Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Membagi Waktu Dengan Kenyataan


__ADS_3

Bali,


Sekar


Saat ini ia bersandar pada dada bidang milik suaminya dengan napas mereka yang masih memburu seusai percintaan panas mereka entah ke berapa kalinya. Ya, apalagi yang mereka lakukan selain bercinta saat ini. Bahkan jari-jari tangannya sudah tidak dapat lagi cukup untuk menghitung berapa kali mereka melakukannya.


Suaminya itu tampak tidak pernah ada kata puas untuk menyentuhnya. Bahkan pernah ia sebenarnya tahu kalau Harsa lelah, namun lelaki itu tetap menyentuhnya, hingga setelah mereka melakukannya suaminya pun akhirnya terlelap dengan disertai dengkuran halus.


"Mas, kalau aku hamil gimana?" tanyanya polos yang langsung membuat Harsa terkekeh.


Jujur ia sebenarnya juga sangat bahagia kalau dipercaya langsung oleh Tuhan untuk menjadi seorang ibu. Namun, masih banyak tanggungjawab yang belum ia selesaikan. Hal itu membuatnya bimbang, mengingat mereka berdua selalu melakukannya tanpa pengaman ataupun cara lain untuk mencegah kehamilan.


"Ya bagus dong ! Berarti beneran bibit unggul yang aku tanam tiap hari." jawaban Harsa sontak membuatnya mendelik, lalu mencubit perut Harsa.


Ia mendengus pelan,


"Tapi aku kan masih harus kkn sama skripsi mas. Nanti kalau aku hamil,aku nggak yakin bisa fokus. Mana aku juga udah nggak dapat beasiswa sekarang."


"Hei..! Mana ada ceritanya, istri Harsa Dewananda, sang dosen tamu , bisa dapat beasiswa? Kamu lupa alasan kampusmu memberhentikan beasiswa itu?" timpal Harsa mengernyitkan wajah menatap dirinya.


Memang benar adanya, setelah benar-benar ia sah menjadi istri Harsa Dewananda, segala fasilitas beasiswa yang sempat ia dapatkan di kampusnya langsung diberhentikan. Alasannya bukan karena dirinya sudah lemah secara akademis, melainkan ia dianggap sebagai golongan yang sangat mampu bahkan bisa menjadi penyumbang dana di kampusnya. Sungguh kenyataan yang berbanding terbalik saat dirinya menginjakkan kaki pertama kali di kampus itu.


Ia langsung memasang wajah cemberut,


"Iya..iya..tapi aku masih KKN sama skripsi mas." keluhnya.


Harsa menangkup sebelah pipinya untuk saling menatap.


"Skripsi boleh harus ! Tapi kalau KKN, aku nggak kasih ijin. Lagian di kampus kamu kan nggak wajib buat ikut KKN. Jadi, nggak usah aja ya."


"Mas, tapi..." ia tahu Harsa tidak akan mengijinkannya untuk KKN tapi selagi masih bisa merayu dengan berbagai cara, apa salahnya dicoba kan?


"Nggak ada tapi, pokoknya say no to KKN..! Kamu nggak kasihan sama aku kalau kamu tinggal KKN? Kamu nggak kasihan sama ini?" sahut Harsa dengan cepat dan tegas tak terbantahkan.


Tangannya sudah dikunci suaminya ke milik suaminya yang sudah mulai terbangun lagi hanya dengan sentuhan tangannya. Ohh Tuhan, apa ada magnet di tangannya ini?


Ia langsung memilih membalikkan tubuh membelakangi suaminya daripada badannya semakin terbelah dengan ulah suaminya.

__ADS_1


"Nggak ! Suruh 'dia' tidur sendiri ! Aku capek disuruh nidurin mulu." salaknya sambil tertawa pelan.


Bisa-bisanya lelaki itu 'on fire' lagi, di saat mereka lagi membahas skripsi dan KKN yang sama sekali tidak mengandung unsur gairah membara di dalamnya.


Tapi Harsa tetaplah Harsa, selalu tidak mau menerim penolakan. Dengan segala sentuhan dan modus lainnya, akhirnya ia sendiri yang menyerahkan diri ke suaminya kembali.


"Kamu semakin memabukkan sayang..." bisik Harsa di telinganya saat dirinya mulai menggeliat dan mengerang mengeluarkan suara-suara yang tidak layak di dengar oleh orang lain, namun ternyata semakin membakar gelora suaminya.


Setelah memberantakkan kembali ranjang mereka, akhirnya sang master pun terkapar dengan dengkuran halus.


"Ehhmm, gitu aja masih banyak tingkah.." cibirnya geli menatap wajah tampan suaminya yang tertidur pulas.


drrtt..drrtt..


"Iya, halo ma.." sapanya ke mama mertuanya yang menghubungi nomor Harsa.


"Halo, gimana kabar kalian di sana? Sibuk banget ya, sampai nggak bisa kabarin mama?" sindiran mama Priska membuatnya terkekeh.


