Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Dia Siapa?


__ADS_3

Sekar


Ini hari ketiganya berada di rumah orangtua Harsa. Kemarin ia sempat ditinggal Harsa ke Bali, karena ternyata pekerjaan Harsa di Bali masih belum selesai.


Ia membuka matanya dan menatap jam digital menunjukkan jam 04.30. Namun, kali ini ia merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


Kemudian ia membalikkan badannya,


"Mas Harsa, kapan dia pulang? Kapan dia masuk ke kamar ini? Dan kenapa dia jadi tidur di sini?" gumamnya pelan.


"Karena aku kangen kamu. Udah ahh, masih gelap, aku masih ngantuk." sahut Harsa tanpa membuka mata sedikitpun.


"Mas, iihhh... nggak enak kalau ketahuan mama atau papa, apa orang rumah. Mas kenapa tidur di sini sih?!" gerutunya dengan wajah yang sudah ditekuk.


"Nggak bakal ada yang tahu, lagian kalau sampai tahu juga nggak apa-apa. Mereka kan juga udah pengin punya cucu." gumam lelaki itu semakin mengeratkan pelukan di pinggangnya.


Ia menghela napasnya,


"Mas..aku mau turun dulu ahh. Mau bantuin nyiapin sarapan."


"Nggak..! Kamu di sini temani aku. Aku capek kerja, tugas kamu temani aku di sini !" titah Harsa padanya.


Daripada tenaganya habis untuk berdebat pagi-pagi dengan kekasihnya, ia lebih memilih untuk mengalah. Setelah dirasa Harsa mulai terlelap, ia perlahan beranjak dari ranjangnya.


Tangannya mengelus wajah tampan kekasihnya, lalu bibirnya mengecup pipi Harsa.


"Dasar bayi besar, banyak mau !" gumamnya pelan.


Kakinya melangkah menuruni tangga, menuju ke dapur yang sudah terlihat ada mama dan juga dua asisten rumah tangga.


"Pagi ma, maaf ya terlambat." sapanya sembari menguncir rambutnya.


"Kamu kenapa ikut ke sini?! Kamu masih harus istirahat.Nanti mama dimarahi Harsa." sahut mama Harsa dengan wajah panik.


Seketika ia terdiam,


"Ma, Sekar udah sehat ma. Nanti Sekar rencana juga udah masuk kuliah. Sekar bosan kalau tiduran terus." jelasnya dengan wajah memelas.


"Kuliah? Diantar sopir ya?"


"Eh, sebentar...! Harsa udah pulang kan tengah malam tadi? Tapi dia dimana sih, kok tadi pas mama ke kamarnya kosong.."

__ADS_1


Ia langsung menelan salivanya, bibirnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan mama. Tiba-tiba suara teriakan dari atas memecah kebingungannya.


"Yang..! Kamu ini, aku minta nggak usah ke dapur, temani aku tidur. Malah turun ke sini !" matanya seketika langsung membulat dan bibirnya mengatup.


Matanya melirik perlahan ke arah mama yang menatap wajah mereka berdua bergantian.


"Maaf ma, Sekar juga nggak tahu kalau mas Harsa masuk ke kamar Sekar. Bangun-bangun, mas Harsa udah ada di samping Sekar." jelasnya dengan lirih.


Sungguh rasanya ia ingin lari ke kamar mandi, berendam selama mungkin.


"Kamu ya benar-benar deh Sa..! Sekar itu lagi sakit, nggak macam-macam kamu..!" protes mama ke anak sulung yang tampilannya terlihat acak-acakan khas bangun tidur.


"Lain kali kunci kamar aja Sekar, biar nggak ada nyamuk yang masuk!" sindir mama sembari kembali melirik Harsa.


"Macam-macam gimana? Orang cuma minta dipeluk ditemani tidur." timpal Harsa, rasanya jari-jari tangannya ingin sekali menyumpal mulut kekasihnya itu.


"Kelihatannya semenjak ada Sekar, kamu jadi bayi ya? Manja banget, tidur mesti ditemani, dipeluk." suara papa mulai mengisi ruang makan dan malah membuat Harsa terkekeh.


"Mumpung lah pa, kayak nggak pernah muda aja pa.." seloroh Harsa sekaligus membuat papa terkekeh.


