Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Akandra Diratama


__ADS_3

Jakarta,


Harsa


Dengan langkah tergesa dan sedikit berlari menyusuri lorong rumah sakit yang cukup ramai saat itu. Entah sudah berapa pasang mata menatapnya, sambil mengerutkan kening.


"Maaf permisi sus, ruangan observasi di mana ya?" tanyanya dengan napas naik turun. Ia hanya mampu mendengarkan dan menganggukan kepalanya saat seorang perawat memberinya petunjuk.


"Terimakasih sus." dengan langkah kaki lebar ia menuju ruangan yang disebutkan, hingga matanya membaca sebuah tulisan 'Ruangan Observasi' tepat berada di samping 'Ruangan Bersalin'.


"Maaf sus, atas nama Ibu Sekar? Saya suaminya." tanyanya saat melihat salah satu suster keluar dari salah satu tirai.


"Oh ini pak, di sebelah sini. Nomor 3."


Ia membuka sedikit tirai itu untuk memastikan, kemudian melihat istri dan mamanya di dalam. Kakinya melangkah masuk, mamanya menatapnya. Ia mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum menyentuh istrinya.


Sekar berbaring memunggunginya sambil menggenggam yang ia ketahu alat untuk mengukur berapa banyak kontraksi.


"Sayang.." sapanya sambil membelai lembut rambut Sekar, kemudian mengecup puncak kepala wanitanya itu.


"Kamu pindah sini aja, mama keluar ya temani papa. Tadi papa di bawah sebentar beli minum. Udah bukaan 5." mamanya beranjak dari kursi.


Matanya menatap Sekar yang sedikit-sedikit meringis menahan sakit. Hatinya merasa sangat kasihan melihat istrinya.


"Mas..." gumam Sekar lirih dengan senyuman tipis dan menggenggam pinggiran kasur saat merasakan gelombang cinta itu datang.


Jarinya meraih jemari lentik Sekar kemudian menggenggamnya.


"Maaf, tadi aku nggak dengar pas kamu telepon. Aku masih meeting, terus baca chat kamu. Untung masih ada pesawat buat siang ini."


Dirinya berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, agar Sekar tidak salah paham padanya. Memang itulah yang terjadi, ia tidak melihat ada panggilan di handphone nya saat ia sedang presentasi.

__ADS_1


Sekar tersenyum dan menganggukkan kepala,


"Nggak apa-a..pa.." ucap istrinya dengan lirih dan sedikit terbata-bata.


"Sakit banget ya? Mau aku elus punggungnya?" istrinya kali ini hanya mengangguk. Ia memilih duduk di tepi ranjang dengan satu tangan mengelus punggung bagian bawah istrinya.


Ia melihat selang infus di tangan istrinya. Lagi-lagi bibirnya mengecup lengan Sekar entah sudah ke berapa kalinya.


Sekar memejamkan mata dan mendesis, tangan lembut itu meremas tangannya dengan sangat kuat. Kali ini ia seperti ikut merasakan kehadiran gelombang cinta itu. Ia mengginggit bibir bawahnya saat melihat istrinya kesakitan. Tangannya beralih mengusap perut Sekar yang terasa sangat keras.


"Baik-baik ya nak, jangan bikin sakit mama." gumamnya pelan, namun malah disambut tawa kecil dari istrinya.


"Malah ketawa.." ucapnya sambil tersenyum saat mampu mengalihkan rasa sakit Sekar.


"Ya namanya mau lahiran kok nggak boleh sakit." jawab Sekar sambil mencubit tangannya.


Sudah satu jam lebih Sekar mengalami kontraksi yang tiada henti dan malah semakin menjadi. Namun istri tercintanya itu sama sekali tidak menyakiti dirinya, hanya sesekali menggenggam tangannya dengan sangat erat hingga memerah.


Satu kali tarikan napas dan mengejan ternyata Sekar masih belum berhasil. Dirinya kembali memberi sebuah semangat saat istrinya mulai mengejan kedua kalinya.