"Kirain mas Harsa udah kabarin mama," jawabnya asal.


"Heii..! Mana mungkin suami hot kamu itu kabarin mama, apalagi kalau lagi sibuk sama istrinya."


"Besok ma, flight malam. Tapi kelihatannya langsung ke apartemen ma. Gimana? Kita pulang ke rumah aja besok?" jujur ia tidak enak hati dengan mertuanya.


"Nggak usah, besok ke apartemen dulu aja nggak apa-apa. Siang aja ke rumah, soalnya papa pergi ke Jepang satu minggu. Jadi kalian tidur rumahnya lusa aja."


"Iya ma, siap ! Nanti Sekar bilang ke mas Harsa "


"Iya , tenang aja kamar Harsa di rumah kedap suara. Jadi, nggak akan yang kedengaran."


Bisikan mama Priska sontak membuatnya tergelak sambil menggelengkan kepalanya. Jujur ia merasa sangat beruntung memiliki mertua seperti mama Priska.


................


Sekar


Tak terasa pernikahan mereka sudah hampir satu bulan. Mereka memilih tinggal di apartemen dan hanya sesekali menginap di rumah orangtua Harsa untuk menemani mama yang sendirian ditinggal papa dengan urusan bisnis.

__ADS_1


Harsa memang belum mau membeli rumah karena saat ini dirasa belum membutuhkannya, kecuali nanti saat mereka sudah memiliki anak.


Saat ini sedang berada di depan laptop, tentu saja untuk mengerjakan skripsinya. Apalagi suaminya tetap tidak memperbolehkannya untuk ikut KKN.


Hampir satu bulan menyandang gelar istri Harsa, ia jadi tahu sifat Harsa sesungguhnya. Harsa yang di luar sana terkenal berwibawa dan menjaga image ternyata berbanding terbalik saat bersama dirinya yang berubah menjadi manja. Apalagi kalau urusan ranjang, jangan ditanya betapa manjanya Harsa yang selalu merengek untuk hal itu.


Mungkin setiap sudut apartemen ini sudah pernah menjadi sasaran mereka bercinta. Dan tentunya jangan ditanya berapa koleksi lingerie miliknya saat ini, semua terjejer rapi di dalam lemari.


"Sayang..." bayi besarnya itu keluar dari ruangan kerja dan menyusulnya di ruang tengah. Ia tetap memilih duduk di bawa beralaskan karpet dan menghadap ke laptop saat Harsa sudah duduk di atas sofa.


Jari-jari Harsa mengelus dan memainkan rambut lurusnya, kemudian turun mengelus wajahnya. Namun ia sama sekali tak menanggapi hal itu dan tetap fokus dengan laptopnya.


Lama-lama jari-jari nakal itu turun bermain di area sensitifnya bagian atasnya dan Harsa mulai menenggelamkan wajahnya di lekuk lehernya.


"Manis..." gumam suaminya menjadikannya tidak fokus lagi ke pekerjaannya.


"Mas..bentar sih mas. Aku lagi..aaakkhhh..." ucapnnya terpotong saat tubuhnya ditarik dan diangkat Harsa ke atas sofa membuat posisinya duduk di pangkuan suaminya itu.


Seperti biasa, Harsa mencumbunya bahkan sekarang kaos yang dikenakannya pun sudah hilang entah kemana.


"Lusa ikut aku yukk.." ucap Harsa saat menghentikan cumbuan panas itu. Wajahnya seketika mengernyit menatap suaminya.


"Kita ke Singapura, terus minggu depan kita honeymoon ke Eropa. Aku udah siapin visa buat kamu, paling besok kelar diurusin sama orang kantor."


Kepalanya mendadak pening, bukan karena ia tidak suka kejutan. Tapì kejutan yang diberikan Harsa membubarkan semua acaranya yang telah disusun rapi di kampus. Namun ia bisa apa, berdebat dengan Harsa tidak akan pernah berujung kemenangan untuk dirinya.


"Mas, harus lusa banget dan harus minggu depan banget?" tanyanya sambil membelai wajah Harsa yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang belum sempat dicukur, tiba-tiba wajahnya memanas demi membayangkan sensasi yang dilakukan Harsa dengan wajah yang setengah kasar itu kepada dirinya.


Oh, come on Sekar ! Otaknya sekarang sudah benar-benar tercemar dengan hal-hal yang menyenangkan itu.


Harsa menganggukkan kepala dan kembali bermain dengan miliknya. Lebih baik ia melayani suaminya dulu, baru berusaha untuk merayu memundurkan acara pergi mereka. Siapa tahu berhasil kan?


"Mas.." desisnya sembari mendongakkan wajah Harsa untuk menatap dirinya.


"Nggak cukur dulu?"


Harsa malah tersenyum menarik satu sudut bibir, lalu menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Kamu bakal tahu sensasinya.." bisik Harsa nakal tepat di telinganya.


......................


__ADS_2