Namun sedetik kemudian,


"Tapi jangan lupa ajak nikah! Papa seret kamu kalau kamu cuma main-main sama Sekar. Dia beda sama perempuan-perempuan mu dulu." tegas papanya sambil memukul kepala Harsa dengan tangan.


Setelah selesai membantu mama dan menyiapkan makanan, ia kembali ke kamar untuk bersiap diri ke kampus. Namun, lagi-lagi Harsa mengekorinya masuk ke dalam kamarnya.


"Sampai jam berapa kuliahnya yang?" tanya Harsa yang sudah merebahkan diri di atas ranjangnya, mungkin saat ini ranjang di kamar Harsa sudah tidak menarik lagi bagi lelaki itu.


"Jam 12an mas, cuma 2 jam kok kuliahnya. Gimana? Beneran mas mau nungguin? Aku naik KRL aja deh mas, santai aja." jawabnya sembari memilih baju.


Harsa sudah menekuk wajah menatapnya,


"Kamu santai, aku yang nggak santai. Nggak apa-apa aku antar, aku tungguin aja. Nanti aku kerja di sana sambil nunggu kamu kuliah."


Ia berjalan lalu duduk di tepi ranjang, di dekat Harsa.


"Mas, jangan gitu ahh. Aku udah terbiasa mandiri, jangan berlebihan, nanti aku jadi manja." pintanya sambil mengelus wajah kekasihnya itu.


Harsa menggeleng,


"Nggak akan pernah, jangan bermimpi. Selama aku nggak sibuk, kamu harus jadi perempuan manja sama aku. Kalau aku sibuk, baru boleh mandiri. Tapi bawa mobil atau diantar sopir. Nggak ada KRL!" ucap Harsa lalu mengecup bibirnya sekilas.

__ADS_1


"Nanti habis kuliah, mampir apartemen sebentar ya?" lirih Harsa sembari mengelus pipinya, membuatnya semakin mengernyit.


"Mau ngapain?"


"Pacaran, atau mau ke kost?" goda Harsa dengab seringai terbit di wajah tampan itu.


"Nggak macam-macam ya mas?! Aku masih kuliah, au masih menyandang gelar duta wisata!" tegasnya, namun malah membuat Harsa terkekeh.


"Orang cuma ngajak pacaran kok dibilang macam-macam! Aku kan pengin berduaan aja, masa nggak boleh!" sewot Harsa, sedangkan dirinya memilih masuk ke kamar mandi, daripada menanggapi keinginan-keinginan lelaki itu.


Ya bagaimanapun ia tahu maksud Harsa, dia lelaki yang sudah bisa dibilang dewasa, 28tahun. Mereka memang terpaut 9 tahun. Tapi, tidak bagi dirinya, ia masih harus menyelesaikan kuliahnya dan menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai duta wisata.


................


Sekar


Selama satu tahun lebih ia kuliah, baru kali ini ia diantar mobil, apalagi mobil mewah.


"Mas yakin mau turun?"


Sungguh ia tidak bisa membayangkan jika orang-orang melihat dirinya berjalan bersama seorang Harsa Dewananda.


"Ya emang kenapa? Nggak boleh?" tanya Harsa sambil berkaca merapaikan rambut.


"Nggak apa-apa sih, tapi habis ini pasti jadi heboh gara-gara aku jalan sama kamu. Secara narasumber idola, sampai pada rela ikut seminar gara-gara ada mas Harsa." sewotnya membuat Harsa tertawa geli.


"Bahagia jadi idola?!" entah kenapa ia malah menjadi sewot saat ini. Sungguh ia tidak rela berbagi Harsa dengan perempuan lain.


Harsa melirik sambil mengulum senyum,


"Kamu itu kenapa? Aku lho diam aja, malah marah-marah sendiri. Biarin aja mereka heboh, biar sekalian tahu kalau kita ini pacaran. Apa perlu kita ciuman di tengah lapangan itu biar semua pada tambah heboh?"


Kepalanya pun menggeleng dan menghela napasnya,


"Nggak usah genit!" titahnya kali ini, kapan lagi ia bisa berani menyuruh Harsa kalau bukan di saat seperti ini, batinnya.


"Siap, calon istriku!"


Saat mereka keluar dari mobil dan berjalan menuju koridor, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengamati mereka.


"Dia siapa?" gumam laki-laki itu sambil menatap sepasang kekasih yang menjadi pusat perhatian semua orang di fakultas itu.

__ADS_1


......................


__ADS_2