
Jakarta,
Abinawa
Ia sengaja menunggu kedatangan anaknya dan calon menantunya di ruang tengah. Tak lama suara dua orang itu telah memenuhi rumahnya.
"Kirain jadi tidur di apartemen.." sapa istrinya ke anak sulungnya.
"Aku yang nggak ngebolehin mereka yang. Pokoknya selama belum resmi menikah, nggak ada acara pakai tinggal berdua di apartemen. Tinggal 2 minggu, udah bagus mereka bisa mejaga. Sayang kalau tancap gas dulu." jelasnya sambil tertawa pelan membuat anak sulungnya mencibir.
Memang setelah menjadi orangtua, perilakunya berubah total. Padahal dulu dirinya dan juga Priska sama-sama bisa disebut bukan memiliki masa lalu yang baik. Gaya pacaran mereka sangat bebas, bahkan ia pun tahu masa lalu Priska dengan Arya.
Bahkan mereka bukan hanya sekedar tidur bersama saat sebelum menikah, tapi sering melakukan hal 'menyenangkan' bersama hingga Priska diketahui mengandung Harsa, seminggu sebelum pernikahan mereka digelar.
Namun semuanya berubah setelah mereka menjadi orangtua. Mereka sama sekali tidak membenarkan hal yang memang tidak baik itu. Mereka selalu berusaha memberikan pengertian kepada anak-anak mereka tentang mana hal yang baik dan tidak baik. Tapi semua juga kembali pada diri anak-anak mereka saat dewasa, hanya hal yang paling utama yang mereka ajarkan adalah tanggungjawab.
Tanggungjawab dengan semua konsekuensi yang telah dijalani, bukan lari sebagai seorang pecundang.
Walaupun didikannya tak sepenuhnya berhasil, karena hanya Kanaya, putri bungsunya itu yang dapat berhasil menjaga semuanya hingga pernikahan. Sangat berbeda dengan putra sulungnya yang telah malang melintang dalam hal percintaan.
Tapi ia sangat yakin bahwa Harsa masih bisa menjaga Sekar, walaupun entah harus bagaimana caranya dan seberat apa cobaan yang ada di depan mata.
"Tancap gas juga nggak masalah, tinggal dua minggu pa.." timpal putra sulungnya dengan sangat santai.
Ia langsung melempar tatapan tajam,
"Baik-baik tuh muka dijaga, jangan sampai mau nikah tapi muka yang biru-biru gara-gara tangan papa nih..!"
Calon menantu dan istrinya malah terkekeh mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Sekar, papa mau ngobrolin sesuatu sama kamu." ucapnya seraya memandang lekat wajah cantik calon menantunya itu dan disambut anggukkan oleh Sekar
"Kamu yakin nggak menerima istri muda ayah kamu ikut mendampingi ayah kamu saat pernikahan kamu?"
Sekar tampak menghela napas dan mengangguk sangat yakin,
"Iya pa. Sekar cuma ngebolehin ayah yang jadi pemdamping pernikahan Sekar. Itu pun sebenarnya Sekar juga masih sulit menerima, tapi bagaimanapun ayah adalah ayah kandung Sekar."
Sekar kembali menhatur napas dan dengN sedikit tercekat,
"Tapi maaf, tidak untuk istri ayah yang sekarang. Sekar nggak bisa pa. Sekar nggak bisa dan nggak terima, posisi mama Sekar digantikan sama wanita itu. Maaf pa..."
Harsa merengkuh Sekar dan menenangkan emosi Sekar yang mulai tampak meluap.
"Yaudah kalau itu keputusan kamu, papa ngerti. Kalian istirahat sana dulu." ucapnya sambil tersenyum begitu pula dengan calon menantunya.
"Iya pa, kita ke kamar dulu." Harsa beranjak dari ruang tengah menuju ke tangga.
Tangannya mengelus paha istrinya,
"Emang enak kalau ada yang nemenin sih yang. Apalagi seumuran Harsa gitu." bisiknya.
Priska langsung melirik tajam ke arahnya,
"Dasar bapak sama anak sama aja, pantes dulu sampai bunting duluan!" salak istrinya yang membuatnya semakin tergelak.
Sekar
Ia masuk ke kamarnya dan selalu ada orang yang mengekorinya, siapa lagi kalau bukan calon suaminya yang tampan itu.
__ADS_1
"Mas ngapain sih ke sini? Sana lho ke kamar mas." protesnya namun sama sekali tak diindahkan lelaki itu.
Harsa malah melepas pakaiannya dan menyisakan boxer saja, lalu merebahkan diri di atas ranjangnya dengan posisi tengkurap. Ia hanya mampu menggelengkan kepala, mengambil pakaian Harsa dan memasukkannya ke keranjang pakaian kotor.
"Mandi bareng yukk yang.." gumam Harsa dengan kepala masih dibenamkan di kasur membuatnya sedikit tidak jelas mendengarnya.
"Apa? Mandi bareng?"
Dengan santainya lelaki itu menganggukkan kepala.
Ya Tuhan, belum nikah aja mintanya macam-macam gimana kalau udah sah. Batinnya sembari menatap ke arah calon suaminya.
"Nggak ahh! Yang ada bukannya mandi." dengusnya pelan mengingat bagaimana panasnya percintaan mereka di kantor, bahkan hampir saja membuatnya hilang akal untuk menerima ajakan Harsa melalukan hal itu.
Harsa membalikkan badan dan menatapnya sambil tertawa,
"Takut ya kalau kejadian asyik tadi di kantor terulang? Tapi kamu juga suka lho sayang, kamu menikmatinya."
Matanya sontak membulat mendengar ucapaj vulgar Harsa, ia memilih melangkah menuju ke kamar mandi tak menghiraukan ucapan Harsa.
"Yang, beneran nih nggak jadi reka ulang? Aku suka kalau kamu mulai mendesah, kamu juga mulai nakal gitu. Ada yang kangen sama kamu lho yang ini, kangen dimanjain." goda calon suaminya masih sambil tertawa.
"Bodo amat ! Sana manja-manjaan sama guling!" ia menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras.
Daripada mendengar ucapan-ucapan vulgar Harsa, mending ia membersihkan dirinya. Pipinya seketika merona mengingat betapa liarnya saat menyambut sentuhan dari Harsa di ruang kerjanya tadi, hingga ia mampu meninggalkan bekas merah di leher Harsa yang pasti bisa dilihat oleh semua orang.
Tiba-tiba ia teringat, pasti calon mertuanya pun tadi sempat melihat bercak merah di leher Harsa.
"Oh God ! Sekar apa yang kamu lakukan?!" ia menepuk keningnya sendiri.
__ADS_1
......................