Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Nostalgia


__ADS_3

Maaf ya kalau lama banget nggak up. 😁🙏


Siapa yang kangen Hore Fams? Mereka akan hadir di chapter ini ya..


Semoga menghibur..!


................


Harsa


"Makasih ya sayang buat tadi..cantik banget sih kamu." gumamnya pelan tepat di telinga Sekar sehingga membuat wanitanya itu merasa geli.


Sekar tampak cantik, walaupun riasan belum sepenuhnya selesai. Namun wajah cantik asli Sekar memang tidak perlu riasan yang serba berlebihan.


Tangannya menjulur mendekap erat istrinya dari belakang seakan tak menghiraukan sekumpulan perias yang ada di sekitarnya.


"Ya Tuhan, anak ini..!" tiba-tiba telinganya dijewer oleh mamanya yang muncul dari arah pintu. Mau tidak mau ia harus melepaskan pelukannya dan mendengus kesal.


"Mama ihh..! Kenapa sih? Bentar aja, nggak boleh.." dengusnya sembari mengusap-usap telinganya yang mungkin sekarang sudah memerah.


Mamanya sudah berkacak pinggang dan melotot ke arahnya.


"Nggak ! Udah sana ! Nanti riasan Sekar bubar semua gara-gara kamu..!"


Ia masih menunjukkan wajah kesalnya, namun matanya kembali mengerling ke wanitanya yang masih mengulum senyum.


Kakinya kembali berjalan ke arah mamanya,


"Cieee..yang ketemu sama mantan.." godanya dengan bisikan sangat pelan di telinga mamanya.


Secepat kilat ia beranjak dari tempatnya sambil terbahak saat tangan mama Priska kembali mendekat ke wajahnya.


"Punya anak laki satu aja bener-bener keturunan papanya." dengus mamanya yang masih bisa ia tangkap dengan telinganya.


................


Arya

__ADS_1


Suara tawa beberapa orang menggelegar di ruang tengah suite room yang ia tempati untuk dua malam ke depan.


"Ini tehnya yang.." istrinya menaruh secangkir teh yang masih mengepul asap di depannya.


"Makasih sayang.." balasnya sambil tersenyum.


"Lha terus kesibukanmu apa Ra sekarang?" tanya Abinawa ke istrinya yang sudah duduk di sebelahnya.


"Masak ning omah karo resik-resik omah, lha meh ngopo meneh? (Masak di rumah sambil bersih-bersih rumah, lha mau ngapain lagi?)"


"Ya ngopo ngono, ngadusi bojomu. (Ya ngapain gitu, mandiin suamimu.)" seloroh Abinawa yang tak lain tak bukan adalah suami dari mantan kekasihnya.


Dirinya terkekeh geli,


"Sekarang itu udah waktunya mandiin cucu." timpal istrinya sambik terkekeh.


"Bojone ben adus dewe saiki. (Suaminya biar mandi sendiri sekarang.)" imbuh Clara dengan nada setengah berbisik.


"Mbien we hobine ngadusi, saiki wes tuo kon adus dewe?! (Dulu aja hobinya mandiin, sekarang sudah tua suruh mandi sendiri?!)" sahut Ardhana setengah mencibir ke arah mereka berdua yang masih terkekeh.


"Lha iya ya mas? Wes tuo malah kon opo-opo dewe. (Sudah tua malah suruh apa-apa sendiri.)" jawaban Abinawa membuatnya semakin tergelak.


Priska memang masih terlihat sangat cantik di usia memasuki angka 50an, begitu juga istrinya. Maklum, mereka termasuk wanita-wanita yang masih menjaga penampilan di usia yang sebenarnya tidak lagi muda.


"Mas, nggak ganti baju kamu?" Priska berjalan mendekati Abinawa yang tepat di hadapannya dengan kebaya berwarna merah terang.


"Lho, sudah siap kamu? Masih lama kan acaranya? Aku nanti aja lah, cuma pakai beskap aja kan? Santai." Abinawa memang masih terlihat sangat santai hanya dengan kaos biasa dan celana panjang.


"Laki mah gitu mbak, suruh ganti paling susah. Nanti-nanti terus." sahut Clara.


"Emang, nanti ujung-ujungnya ribut." Priska pun berdecak dan memilih duduk di samping Abinawa.


Bibirnya tersenyum menatap ke seluruh sahabat-sahabatnya. Mereka saat inu sudah bukan lagi muda, mereka semua sudah menjadi orangtua bahkan sudah menjadi kakek nenek.


"Udah nikah semua, enak ya Pris? Balik lagi berduaan." ucap Rendra yang tepat ada di samping Priska.


Priska menghela napas,

__ADS_1


"Sepi tapi Ndra, bayangin rumah segitu cuma diisi berdua sama asisten-asisten. Kemarin-kemarin semenjak ada Sekar tinggal di rumah jadi rame lagi. Soalnya Harsa kan jadi pulang ke rumah."


Priska menatapnya dan Rendra secara bergantian,


"Tapi nanti setelah nikah, Harsa minta tinggal di apartemen lagi. Mau nggak bolehin juga gimana, tapi kalau ngebolehin aku kesepian. Apalagi mas Abi kan masih sering ke luar kota." cerita Priska panjang lebar.


Ia menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran sofa.


"Yah..namanya juga udah waktunya balik modal. Mau gimana lagi? Yang penting rumah tangga anak-anak semuanya rukun dan sehat." ucapnya dengan nada santai dan tenang.


"Betul sekali, nikmati saja. Cari kesibukan lain juga, kalau pas anak cucu lagi jauh. Kalau dekat ya momong cucu. Lha opo meh dugem? (Lha apa mau dugem?)" seloroh Abinawa yang membuat mereka semua tergelak.


"Dugem ya oleh..paling mulih-mulih boyok e ambyar. (Dugem juga boleh..paling pulang-pulang pinggangnya ambyar.)" timpalnya sambil terkekeh lalu mengecup pundak istrinya.


................


Sekar


Hari ini sudah beberapa rangkaian acara terlewati dengan lancar. Entah sudah berapa kali mulutnya menguap, rasa lelah dan ngantuk telah melanda dirinya.


"Yahh..nguap..!" Harsa ternyata sudah kembali di sampingnya sambil membawa beberapa potong kue.


"Makan ini aja ya, kan kamu nggak doyan minum. Ntar mabuk lagi kayak dulu."


Pikiran teringat saat pernikahan Genta, dimana wajahnya sudah merah padam padahal hanya menennggak sedikit alkohol milik Harsa.


"Soalnya kamu kalau mabuk, hot banget. Takut aku." bisik suaminya sembari mengerlingkan mata padanya.


Bibirnya mengulum senyum, jari-jarinya menyapu rahang milik suaminya.


"Tapi ada kabar buruk sih yang.." ucapnya lembut dengan bibir masih tersenyum.


Harsa mengernyit menatapnya,


"Apa?"


Ia mengecup rahang suaminya dengan lembut,

__ADS_1


"Tapi kamu janji dulu, nggak boleh marah ya.." bisiknya ke telinga suaminya.


......................


__ADS_2