
Sekar
Hatinya semakin tak menentu, jantungnya semakin berdetak cepat, bahkan tangannya pun semakin dingin saat mobil mewah Harsa mulai memasuki pagar rumah tinggi yang dijaga oleh dua sekuriti. Lalu Harsa memarkirkan mobilnya di halaman yang sangat luas.
Rumah bergaya klasik, dengan dominan warna putih, dan sentuhan aksen bergaya Eropa telah menjulang tepat di hadapannya.
Rumah yang sangat megah, bukan lagi dikata bagus menurutnya. Baginya selama ini rumah dengan bangunan terbagus adalah rumah milik ayahnya, walaupun ia hanya melihatnya dari luar.
"Ehh..nggak usah mbak..biar saya saja yang bawa tasnya sendiri, nggak apa-apa." ucapnya saat ada asisten rumah tangga Harsa yang meminta tas berisikan baju-bajunya dari tangannya.
"Sayang..biar dibawa sama mbak Ningsih." sahut Harsa sambil menganggukkan kepala ke arahnya.
Akhirnya dengan penuh rasa sungkan ia menuruti kemauan Harsa.
"Makasih banyak ya mbak.." ucapnya ke mbak Ningsih yang sudah tersenyum ramah padanya.
"Mama..mama...!" suara Harsa memecah kesunyian rumah yang yang sangat besar itu.
"Ehh..kamu akhirnya pulang juga.." sapa seorang ibu-ibu yang terlihat sudah berumur separuh abad, namun terlihat masih sangat cantik dan anggun.
"Dari kemarin perasaan pulang terus deh ma.." timpal Harsa. Beberapa detik kemudian ibu yang ia ketahui itu adalah mama Harsa, menatapnya sambil tersenyum.
"Pasti ini yang namanya Sekar ya?" tanya ibu itu kepadanya dan menghampirinya.
Ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum sopan,
"Iya tante, saya Sekar, senang bertemu dengan tante." sapanya dengan ramah dan lembut.
"Kok tante? Panggil mama aja ya, biar enak."
Ucapan mama Harsa, membuat matanya beradu pandang dengan mata Harsa. Lelaki itu mengulum senyum penuh arti kepadanya.
"I..Iya ma.." jawabnya sedikit canggung.
"Ma, Sekar ini lagi sakit. Makanya aku bawa ke sini. Asam lambungnya naik, ada peradangan di lambung jadi sampai menggigil gitu kalau lagi kambuh. Harus istirahat total, kalau aku tinggal di kost...mana mungkin..lagi-.."
Harsa belum selesai menjelaskan, mamanya langsung memotong dan mengacungkan jari ke arah Harsa.
"Stop! Mama udah ngerti maksud kamu!" kemudian mama Harsa beralih menatapnya.
__ADS_1
"Sekar kamu di sini aja ya sama mama. Nanti kalau Harsa kerja, biar kamu ada yang jagain. Kalau di apartemen sepi, lagian juga bahaya kalau berdua aja sama Harsa di apartemen.." pinta mama Harsa membuatnya tersenyum kaku.
"Kasihan kamunya kalau berdua sama anak mama itu, udah mending sama mama aja di sini ya.." bisik mama Harsa sambil merengkuh bahunya, seketika membuatnya tertawa kecil.
"Paling bentar lagi papa datang dari kantor. Oh iya, kamar kamu nanti di sebelah kamar Harsa ya, di atas." ia pun menganggukkan kepala, apalagi yang dapat ia lakukan selain menurut.
"Kenapa nggak di kamar aku aja sih ma? Orang tadi malam juga udah sekamar, seranjang malahan. Sempit lagi."
Ucapan Harsa membuatnya membulatkan mata dan menelan salivanya.
"Sungguh memalukan!" batinnya sambil memejamkan matanya sebentar.
"Kamu itu ya benar-benar! Sekar itu baru sakit, nggak macam-macam kamu ya!" timpal mama Harsa.
"Lhoh, maksudnya itu biar kalau ada apa-apa kan Sekar bisa langsung minta tolong aku. Kalau gini kan aku juga sama aja, standby di kamarnya terus." jelas Harsa sambil mengerlingkan mata ke arahnya dan ia langsung mengambil kesempatan untuk memelototkan matanya ke arah Harsa.
"Yaudah lah kalian atur aja gimananya, pusing mama sama kamu!" ucap mama Harsa.
"Nggak apa-apa kok ma, Sekar tidur di kamar sebelah tempat mas Harsa aja." sahutnya sambil tersenyum ramah.
