
Semarang,
Sekar
Ia berjalan berjingkat-jingkat agar tidak membangunkan Harsa yang terlihat masih sangat nyenyak.
Sebelum menyalakan shower, ia menatap pantulan dirinya di kaca kamar mandi. Kepalanya menggeleng saat melihat beberapa tanda yang ditinggalkan oleh Harsa di bagian tulang selangka dan dadanya.
Tadi malam ia sempat berpikir akankah malam ini akan menjadi malam terakhir ia menjadi seorang gadis? Ternyata tidak.
Kekasihnya itu ternyata masih mampu menahan hasrat untuk bercinta dengan dirinya, walaupun bisa dikatakan mereka berdua sama-sama memberikan sesuatu yang memabukkan.
Sama sekali tak terbesit dalam pikirannya akan sejauh ini dengan Harsa. Dulu saat berpacaran dengan Nanda, mereka sama sekali tak pernah melakukan apapun selain berciuman. Apalagi saat itu ia merasa masih sangat kecil, masih sekolah sedangkan Nada hanya selisih dua tahun di atasnya.
Apa begini berpacaran dengan lelaki dewasa? Selalu hal seperti itu yang ada di pikiran kekasih tampannya itu. Atau hanya Harsa saja? Namun dirinya yang bertumbuh menjadi dewasa juga tidak munafik, ia juga penasaran dengan sensasi itu.
Entahlah, yang penting Harsa masih bisa menarik rem saat mulai sudah hampir hilang kendali.
Setelah selesai membersihkan dirinya dan kembali memakai pakaiannya, ia menuju dapur menyiapkan sarapan seadanya untuk Harsa dari bahan-bahan yang sempat ia beli kemarin dari minimarket.
tiingg tongg..
Belum sempat ia mengoles mentega ke roti, ia kembali menaruhnya dan berjalan membuka pintu.
Matanya langsung membulat,
"Nanda?!" ucapnya setengah berteriak.
"Kamu ngapain ke sini?" tanyanya lagi, sungguh ia tak ingin ribut lagi dengan orangtua Nanda.
Mata Nanda menatap mobil mewah silver yang terparkir manis di carport rumahnya.
"Ini punya siapa? Baru?"
Ia menggigit bibir bawahnya, bingung mau menjawab apa. Kalau ia menjawab itu punya kekasihnya, pasti Nanda sudah berpikiran jauh tentang hubungan mereka. Apalagi kalau Nanda tahu ada sosok Harsa sedang tidur di kamarnya dengan bertelanjang dada dan memakai boxer.
__ADS_1
"Ehmmm...."
"Yang.."
Ia memejamkan matanya sejenak saat mendengar suara Harsa telah memenuhi ruang tengah rumahnya.
"Yang?" Nanda tercengang dengan kehadiran sosok lelaki yang saat ini tengah menghampiri mereka berdua di pintu.
Untung saja penampilan Harsa sudah lebih baik, sudah memakai celana jogger dan kaos, namun dengan rambut yang masih acak-acakan khas bangun tidur.
Harsa dan Nanda tengah saling melempar tatapan tajam.
"Kenalin ini mas Harsa.."
"Mas Harsa, ini Nanda.." ucapnya pelan dan ramah seakan mencoba memecah ketegangan yang terjadi
"Harsa, calon suaminya Sekar." Harsa mengulurkan tangan terlebih dahulu dan melempar senyum penuh kemenangan ke arah Nanda.
"Nanda.." balas Nanda yang melirik ke arahnya.
"Yaudah aku pulang dulu, maaf mengganggu..Mari mas." pamit Nanda kepadanya, beralih menatap Harsa.
"Lhoh, nggak sarapan bareng dulu?" ia berupaya untuk menghargai Nanda, bagaimanapun ia tahu perasaan mantan kekasihnya itu.
Nanda tersenyum tipis,
"Nggak usah, makasih. Next time aja." kemudian lelaki itu berjalan keluar.
Ia menatap iba mantan kekasihnya itu, ia menghela napasnya pelan kemudian melirik ke arah Harsa yang sudah tampak mengangkat satu alis menatapnya.
"Yukk sarapan mas.." ajaknya dengan nada sangat pelan.
Tatapan Harsa kali ini rasanya seperti ingin memakan dirinya hidup-hidup. Ia memilih menutup pintu dan berjalan masuk ke ruang makan, melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti karena kedatangan Nanda.
"Masih sering dia ke sini kalau kamu pulang ke Semarang?" pertanyaan Harsa membuatnya napasnya berhenti sejenak.
__ADS_1
Ia menganggukkan kepalanya, memilih jujur adalah hal yang lebih baik.
"Emang mas tahu dia siapa?"
Harsa tersenyum miring,
"Kamu itu pacar aku, semua tentang kamu harus aku ketahui. Bahkan tanpa harus kamu ceritakan."
Deg..
"Kelihatannya setiap kamu pulang ke sini, aku harus ikut deh kalau gini." ucap Harsa yang saat ini telah duduk di depannya.
Ia menatap sejenak Harsa, lalu menghela napasnya.
"Ya aku nggak bisa bayangin kamu disamperin di rumah gini sama mantan kamu, cuma berduaan gini aja. Bisa gila aku bayanginnya." gumam Harsa kembali sembari meminum teh panas yang telah disediakannya.
Bibirnya sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia lebih memilih diam kali ini.
"Aku posesif banget ya yang?" tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulut seorang Harsa yang membuatnya tertegun sejenak.
"Aku ngerti maksud mas, nggak apa-apa." senyum menghiasi wajah polosnya.
"Maaf, karena aku nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak mau lengah lagi karena percaya sama seseorang." jelas Harsa menggenggam tangannya dengan tatapan sendu.
"Mas nggak percaya aku berarti?" pancingnya, ia ingin tahu jawaban apa yang keluar dari bibir Harsa.
"Aku percaya kamu, tapi aku nggak akan pernah percaya sama laki-laki yang dekat sama kamu. I'm so sorry. Aku juga laki-laki dan aku pernah percaya sama sahabat aku sendiri, ternyata apa? Kamu tahu sendiri seperti apa." Harsa mengusap wajah tampan itu dengan kasar.
"Mas, yang namanya selingkuh itu dari kedua pihak. Kalau ada yang dekatin aku, tapi aku nggak mau, ya nggak bakal kejadian."
"Tapi aku ngerti kok perasaan kamu mas. Aku berusaha nggak macam-macam, mas percaya aku." jawabnya kemudian mengecup bibir Harsa sekilas.
"Aku sayang sama mas..calon suami aku.." bisiknya genit.
......................
__ADS_1