
Jakarta,
Harsa
Matanya tak berkedip menatap gadis cantik yang berjalan menuju ke arahnya. Bibirnya langsung tersenyum saat kembali bertemu dengan perempuan yang masih ada di hatinya.
"Woi mas..!" sapa Arsya ke arahnya dengan begitu ceria, entah kenapa tingkah Arsya selalu membuatnya tertawa.
Gadis itu sangat cantik dan memilik tubuh yang semampai, persis dengan perawakan orangtua Arsya. Namun, tingkah Arsya jauh sekali dengan sebutan anggun, walaupun saat gadis itu sedang memakai dress seperti sekarang.
"Kamu itu kapan sih jadi lebih anggun? Lebih kelihatan wanita?" tanyanya saat mereka sudah berada mobil sambil menyalakan mesin mobil.
Arsya menatap dirinya sendiri dari tas hingga bawah, lalu mengernyitkan dahi sambil menatapnya.
"Ini kan udah anggun, aku udah pakai dress lho mas?! Udah cantik begini, kamu nggak ngerasa?"
Jawaban Arsya sontak membuatnya terbahak,
"Anggun itu bukan dilihat dari kamu pakai dress,tapi cara kamu ngomong sama gestur kamu. Masih aja banyak tingkah gitu."
Arsya meliriknya sekilas,
"Sampai kapanpun aku tetap nggak bisa anggun kalau masalah itu. Enakan juga jadi apanya gini. Udah dehh cepetan jalan, atau aku balik ke kamar lagi nih?!" salak gadis itu.
"Cium dulu kek..." godanya tanpa menatap Arsya sedikitpun.
"Aku bilangin Mas Genta lho?!"
"Bilangin aja, nggak takut aku kalau cuma sama Genta. Sana bilangin, Harsa minta cium gitu!" ucapnya sembari mulai melajukan mobilnya keluar dari hotel.
Arsya
Sesekali ia melirik lelaki yang ada di sebelahnya. Masih tampan, bahkan terlihat lebih tampan dan dewasa. Maklum dulu mereka pernah bersama menjalani hubungan tanpa status yang jelas selama dua tahun, saat dirinya masih SMA dan Harsa masih kuliah.
"Kalau mau bilang aku tambah ganteng boleh lho Sya, nggak usah dipendam sambil curi-curi pandang." gumam Harsa sambil mengulum senyum, sontak membuatnya melirik malas.
"Siapa juga yang curi-curi pandang, aku mah ngelihatin langsung, nggak usah pakai curi-curi." jelasnya gamblang tanpa ada malu sedikitpun.
Harsa pun langsung tergelak mendengar jawabannta,
"Ada ya cewek sejujur dan sefrontal kamu, ngaku lagi."
__ADS_1
"Ya aku kan emang gini orangnya, nggak suka pakai acara malu-malu." jawabnya sambil terkekeh.
Memang begitulah dirinya, apa adanya tanpa dibuat-buat.
"Kamu kenapa sama cowokmu? Lagi ada masalah?" tanya Harsa sambil menatapnya saat mobil berhenti di lampu merah
Ia mengangkat bahunya dan mencebikkan bibirnya,
"Lagi bosan aja mungkin, dia bosan mungkin terlalu lama nunggu aku mau diajak nikah."
Harsa tampak menautkan alis,
"Yaudah dong kalau gitu, tinggal mau diajak nikah aja kan beres."
Dirinya pun mendengus pelan,
"Ayah nggak ngebolehin aku nikah sebelum ngerasain kerja dulu mas."
Lelaki itu menganggukkan kepalanya, lalu menjalankan kembali mobilnya.
"Ya memang ada benarnya juga sih, biar kamu tahu rasanya hidup itu bagaimana?! Susahnya cari uang seperti apa?! Jadi kamu bisa tumbuh jadi wanita yang lebih mandiri dan dewasa."
"Makanya nikah sama aku aja, kalau aku bakalan ngertiin kamu. Kamu sih, nggak mau sama aku." gumam Harsa yang langsung membuatnya menahan tawa.