"Iya udah terserah kalian gimana? Udah istirahat dulu, kamu baru sakit. Nanti kalau ada apa-apa, butuh apa-apa, nggak usah turun ke bawah. Langsung pencet angka 3 di telepon kamar, nanti ada asisten yang naik ke atas ya." jelas mama Harsa, ia hanya menganggukkan kepalanya lagi.
"Jangan sungkan di sini. Anggap rumah sendiri, anggap mama itu ibu kamu ya."
Ucapan mama Harsa kali ini membuatnya terharu dan rindu sosok mamanya.
"Iya ma, terimakasih banyak." bibirnya tersenyum tulus.
Tak terasa sudah dua jam ia berada di rumah Harsa dan sudah dua jam pula ia tidak bisa memejamkan matanya. Ia membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kamu itu kenapa? Daritadi susah banget mau tidur kelihatannya." ucap Harsa yang berada di sampingnya, duduk bersandar pada sandaran ranjang sambil memangku laptop.
Ia membalikkan tubuh miring menatap Harsa,
"Nggak bisa tidur, aku nggak terbiasa tidur jam segini. Aku bosan mas, aku pengin ngerjain apa gitu." ia sungguh merasa sangat bosan, apalagi ia merasa badanny sudah mulai terasa membaik.
"Istirahat dulu, besok baru boleh mulai ngerjain tugas kuliah." jawab Harsa dengan mata fokus pada layar laptop.
"Kapan aku boleh kerja mas?" tanyanya, ia merasa sangat rindu bekerja, lagian tabungannya juga semakin menipis pastinya bulan depan.
__ADS_1
Harsa langsung menatapnya dan mengerutkan dahinya,
"Masih nanti itu, kalau kamu udah benar-benar sembuh." tegas Harsa.
"Tapi mas, bulan depan pasti pemasukkanku berkurang.Tabunganku udah menipis mas, aku harus kerja." pintanya dengan setengah memohon.
Harsa menghela napas,
"Kamu kerja sama aku aja,kalau cuma coffeshop aku juga ada." ucap Harsa datar.
"Tapi kan jauh mas Harsa sayang, aku tinggal di Depok. Coffeshop kamu di daerah sini. Yang benar aja aku tiap hari suruh mondar-mandir." ia mendengus pelan dan mencoba menyabarkan diri.
"Ya nggak usah mondar-mandir. Kamu juga nggak usah datang tiap hari. Kamu gantiin aku, kamu yang kelola, nanti tinggal laporan sama aku. Beres kan?"
Ia mengangkat kedua alisnya dan mengerjapkan matanya.
"Kenapa masih nggak mau? Aku ngasih kerjaan lho, bukan ngasih uang ke kamu secara cuma-cuma. Aku tahu kamu, kamu tipe perempuan yang mandiri. Makanya aku minta kamu kelola bisnis yang aku punya, karena kalau aku cuma kasih kartu atm ke kamu, pasti bakalan ditolak mentah-mentah." penjelasan Harsa membuatnya terkekeh pelan.
"Aku nggak pengin kenapa-kenapa sama kamu. Walaupun kita di kota yang berdekatan, tapi kan aku nggak bisa setiap waktu ada buat kamu. Contohnya seperti kemarin. Jadi aku minta, kamu di sana fokus sama kuliah, nggak usah pakai acara kerja pulang malam-malam." tegas Harsa lagi.
Ia masih menatap lekat wajah kekasihnya yang tampan itu,
"Mas, posesif ihh.." ucapnya sambil mengulum senyum.
"Biarin..! Posesif itu perlu kalau berhadapan sama perempuan seperti kamu."
Dirinya kembali tertawa kecil,
"Tapi aku diajarin dulu cara mengelolanya gimana, aku kan buta sama bisnis. Aku takut buat rugi mas." pintanya sembari merengkuh tangan Harsa dan mendekap tangan kokoh itu.
"Iya, makanya kamu tidur di rumah dulu. Nanti kalau kuliah biar diantar sama sopir, terus pulang sini lagi." Harsa meletakkan laptop di sisi ranjang, lalu ikut berbaring di sampingnya.
"Aku lagi banyak kerjaan soalnya minggu-minggu ini, aku susah kalau mondar-mandi rumah ke kost kamu. Ngerti?" jelas Harsa sembari membelai wajahnya.
Tak lama Harsa mendekat ke arahnya dan langsung mengecup bibirnya sebentar.
"Boleh kan cium ini?" pertanyaan Harsa pasti membuat wajahnya merah saat ini.
Tak menunggu jawaban atau memang tak butuh suatu jawaban, Harsa kembali menyatukan wajah mereka. Kali ini dengan waktu yang cukup lama, bahkan membuat dirinya kehabisan nafas.
__ADS_1
......................