
Harsa
Saat pintu kamar mandi terbuka, ia menatap perempuan di depannya yang keluar memakai celana jeans dan kaos putih.
Setelah itu Sekar menyisir dan menguncir tinggi rambut panjangnya, lalu mengoleskan sedikit lip tint atau apalah itu ia tidak tahu, intinya berwarna sedikit merah agar tidak terlihat pucat. Lalu menyemprotkan sedikit parfum di beberapa titik tubuhnya.
Gadis itu berjalan mengambil cardigan berwarna navy. Kemudian sesaat ia melirik ke kaosnya sendiri yang juga berwarna navy.
"Kamu itu mau ke dokter atau mau kencan sama aku sih?" tanyanya gamblang yang membuat Sekar terdiam menatapnya.
"Kenapa gitu?" tanya Sekar dengan polosnya.
Bibirnya tersenyum , kemudian kepalanya menggeleng.
"Nggak apa-apa, kamu cantik." ucapnya sambil beranjak berdiri.
Sekar tertawa kecil,
"Cantik apanya? Orang cuma pakai baju biasa gini, dandan juga nggak. Nggak usah ngegombal deh mas." cibir gadis itu.
"Lhoh, cantik nggak harus dandan kan? Biasa seperti ini aja, kamu cantik, apalagi dandan." jawabnya
"Udah ayo berangkat ! Jangan lupa bawa tisu, meler nanti." godanya sambil terkekeh.
Sekar
Satu mobil lagi bersama Harsa, entah apa maksud dan tujuan lelaki ini, ia hanya menjalani alur saja selama Harsa tidak macam-macam padanya.
Bahkan ada berapa mobil yang Harsa punya pun ia tidak tahu, yang jelas mobil yang dipakai Harsa saat ini berbeda dengan yang dipakai saat mengantar dirinya. Namun yang ia tahu, semuanya adalah mobil mewah, mobil keluaran Eropa.
Harsa membawanya ke rumah sakit, karena tempat praktek dokter umum tadi terlalu penuh. Kepalanya memang masih terasa sedikit pusing karena flu.
"Pakai maskernya dulu, baru turun." titah Harsa sambil memberika masker kepadanya.
"Mas lucu deh, daritadi kenapa mas nggak pakai masker pas dekat-dekat aku." gumamnya sambil tertawa pelan.
"Nggak apa-apa kalau aku ketularan. Nanti tinggal minta gantian kamu yang ngerawat aku." timpal Harsa kemudian turun dari mobil.
Harsa membuka telapak tangan, menawarkan untuk menggandeng tangannya.
"Mau nyebrang? Pakai gandengan?" selorohnya sambil mengulum senyum, namun ia juga mengulurkan tangannya menerima tawaran Harsa.
"Biar nggak hilang.." ucap Harsa sambil melangkahkan kaki.
Karena sudah malam, akhirnya ia harus diperiksa di UGD. Setelah dokter memeriksa dirinya, ia berjalan menghampiri Harsa yang sudah duduk di depan meja dokter.
"Istrinya flu berat ini mas." ucap dokter itu.
Seketika matanya membulat dan tersedak salivanya sendiri.
__ADS_1
Namun Harsa malah hanya terdiam dan tersenyum tipis sambil sekilas melirik ke arahnya.
"Tapi nggak apa-apa kan dok?"
"Nggak apa-apa, harus banyak istirahat aja. Istrinya masih muda banget ya mas, lulus SMA nikah ya?" selidik dokter itu, jujur membuatnya hanya mampu menelan salivanya.
"Iya dok, biar ada yang ngejagain. Orangtuanya sudah nggak ada, makanya saya ajak nikah aja. Tapi masih kuliah kok dia dok." jawab Harsa seakan tanpa dosa.
"Oh gitu, ya syukurlah lah ya. Tadi saya kira hamil, tapi ternyata masih mens bulan ini." terang dokter itu sambil mencatatkan beberapa obat.
Tak lama kemudian,
"Ini obatnya, jangan kecapekan dulu. Istirahat dulu ya mbak."
"Iya dok, terimakasih banyak." ucapnya sambil tersenyum kaku.
Harsa
Jujur ia menahan tawa setelah dokter mengira mereka sepasang suami istri.
"Mas iihhh, ngapain tadi bilang gitu?" ucap Sekar sambil melirik ke arahnya.
"Ya daripada nggak dijawab, biar cepat selesai juga. Lagian siapa tahu jadi doa kan? Ya mungkin berarti kita terlihat serasi." terangnya sambil mengulas senyum ke arah Sekar.