Suara tangis bayi laki-laki memenuhi seluruh sudut ruangan bersalin itu.


'Akandra Diratama' yang berarti laki-laki penuh ketenangan dan kesabaran, itulah nama yang ia pilih untuk putra pertamanya. Bayi itu terlihat besar dan juga suaranya terdengar sangat nyaring.


"4,05kg..panjang 51cm.." suara suster terdengar saat ia mengecup kening Sekar yang penuh peluh.


"Makasih sayang..makasih mama Sekar.." ungkapnya sambil meneteskan air mata yang sudah tak terbendung lagi.


Sekar


Hari ini ia sungguh merasakan kebahagiaan yang tak ternilai lagi. Walaupun drama pecah ketuban dini di saat suaminya sedang meeting di negara tetangga dan sempat susah dihubungi. Namun akhirnya Harsa datang di waktu tepat.

__ADS_1


Kebahagiaannya bukan hanya itu, kehangatan Harsa kembali ia rasakan saat ia mengalami kontraksi yang terasa semakin hebat, bahkan ia sempat melihat air mata yang menetes di wajah tampan suaminya itu.


Tangannya kini merangkul bahu Harsa saat suaminya itu mengecup keningnya dan memeluk dirinya sebagai ungkapan rasa terimakasih karena telah bertaruh nyawa melahirkan putra pertama mereka.


"Aku capek banget mas, rasanya ngantuk." gumamnya lirih di telinga Harsa. Seketika suaminya langsung melepas pelukan mereka.


"Jangan tidur dulu, itu Akandra mau dibawa ke sini buat IMD. Tahan ya sayang, nanti tidurnya pas udah di kamar inap aja." sekuat tenaga ia menahan rasa kantuk dan lelahnya, ia juga mengingat ucapan mama Priska untuk bisa melawan rasa lelahnya tepat setelah proses melahirkan.


Entah mitos atau fakta, mertuanya menyuruhnya untuk beristirahat setelah berada di kamar inap dan melewati proses menyusui dini, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena badan terasa sangat lelah.


Namun ia memilih menurut saja, apalagi di dadanya saat ini sudah bersandar sebuah bayi lucu yang tengah mencari dan mencecap sumber kehidupan pertama bagi manusi kecil itu.


Andra, itulah nama panggilan bagi putra pertama mereka. Bayi itu terlihat pintar mencecap sumber kehidupan pertamanya.


"Pelan-pelan sayang.." gumam suaminya sambil mengelus kepala mungil yang sudah dipenuhi rambut yang lebat.


Saat Andra menyusu, dokter pun merapikan tubuh bagian bawahnya yang entah seperti apa rupanya setelah mengeluarkan manusia kecil dengan berat 4kg ini.


Tak lama setelah dokter menyelesaikan semuanya dan Andra telah ditaruh di dalam box bayi, mama Priska dan papa Abinawa pun masuk ke ruangan bersalin.


"Selamat sayang..makasih sudah kasih mama papa cucu lagi. Bikin yang banyak ya." ucap amam Priska sambil memeluknya.


Sedangkan Harsa dan papa tengah sibuk mengabadikan beberapa gambar Andra yang berada di dalam box bayi.


"Aku ngantuk ma..udah boleh tidur belum?" tanyanya ke mama Priska yang ada di sampingnya.


"Boleh kok, tapi kamu nggak lapar? Nggak mau makan dulu di kamar?"


"Yaudah deh, makan dulu aja baru tidur ya kalau gitu." bagaimanapun perutnya saat ini terasa sangat kosong.


Ia menoleh menatap Harsa yang terlihat sangat bahagia setelah kelahiran Andra. Terbukti dari wajah Harsa yang penuh senyum dan tertawa saat melihat bayi kecil itu menjulur-julurkan lidah ke arah mereka.

__ADS_1


......................


__ADS_2