
Sekar
Saat ini banyak sekali pertanyaan yang ada di otaknya. Mendengarkan percakapan antara ayahnya dengan kekasihnya dari balik pintu membuatnya pening.
"Kapasitasku itu melindungi dan berusaha tidak menyakiti kamu. Semua yang telah terjadi itu masa lalu dan aku nggak pernah mempermasalahkan itu." jelas kekasihnya.
Harsa memang tampak bersungguh-sungguh dengan ucapan itu. Namun ia ingin tahu apa yang telah ayahnya lakukan dengan keluarga yang selama ini baik kepadanya?
"Kenapa ayah diam saja? Nggak ada yang ingin ayah jelaskan sama aku? Aku ini anak ayah lho! Itu kan kata ayah tadi sama mas Harsa?" kali ini emosinya sudah memuncak dan air matanya tidak terbendung lagi.
Mata ayahnya pun tampak berkaca-kaca, namun mulut itu masih terkunci rapat. Ayahnya pun menghela napas dan berdehem pelan.
"Oke ayah ceritakan.." ucap ayahnya dengan sedikit tercekat.
"Mama baru kamu..."
"Stop! Dia bukan mama Sekar? Mama Sekar cuma ada satu dan sudah meninggal." selanya saat ayahnya mengatakan hal itu, bisa-bisanya ayahnya mengatakan mama baru setelah apa yang semua terjadi.
"Oke, istri ayah sekarang itu..dulu adalah..." ayahnya berhenti sejenak sebelum meneruskan entah kalimat apa selanjutnya.
"Dia dulu tunangan Hadiwangsa, om nya Harsa." ucap ayahnya dengan pandangan menunduk.
Bibirnya menganga, lalu menatap ke arah kekasihnya yang tampak tenang dan menganggukkan kepala.
"Seminggu sebelum pernikahan mereka, Andira membatalkannya karena hamil anak ayah." sambung ayahnya.
Entah kenapa tatapannya berubah menjadi sangat benci dengan ayahnya, air matanya pun semakin tak terbendung.
Wanita perusak keluarganya yang berhasil mengubah ayahnya yang sangat menyayangi keluarga menjadi sosok lelaki yang kasar, ternyata juga tunangan om Hadiwangsa.
Mendadak kepalanya pusing, ia memegangi keningnya dan sedikit memijatnya. Harsa langsung beranjak mendekat ke arahnya dan memeluknya.
__ADS_1
"Saya mohon cukup. Silahkan bapak keluar dari ruangan saya." pinta Harsa kepada ayahnya dengan sopan, namun tegas.
"Sekar..kamu nggak apa-apa?" namun ayahnya masih berusaha untuk meraihnya dan seketika itu juga langsung ditepis oleh Harsa.
"Cukup pak! Saya mohon tinggalkan ruangan ini." kali ini jelas ucapan Harsa terdengar tak terbantahkan. Ia hanya memilih diam saja, saat ini kepalanya sangat pusing.
Tak lama kemudian, ayahnya langsung berjalan keluar ruangan tanpa berkata apapun. Harsa langsung mengangkat tubuhnya dan membawanya pindah ke sofa, lalu membaringkannya di sana.
"Kamu nggak apa-apa? Minum dulu.." Harsa memberikan segelas air putih padanya, lalu ia minum.
Tak lama kemudian tangannya malah menepis lengan Harsa yang memeluknya.
"Kok gitu?!" merasa ada penolakan darinya, Harsa pun tak terima.
"Kenapa selama ini mas diam aja?!" tanyanya kali ini dengan nada tinggi, ia ingin meluapkan emosinya pada kekasihnya saat ini.
"Apa selama ini keluarga mas juga sudah tahu?!" imbuhnya lagi, Harsa pun masih memilih untuk diam.
"Kenapa diam aja?!" pungkasnya sambil memukul dada Harsa yan pasti tidak sakit karena ia sangat lemah saat ini
Harsa menatapnya lekat dengan tatapan tanpa emosi.
"Udah marahnya? Ada lagi yang mau ditanyakan?"
Matanya membalas tatapan Harsa dengan tajam.
"Aku tahu semuanya setelah kamu cerita tentang keluarga kamu waktu kita di kos. Semua keluarga aku tahu siapa kamu, bahkan mama papa adalah orang yang tahu setelah aku." jelas Harsa dengan tenang.
Mencoba mengatur napasnya dengan tenang, hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Setelah merasa cukup tenang, ia berdiri dari sofa dan berniat untuk pulang. Entah kemana ia akan pulang ke kos atau ke rumah orangtua Harsa.
"Kamu mau kemana?" tanya Harsa bingung menatapnya.
__ADS_1
"Aku mau pulang!"
"Aku antar!" Harsa kali ini tak kalah galaknya dengan dirinya.
"Kenapa? Nggak mau? Kamu lagi lemas gini dN masih mau pulang sendiri? Jangan mimpi, nggak akan aku biarkan!" ucap Harsa yang telah mengambil jas dan berjalan ke arahnya.
"Ayo kita pulang!" namun ia masih memilih diam tak beranjak dari tempatnya.
"Aku pengin pulang ke kos!" ketusnya tanpa berani menatap Harsa.
Harsa menghentikan langkahnya dan mengerutkan keningnya, kemudian menghela napasnya.
"Oke kita pulang ke kos, setelah kamu.."
"Nggak! Aku maunya sekarang!" salaknya lagi.
"Yaudah kita pulang ke kos." Harsa mengalah menuruti kemauannya, namun Harsa menekankan kata 'kita'.
"Aku mau sendirian aja di kos, aku lagi pengin sendiri mas." pintanya kali ini dengan nada memohon.
Harsa tampak mengatur emosi dan mengalah kali ini.
"Oke! Tapi aku antar kamu ke kos."
Harsa meraih dan menggenggam tangannya untuk berjalan keluar dari ruangan kerja itu, meninggalkan begitu saja makanan kesukaan Harsa di atas meja tamu.
Harsa
Sepanjang perjalanan mereka memilij diam larut dalam pikirannya masing-masing. Ia sangat mengerti perasaan Sekar saat ini. Kekasihnya itu terlihat masih mencerna dengan semua yang telah terjadi.
Menuruti kemauan Sekar, membiarkan kekasihnya itu sendiri dulu mungkin adalah pilihan terbaik saat ini. Tapi tidak untuk selamanya, ia tidak akan terus membiarkan Sekar sendiri terlalu lama.
__ADS_1
......................