Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Tamu Dadakan


__ADS_3

Semarang,


Sekar


Setelah acara di Yogyakarta, mereka berdua kembali pulang ke Semarang. Kali ini bukan karena ada tugas, melainkan ia hanya ingin membersihkan rumah.


Lagi-lagi Harsa dipinjami mobil oleh om nya setiap datang ke Semarang. Harsa sempat mengutarakan keinginan untuk beli mobil dan menitipkan di rumah Om Hadi setiap mereka ada di Jakarta.


Namun, om nya itu menolak dengan tegas, lebih baik gunakan mobil yang ada, mobil yang dimiliki oleh keluarga Hadiwangsa daripada harus membeli barang yang tidak pernah dipakai. Apalagi mobil di rumah om Hadi memang berjejer dan hanya 2 mobil yang sering digunakan.


"Besok kita kulineran yuk yang, aku pengin makan tahu gimbal." gumam Harsa sembari fokus menyetir.


"Boleh, tapi besok aku juga mau ketemu sama temanku sekalian ya mas? Mau kan?" tanyanya dengan semangat.


Harsa melirik ke arahnya,


"Cowok? Nanda lagi? Apa Dipta?"


Ia mendengus pelan, Harsa selalu saja curiga dengan dua lelaki itu.


"Mas, temanku di sini bukan cuma mereka ya. Lagian besok yang mau ngajak ketemuan juga cewek kok. Cantik lho..!" godanya.


"Oh iya?! Cantikan mana sama kamu? Kalau cantikan dia, biar besok aku aja yang ketemu sama dia, kamu nggak usah ikut."


Tangannya langsung bergerak menarik telinga kekasihnya itu hingga Harsa merintih kesakitan. Dia sendiri yang berniat menggoda, namun malah dia juga yang terbakar cemburu, bagaimana ceritanya?


"Nggak usah macam-macam, colok nih mata kalau macam-macam!" gerutunya yang membuat Harsa terkekeh.


"Kamu itu aneh, kamu sendiri yang mancing, giliran ditanggapin malah marah-marah nggak jelas. Udah dong jangan marah, nanti aku cium lagi lho kayak kemarin malam." Harsa menaik turunkan alisnya sambil melirik genit ke arahnya.

__ADS_1


"Nggak bakal..! Jangan harap..! Mulutku mau aku lakban..!" salaknya.


"Lakban pakai bibirku kan? Iya kan?"


Ia hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar celotehan Harsa.


................


Harsa


Tidur bersama dengan kekasih bukanlah hal baru baginya. Namun berbeda dengan kali ini hubungannya yang baru berjalan seumur jagung, ia sudah berkali-kali tidur bersama dengan perempuan ini. Hanya dengan Sekar, hampir setiap malam mereka lewati berdua.


Matanya masih menatap lekat wajah ayu yang sedang meringkuk di pelukannya. Jarinya membelai pipi Sekar yang terlihat merona. Menatap wajah kekasihnya saat tidur seperti ini, sungguh tidak pernah membuatnya bosan.


Tidak pernah bosan atau belum bosan? Entahlah yang ia tahu saat ini ia sangat bahagia memiliki gadis ini.


Sebenarnya pertemuan mereka pertama kali atau lebih tepatnya ia pertama kali bertemu dengan Sekar bukanlah di kampus itu. Ia pernah melihat Sekar saat gadis itu menerima piala dan memakai selempang juara duta wisata.


Hingga akhirnya ia tidak menyangka bahwa mereka dipertemukan kembali di acara itu. Ia masih sangat ingat wajah Sekar saat masih tanpa riasan, membuatnya langsung mudah mengingat saat kembali bertemu.


Berbulan-bulan ia menahan rasa penasarannya kepada Sekar. Sebenarnya bisa saja ia langsung mendapatkan kontak Sekar dengan mudah, namun ia tidak mau melakukannya. Bukan karena ia tidak penasaran atau tidak mau berusaha, ia hanya ingin mencoba percaya bahwa jodoh pasti akan kembali padanya entah bagaimanapun caranya.


"Terimakasih Tuhan.." gumamnya dalam hati sembari melengkungkan bibirnya ke atas.


Sekar


Ia berlari kecil dan sedikit tergesa saat mendengar suara ketukan pintu rumahnya di waktu yang masih sangat pagi menurutnya untuk bertamu.


Tangannya membuka sedikit tirai jendela, matanya membulat seketika saat ia tahu siapa yang datang pagi ini. Ia berniat untuk merapikan diri dulu sebentar baru membuka pintu, namun sepasang mata dari luar itu tengah menatapnya

__ADS_1


"Ayah?! Sama siapa?" sapanya saat melihat ayahnya berdiri di depan pintu.


Ayahnya melirik mobil mewah yang terparkir di carport miliknya.


"Punya siapa?" tanya ayahnya yang kembali menatapnya penuh tanya.


Ia melipat bibirnya, bingung harus menjawab apa. Berbohong pun percuma, Harsa saat ini masih tertidur nyenyak di atas ranjangnya.


"Sekar? Itu punya siapa?" selidik ayahnya lagi.


"Ehmm..masuk dulu aja ayah, nanti Sekar kasih tahu."


Akhirnya ayahnya masuk dan duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Tapi mata tajam ayahnya masih menelisik wajahnya, bahkan berpindah ke dress piyama yang ia kenakan.


"Kamu tidur sama siapa?" ayahnya kembali menatap tajam dirinya dan hendak berdiri dari sofa, namun tangannya menahan gerak ayahnya.


"Itu punya pacar Sekar, dia masih tidur di kamar. Tadi malam kami baru datang dari Yogya." jelasnya dengan lembut.


"Ayah nggak asing sama plat nomor mobil itu. Pacar kamu orang sini?" selidik ayahnya kembali.


Kali ini ia tidak akan mungkin berbohong juga, plat nomor keluarga Hadiwangsa memang semuanya sama, hanya dua huruf di belakangnya saja yang membedakan.


Kepalanya menggeleng,


"Bukan ayah, pacar Sekar tinggal di Jakarta. Itu mobil saudaranya di sini."


Ayahnya mengerutkan kening dan masih menatapnya lekat.


"Pacar kamu siapa? Keluarga Hadiwangsa?"

__ADS_1


Ia hanya mampu menelan salivanya saat ayahnya pun mengetahui siapa pemilik mobil itu. Pasti, pasti ayahnya juga tahu siapa itu Hadiwangsa, atau bahkan mereka saling kenal? Mungkin, karena ia sadar ayahnya itu siapa, juga sama-sama seorang pengusaha.


......................


__ADS_2