa, walaupun hanya dengan obrolan-obrolan ringan.


Karena terlalu larut dengan obrolan mereka, ia sampai tidak menyadari ada tatapan tajam seorang lelaki dari balik kaca menuju ke arah mereka berdua.


"Ehheemmmm..." deheman yang cukup keras menyapa gendang telinganya. Ia memejamkan matanya sekilas karena dirinya sangat tahu siapa pemilik suara itu.


Kepalanya mendongak menatap Harsa dan mencoba tersenyum seakan tak akan ada masalah yang terjadi setelah ini.


Ia beranjak berdiri mengelus pundak hingga lengan calon suaminya, lalu merangkul pinggang Harsa.


"Mas..barusan sampai?" sapanya dengan tersenyum mesra, berharap Harsa juga membalasnya. Dan benar, Harsa juga melemparkan senyuman mesra namun tetap dengan tatapan yang menusuk.


"Mas Panji, kenalin ini calon suami saya, mas Harsa."


Panji yang terlihat sudah berdiri pun mengulurkan tangan ke arah Harsa yang tentunya disambut dengan ramah oleh Harsa, namun tanpa memperkenalkan diri.


"Maaf mas, tadi cuma ngajak ngobrol mbak Sekar aja di sini." Panji memang terlihat sangat sopan.


Harsa menganggukkan kepala dan tersenyum, namun dengan bibir yang masih tertutup rapat.


Ia pun menundukkan kepalanya,


"Maaf ya mas, makasih. Mari mas.." pamitnya dengan sedikit tertatih karena tangannya ditarik pelan oleh Harsa.


Harsa


Sudah hampir sebulan ia menahan rindu dengan calon istrinya. Namun saat sampai di coffee shop miliknya, matanya malah menatap Sekar terlihat sangat ramah dan tertawa dengan lelaki lain yang tidak ia ketahui siapa namanya.


"Mas, lepas..sakit.." pinta Sekar yang membuat dirinya melepas genggamannya yang ternyata memang sangat kuat.


Tangannya menutup dan mengunci pintu ruang kerja yang terletak di lantai atas dengan cukup keras.


Ia berbalik badan dan menatap tajam wanitanya yang tampak takut memandang dirinya.


"Kok nggak senyum ketemu aku?" gumamnya dengan langkah yang mendekat ke arah Sekar, namun calon istrinya itu malah ikut memundurkan langkah hingga akhirnya menatap pada meja kerja di hadapannya.

__ADS_1


Napas Sekar terlihat naik turun dengan tatapan mengiba dan bibir yang terkunci rapat, seakan takut pada dirinya.


Kedua lengannya bersandar pada meja dan mengunci tubuh Sekar, matanya menelisik seluruh bagian wajah kekasihnya itu. Kemudian terpaku pada satu titik yang selama ini menjadi candunya dan sudah hampir satu bulan ia tidak menikmatinya.


Bibirnya melahap habis bibir ranum Sekar seakan ingin menikmatinya hingga tak bersisa.


"Kamu ingat kan? Semua yang ada di kamu itu milik aku, cuma aku yang boleh menikmatinya." Bisiknya menyapu telinga Sekar.


Sungguh hatinya saat ini memang terbakar cemburu, ia tak suka melihat Sekar memberikan tawa menyenangkan itu pada Panji ataupun lelaki lain.


Jangankan tawa yang selalu membuatnya nyaman, senyuman memikat Sekar pun tak rela ia bagi dengan siapapun.


Keterlaluan? Ya, ia akui dirinya memang sangat keterlaluan dengan Sekar. Calon istrinya adalah wanita pertama yang ia perlakukan secara posesif. Bukan karena semata-mata trauma masa lalunya dengan Lintang, melainkan Sekar adalah pemilik hatinya selamanya.


Bibirnya kembali menikmati rasa manis candunya itu seakan tak ingin melepasnya.


Sekar


Jujur ia sempat takut, dirinya tahu Harsa menahan emosi saat melihat dirinya sangat akrab dengan lelaki lain.


Ciuman yang semula penuh dengan emosi, lama-lama berubah menjadi lembut dan semakin menuntut. Otaknya pun sekarang tak bisa berpikir jernih.


Rindu, sangat rindu, itulah yang menggambarkan perasaannya sekarang. Ia tahu kemana Harsa akan membawa hasrat yang telah membuncah ini.


Ia pun memilih menerima sepenuhnya keinginan calon suaminya itu, sama sekali tak ada niatan untuk membatasi bahkan menolak.


Pikirannya sadar bahwa pernikahan mereka masih dua minggu lagi, namun alam bawah sadarnya pun tidak ingin munafik. Saat ini ia juga menginginkan hal yang lebih, sentuhan yang lebih dari biasanya yang Harsa berikan padanya.


Harsa melepaskan pergulatan bibir itu sejenak, mata mereka sudah sama-sama saling berkabut hasrat. Jari-jari Harsa mengelus wajahnya dan saling menempelkan keningnya.


Pakaian mereka? Dress nya sudah jatuh di punggung kakinya, tinggal menyisakan kain kecil yang menutupi bagian bawahnya, karena penutup bagian atasnya pun telah berhasil dilepas oleh Harsa.


Kancing kemeja Harsa pun telah terlepas semuanya. Siapa lagi kalau bukan karena ulahnya? Bahkan kancing celana panjang calon suaminya pun telah terbuka.


"Aku mau kamu sayang. Semuanya..sekarang.." bisikan berat Harsa kembali menyapu tengkuknya. Lengan kokoh itu langsung membawa tubuhnya ke atas sofa yang cukup lebar di ruang kerjanya itu.


......................


😊😊😊 Hayoo pada nungguin ya?

__ADS_1


Gaaass lanjuuutt apa nggak nih enaknya?


Mas Harsa udah nggak tahan kelihatannya ini.


__ADS_2