................
Arsya
Setelah menemani serangkaian kegiatan lelaki bernama Harsa, membuatnya sedikit lelah sehingga tertidur di mobil.
"Cantik..bangun dong..udah sampai nih..!" ucap Harsa seraya menunjuk-nunjuk pipinya dengan ibu jari, langsung membuatnya terbangun.
Matanya menatap ke luar jendela,
"Katanya mau makan? Kok ke rumah?" tanyanya saat ia melihat bangunan besar yang ada di depan matanya saat ini adalah rumah keluarga salah satu konglomerat yang bergerak di bidang tambang, perhiasan, dan juga hotel.
Namun pertanyaannya sama sekali tidak dijawab oleh Harsa, karena lelaki itu malah memilih turun dari mobil.
"Mama udah masakin buat mantan calon menantu. Cepetan turun, keburu dingin!" ucap Harsa yang tengah membuka pintu mobil dN berdiri tepat di sampingnya.
................
__ADS_1
Semarang,
Sekar
tokkk..tokk..tokkk..
tokk..tokk..tokkk..
Ia mencoba mengumpulkan kesadarannya setelah tertidur saat belajar. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu.
"Malam cantik..." sapa seseorang sambil menyodorkan satu paper bag berisi makanan.
Kemudian lelaki itu mengecup keningnya dan melangkah masuk.
"Kamu seharian belajar?" tanya Nanda sambil menatap buku-buku yang tertumpuk di meja ruang tamu, lalu kembali menatapnya.
Ia pun hanya mengangguk lalu duduk di sofa ruang tamu itu.
"Jangan terlalu capek, jangan terlalu keras. Kuliah di sini aja kenapa sih? Barengan sama aku." ucap kekasihnya itu sambil menatapnya.
"Ya sedapatnya di mana, bisa di sini atau luar kota. Kan aku cuma berusaha, yang penting aku kuliah." jawabnya dengan tangan yang tengah membuka makanan.
"Terima tawaran aku, kuliah di sini. Biar aku yang tanggung biaya kuliah kamu sampai lulus. Tapi kamu di sini sama aku." Nanda mendekatkan badan ke arahnya dam menatapnya intens.
Entah ini sudah tawaran ke berapa kali dari kekasihnya itu, tapi dirinya tetap tidak akan mau. Bukan karena ia tidak mencintai Nanda, tapi lebih kepada hubungan mereka masih pacaran. Ia tidak akan merepotkan siapapun, ia akan berusaha berjuang sendiri walaupun dirinya seorang yatim piatu.
Ia menggelengkan kepalanya yang membuat Nanda mendengus pelan.
"Mau sampai kapan kamu keras seperti ini? Aku ini pacar kamu lho, kalau bukan aku yang bantuin kamu siapa lagi?"
"Pemerintah!" sahutnya cepat sambil memberikan cengiran yang sukses membuat wajah Nanda yang sudah ditekuk menjadi tertawa.
"Yang...! Kamu itu ihh...aku serius. Aku biayain kamu kuliah juga dari uang aku sendiri, bukan minta sama mama papa."
"Aku juga serius kan, aku minta bantuan pemerintah dulu, nanti kalau pemerintah nggak bisa bantuin aku, baru aku masukin proposal ke coffee shop kamu." jelasnya sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
"Hmmm..." Nanda memilih merebahkan diri di sofa.
"Yang penting kamu harus pinter-pinter kelola uang peninggalan mendiang mama kamu sama asuransi-asuransi atas nama kamu." tambah Nanda.
"Iya, tapi untuk aset kepemilikan saham di kantor papa nggak bakalan aku terima mas. Aku nggak mau terima apapun dari seseorang yang udah buat hidupku dan hidup mama hancur." jawabnya dengan mata menerawang mengingat kejadian masa lalu yang selalu membuatnya sakit hati.
__ADS_1
"Ya itu terserah kamu, yang penting kamu jadi orang jangan terlalu keras. Aku di sini pacar kamu, bukan orang lain." sahut Nanda sambil mengusap puncak kepalanya.
......................