Wajah Sekar langsung tampak merona, sungguh ia sangat gemas. Rasanya ingin sekali ia mencium pipi mulus itu.
"Kamu mau makan lagi atau beli apa? Mumpung ada aku, jadi besok-besok nggak harus keluar-keluar kost naik motor." tawarnya saat mereka sudah ada di mobil.
"Kita beli makanan, roti atau apalah biar kalau kamu lapar ada makanan. Nggak usah keluar. Di sini toko yang masih buka dimana ya?" tanyanya, jujur saja ia tidak tahu daerah sini.
"Iya mas, dekat kost aja. Ada kok."
"Good girl, gadis penurut.." batinnya sambil tersenyum.
Sekar adalah perempuan yang sangat ia idamkan. Sederhana, biasa apa adanya, namun punya value yang dibanggakan.
Tapi entahlah, sisi negatif perempuan ini masih belum ia ketahui. Baginya mengetahui kekurangan bukanlah untuk menjauh, tapi lebih bagaimana cara untuk menyeimbangkan suatu hubungan. Bagaimana ia harus bersikap dan bertindak saat sisi itu terungkap nantinya.
"Aku dua hari ke depan harus ke Bali. Berangkat lusa, sampai Jumat. Habis itu kita ketemu ya."
"Oh iya, kamu juga udah harus sembuh! Aku mau ajak kamu jalan." imbuhnya sambil sekilas melirik Sekar lalau beralih ke jalan di depannya.
"Tapi aku kerja mas.."
"Ehh..tapi kalau weekend aku malah sering nggak kerja sih mas, soalnya aku selalu stand by pulang ke Semarang kalau ada tugas negara. Tapi jangan dadakan aja sih mas." jelas Sekar sambil menatap wajahnya.
"Iya, yang penting kamu sehat dulu." ucapnya sambil mengelus puncak kepala Sekar.
Sekar
__ADS_1
Harsa mengajaknya membeli wedang ronde di dekat kost nya sebelum pulang.
"Ehmm..mas, aku boleh tanya?"
Harsa mengangguk dengan mulut yang sibuk meniup kuah ronde di sendoknya.
"Mas itu usahanya bergerak di bidang apa sih?"
Harsa masih sibuk dengan mangkok itu, sesekali menatapnya.
"Kamu maunya apa?"
"Iihh mas, ditanya malah balik tanya.." karena sungguh ia hanya tahu Harsa memiliki perusahaan start-up di bidang finance.
"Lhoh, bukan gitu. Kamu kan kemarin udah ikut seminar, kan tahu aku usahanya apa." jawab Harsa sambil menatap matanya.
"Tapi dengar-dengar, mas punya banyak usaha."
Harsa tersenyum,
"Ada beberapa sih, ada yang usaha keluarga, ada yang binis aku sendiri."
"Keluarga besar ada hotel sama kampus, kalau papa sih ada hotel juga, supermarket, sama rumah sakit. Kalau aku ya perusahaan start-up aja, finance sama pendidikan." jelas Harsa masih sambil mengaduk-aduk isi mangkok.
"Tapi ya ada sih bisnis kecil-kecilan, coffee shop." imbuh lelaki tampan itu.
"Coffee shop kok kecil.." timpalnya yang langsung membuat Harsa terkekeh.
"Besok kapan-kapan aku ajak ke coffee shop, siapa tahu nanti bisa kamu yang pegang."
Harsa tampak santai mengucapkan hal itu, seakan-akan mereka adalah sepasang kekasih atau suami istri.
"Ternyata banyak ya informasi tentang mas di internet?!" ucapnya membuat Harsa menaikkan alis menatapnya.
Lelaki itu tertawa geli,
"Iya ya? Palingan bentar lagi juga ada berita mungkin, Harsa Dewananda jalan dengan seorang perempuan bernama Sekar." goda Harsa yang sontak membuatnya membulatkan matanya.
"Siapa aku?! Aku hanyalah remah-remah kerupuk mas." gumamnya.
"Oh iya, kamu kalau habis dari duta wisata provinsi, terus berangkat ke nasional dong?" tanya Harsa kepadanya.
Ia mengangguk,
"3 bulan lagi pembekalan sih mas. Nggak berharap banyak sih aku, jalani aja."
"Ya kalau kamu maju tahun besok. Aku mundur jadi juri."
Ucapan Harsa langsung membuat bibirnya menganga sempurna.
__ADS_1
......................