Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Hanya Masa Lalu


__ADS_3

Harsa


Setelah selesai dengan sarapan mereka, ia kembali menghampiri Sekar yang juga sedang bersiap-siap berangkat.


"Aku berangkat dulu ya.." gumamnya dengan mendekap tubuh ramping itu dari belakang, lalu mengecup pipi mulus itu.


"Ehh..iya mas, hati-hati ya." Sekar membalikkan tubuh menghadap dirinya.


Dengan cepat ia mengecup bibir ranum itu,


"Nggak boleh genit."


"Iya, mas juga nggak boleh macam-macam." bibirnya langsung tersenyum saat Sekar juga mulai posesif dengan dirinya.


"Ikut aja yuk! Biar bisa bobok bareng lagi." gemasnya menangkup kedua pipi Sekar.


"Nggak!" sahut Sekar dengan cepat.


Namun sedetik kemudian,


"Besok aja pas di Semarang.." bisik Sekar di telinganya.


Bibirnya mengulum senyum,


"Nakal..." gumamnya sambil mengerlingkan matanya, wajah Sekar sudah tampak merona.


Urusan bisnisnya kali ini mengharuskannya untuk pergi bersama Lintang, karena perempuan itu masih menjadi Brand Ambassador dari bisnis start-up nya.


Biasanya ia mengajak satu orang lagi agar tidak berduaan saja. Namun, hari ini jadwal semuanya bertabrakan, sehingga ia terpaksa pergi berdua dengan Lintang.


Suasana di mobil tampak sunyi. Dulu memang ia sangat tertarik dengan Lintang, perempuan berparas manis, dengan kulit sawo matang, dan bertubuh semampai. Namun tidak lagi dengan sekarang, hatinya sudah tertutup dengan Lintang, semenjak kejadian dulu.


Bahkan, selama perjalanan di pesawat pun, ia lebih memilih menyibukkan diri dengan gadget nya. Hanya berbincang sesaat masalah pekerjaan saja dengan Lintang.


"Iya sayang, Ini lagi makan. Pulangnya hati-hati ya. I love you." ucapnya mengakhiri video call dengan kekasihnya.


Lintang sesekali menatapnya, dirinya tahu itu.


"Kamu udah lama sama Sekar?"


Dirinya hanya menggeleng menjawab pertanyaan perempuan yang saat ini duduk di hadapannya.


"Dia nginap di rumah kamu?" selidik Lintang lagi.


"Bukan nginap, emang sekarang Sekar tinggal di rumah mama. Mama yang minta, biar nggak sepi." jelasnya kali ini tanpa menatap Lintang sedikit pun.


Lintang

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan Harsa, hatinya merasa tercubit dan terasa sakit.


"Emang kalian udah mau nikah?"


Harsa tersenyum dan sedikit terkekeh dengan pertanyaannya.


"Emang kenapa? Penginnya sih gitu, tapi dia masih ada tugas negara yang harus diselesaikan."


Jawaban Harsa kali ini membuatnya mengernyit,


"Tugas negara?"


"Dia duta wisata.."


Ucapan Harsa kali ini membuat matanya membulat, ia tidak menyangka Sekar adalah perempuan yang berbeda, pantas saja Harsa jatuh cinta pada perempuan itu.


Jujur dalam hatinya masih sangat mencintai Harsa, tapi dirinya pun tahu diri. Baginya, Harsa masih mau menerimanya sebagai rekan kerja saja sudah lebih dari cukup.


Dulu Harsa tak pernah sedingin ini padanya, bahkan lelaki itu adalah lelaki palong hangat dan perhatian yang pernah mengisi hidupnya. Tapi kenyataannya sekarang semuanya berubah dan ia harus mau menerima itu.


Harsa


Setelah seharian melakukan meeting pekerjaan, ia dan juga Lintang kembali ke hotel untuk merebahkan tubuhnya.


"Aku nanti mau jalan makan keluar sama mau cari barang buat Sekar. Kamu mau ikut apa di hotel?" tanyanya tanpa menatap wajah Lintang sama sekali.


"Lihat nanti deh Sa, aku kabarin kamu." jawab perempuan itu dengan lembut.


"Oke, aku ke kamar dulu." ucapnya meninggalkan Lintang yang masih berada di dalam lift, karena lantai kamar mereka berbeda.


"Halo cantik..lagi habis mandi ya?" sapanya ke kekasihnya yang saat ini kepalanya tengah berbalut handuk.


"Yaahh..aku telat deh video call nya." tambahnya yang membuat Sekar memutar bola mata seakan malas dengannya.


"Mas udah di hotel?"


Ia menganggukkan kepalanya, sedangkan mulutnya sibuk mengunyah snack.


"Sendirian? Atau ada mbak-mbak lain hayoo?!"


Bibirnya mengulum senyum,


"Ya maunya sih ada, tapi mbak nya lagi kuliah, nggak mau diajak sih."


Sekar mencibir ke arahnya,


"Ahhh...yang bener...?"

__ADS_1


Akhirnya ia memutar camera nya ke segala penjuru kamar, meyakinkan Sekar bahwa dirinya tidak macam-macam.


"Mbak nya lagi di kamar mandi ya?" namun ternyata kekasihnya itu masih terus saja menggoda dirinya.


"Nggak ada sayang, aku nggak pernah main yang namanya selingkuh. Nggak main aku sama begituan." jelasnya dengan nada lembut.


Sekar tampak tersenyum,


"Iya, aku percaya sama mas.."


"Mas, aku boleh tanya?"


Bibirnya menyesap teh nya terlebih dahulu,


"Iya, apa?"


"Ehmm..mas sama mbak Lintang beneran cuma rekan kerja?"


Ia mengerutkan keningnya, jujur ia kaget dengan pertanyaan Sekar.


"Maaf mas, aku cuma tanya aja, bukan apa-apa." imbuh Sekar sambil menggigit bibir bawah yang sangat ia sukai itu.


Bibirnya tersenyum tipis,


"Emang kenapa kamu bisa tanya gitu?"


Tapi Sekar tampak diam dan gugup menjawab pertanyaannya.


"Kamu tanya sekarang kan? Iya sekarang dia cuma rekan kerja."


Matanya masih menatap reaksi kekasihnya itu,


"Kalau masalah dulunya gimana, nanti aku cerita pas aku pulang. Kita ngobrol langsung.."imbuhnya yang disambut anggukkan Sekar.


"Sambil di atas ranjang.." tambahnya setengah berbisik.


Wajah Sekar sudah tampak merona,


"Iiihh dasar, me sum..!"


"Salah sendiri bikin aku terus ber gairah..." jawabnya sambil tergelak.


"Gairah apaan? Orang aku nggak ngapa-ngapain. Jangan mengada-ada dehh ya..!"


Tawanya justru semakin nyaring , saat Sekar menggerutu.


"Kamu mau minta dibeliian apa di sini?"

__ADS_1


"Mau tas? Sepatu? Baju? Apa perhiasan?" tawarnya yang justru membuat Sekar melongo.


......................


__ADS_2