
Sekar
Saat ini ia masih bergelung di dalam selimut, setelah berhasil membuat tubuhnya setengah polos, Harsa memilih menghentikan aksi panas itu, lalu menyelesaikan sendiri di kamar mandi.
"Kok nggak pakai baju lagi? Masih kurang?" goda Harsa yang telah keluar dari kamar mandi hanya memakai boxer.
Tangannya menggenggam erat selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya,
"Mas, aku kan nggak bawa baju ganti ke sini. Aku pinjam kaos mu ya." pintanya dengab wajah memelas.
Harsa mendekat kepadanya,
"Gini aja gimana? Aku suka kalau kamu tidur sama aku dengan baju seperti ini." ucap Hara sambil mengedipkan satu mata.
"Dasar me sum! Nggak ahh, aku pinjam kaos mas. Bisa bahaya kalau aku pakai gini semalaman." ucapannya membuat Harsa tertawa terbahak, kemudian melangkahkan kaki mengambil salah satu kaos di lemari.
Setelah ia memakai kaos itu, ia menatap cermin besar yang terletak di samping ranjang. Kaos itu hanya mampu menutupi separuh pahanya saja.
"Ini sama saja kalau gini, tetap berbahaya." batinnya sembari mendengus pelan.
"Tetep hot kan? Makanya nggak usah pakai sekalian." timpal Harsa yang juga menatap dirinya.
Dengan cepat ia langsung menarik selimut tebal itu dan menutupi tubuhnya. Sedangkan lelaki itu malah terkekeh dan merangkak naik ke atas ranjang, merebahkan diri di sampingnya.
Harsa setengah berbaring pada tumpukan bantal dan melihat handphone yang sempat terabaikan saat kegiatan panas mereka tadi.
"Besok kita ke Semarang, terus dua minggu lagi kita juga ke Yogya." ucapan Harsa membuatnya mendongakan kepala.
"Ada acara apa di Yogya?"
"Sahabatku nikah, adik kelasku SMA dulu waktu di Bali. Udah lama banget kita nggak ketemu, 5 tahun." jawab Harsa dengan mata masih menatap layar benda pipih itu, kemudian terkekeh sendiri.
"Kamu kenapa sih?" selidiknya.
__ADS_1
"Nggak, sahabatku itu kan namanya Genta, akhirnya dia nikah sama cewek yang udah dia suka dari jaman masih balita."
Wajahnya langsung mengernyit,
"Balita? Masa' balita udah jatuh cinta?"
"Ya nggak tahu juga sukanya kapan, tapi mereka kenal udah dari jaman masih bayi. Jadi orangtua mereka itu sahabatan dari jaman masih kuliah, ehh lha kok Genta sama Prisha malah saling suka." cerita Harsa membuatnya tersenyum.
"Lucu ya, bisa gitu." timpalnya.
Harsa menganggukkan kepala,
"Padahal Genta itu yang suka banyak banget, dia juga ganti cewek udah berapa kali, nggak bisa dihitung jari mah. Tapi cintanya tetap ke Prisha."
"Kaya' mas dong? Udah ganti berapa wanita? Hmm...?! Sampai mesti pinjam jarinya orang buat ngitung." selorohnya, sontak langsung membuat Harsa melirik ke arahnya.
"Ya namanya juga lelaki, semakin berkelana semakin banyak ilmu." jawab Harsa dengan sangat yakin.
Kemudian lelaki itu beranjak dari ranjang dan membuka koper, lalu mengambil paper bag dari brand ternama berwarna putih hitam.
Ia bangun dari posisinya lalu membuka pemberian Harsa. Awalnya ia hanya ingin membuka hingga bagian box saja, namun Harsa memintanya membuka hingga bagian dalam tas.
Matanya melihat satu kotak kecil beludru berwarna hitam.
"Buka dong." pinta Harsa dengan tatapan yang teduh.
Bibirnya menganga saat melihat cincin dengan satu berlian besar.
"Maa..aas..." ucapnya terbata-bata.
Harsa mengambil cincin itu dan menyematkan di jari manisnya.
"Jaga diri dan hati kamu buat aku. Semuanya yang ada di diri kamu itu milik aku. Dan aku nggak mau berbagi sama siapapun."
__ADS_1
Permintaan Harsa seketika membuat tubuhnya diam terpaku, matanya berkaca-kaca, ia langsung memeluk Harsa dengan erat.
"Aku pengin kita bisa secepatnya nikah, tapi kamu masih kuliah, masih punya tanggungjawab." imbuh Harsa lagi, ia langsung mendongakan kepalanya.
"Kamu kalau nggak jadi ikut maju ke tingkat nasional gimana? Apa itu salah satu impian kamu juga?" tanya Harsa kali ini dengan menatap matanya lekat, seakan mencari kejujuran dari matanya.
Bibirnya tersenyum,
"Sebenarnya aku ikut duta wisata bukan karena impian aku, karena aku ingin membuktikan dirimu saat itu bahwa aku bisa. Aku punya masa lalu yang mebuatku trauma mas." kali ini ia mau berusaha jujur dan terbuka ke Harsa, lelaki yang berhasil mencuri hatinya.
"Maksudnya..?" Harsa menyipitkan mata menatapnya.
"Ini diberesin dulu ya, tas mahal takut rusak. Nanti aku disuruh nyicil malahan." gumamnya sembari menata kembali tas berwarna hitam itu ke dalam box, sedangkan Harsa hanya terkekeh.
Ia kembali merebahkan badannya di samping Harsa, lalu mencoba menceritakan tentang masa lalunya.
"Aku besar dari keluarga broken mas. Sebenarnya ayahku juga seorang pengusaha di Surabaya mas. Waktu aku SD, ayah aku selingkuh sama sekretarisnya sampai wanita itu hamil. Dan semenjak ayah selingkuh, ayah selalu bertengkar sama mama, bahkan sampai main tangan sama mama di depan mata aku sendiri."
"Sampai akhirnya ayah benar-benar pergi dari mama, tanpa bercerai dengan mama. Mama pulang ke Semarang, memilih untuk jadi single parent. Tapi kesehatan mama terus menurun semenjak divonis terkena kanker rahim. Dan akhirnya meninggal saat aku masih SMA kelas 2." air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia menghela napasnya, satu tetes air matanya pun akhirnya lolos begitu saja,
"Dulu waktu aku masih sekolah, hampir setiap malam aku selalu mimpi buruk tentang kekerasan yang ayah aku lakukan dan baru sembuh sejak aku mulai masuk kuliah. Entah karena kesibukanku atau apa, tapi lama-lama hilang mimpi itu."
"Aku trauma sama kata-kata ayah yang selalu bilang kalau mama nggak bisa apa-apa, hanya cuma jadi ibu rumah tangga yang nggak bisa mandiri menghasilkan uang. Sejak itu aku selalu berpikir bahwa aku harus bisa berdiri sendiri tanpa minta bantuan ayah, walaupun saat itu mama sudah meninggal."
Harsa
Lengannya langsung merengkuh tubuh Sekar ke dalam pelukannya. Sungguh ia tidak menyangka kehidupan Sekar sangat pelik dan menyakitkan di saat usianya yang masih sangat muda.
Perempuan itu masih terisak seakan meluapkan rasa sesak di dada yang telah lama dipendam.
"Kamu punya aku sekarang, kita jalani semua bersama. Aku akan melindungi kamu." ucapnya seraya mengelus punggung Sekar yang masih bergetar.
__ADS_1
......................