
Bali,
Harsa
Hari ini ia sudah menahan hasratnya seharian. Ia tahu dirinya salah dengan cara menyembunyikan trauma yang ia alami selama ini dari istrinya. Bahkan kesalahannya pun sangat fatal, ia lebih memilih mengabaikan istrinya daripada mencari jalan keluar bersama.
Dan malam ini akan menjadi malam dimana ia akan menebus semua kesalahannya. Ternyata tidak mengajak Andra saat ini adalah pilihan yang tepat, karena dirinya dan juga Sekar akhirnya bisa kembali merasakan quality time untuk mereka berdua.
"Mandi dulu yuk..! Lengket semua ini.." ucapnya setelah ciuman mereka terlepas. Matanya menatap bibir istrinya yang terlihat basah dan merah karena ulahnya.
Melihat tubuh istrinya yang sangat menggoda di bawah guyuran shower, ia hanya mampu menelan salivanya, tetap berusaha menahan geloranya yang tengah memuncak. Memang sudah lama sekali mereka tidak pernah mandi bersama, mungkin sudah sejak istrinya mulai mengandung Andra.
"Pakai yang itu, aku tunggu di luar." bisikannya membuat Sekar mengulum senyum dengan wajah yang merona.
Kakinya melangkah menuju nakas, mengambil handphone miliknya dan juga Sekar, kemudian mematikannya. Sungguh malam ini ia tidak ingin diganggu oleh siapapun, walaupun itu putranya sendiri.
Ceklek..
Sekar keluar dengan memakai pakaian tipis menerawang berwarna putih yang sebenarnya bisa dikatakan tidak berguna, karena pakaian itu tidak bisa menutupi satu bagian pun dari tubuh istrinya.
Bibirnya menyeringai dan melangkah mendekat ke arah Sekar. Tangannya membelai lembut wajah cantik istrinya, lalu mengecup lembut bibir ranum itu.
"Tadi di mana paper bag nya?" tanyanya setengah berbisik. Sekar menatap ke arah meja yang ada di sudut ruangan.
Ia melangkah, mengambil isi di dalamnya. Sekar menatapnya, sambil menggigit bibir bawah yang selalu menggodanya.
"Kita nggak akan berhenti kali ini, sebelum kamu benar-benar menyerah." bisiknya di telinga istrinya.
Sekar
__ADS_1
Malam ini bukan hanya suaminya yang bergelora, namun dirinya pun juga sangat merindukan sentuhan Harsa yang selalu membuat kepalanya pening. Seperti malam ini, Harsa benar-benar tak memberinya istirahat. Entah sudah berapa kali mulutnya mengeluarkan *******, teriakan, dan pekikan yang semakin membuat Harsa menggila.
Yang jelas malam ini persis seperti malam pertama mereka dua tahun yang lalu, malam dimana ia menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam pelukan seorang Harsa.
"Sa..yaaa..aangg....Aaakkhh..!" Harsa mendekap erat tubuhnya saat pelepasan mereka datang. Suaminya itu mengecup bibirnya, kemudian disambut dengan tawa mereka berdua di sela napas mereka yang masih memburu.
"Makin lama, kamu makin hot..! Belajar di mana?" Harsa membenahi rambutnya yang sedikit menutupi dahinya yang berkeringat.
Ia yang masih sedikit tersengal, hanya mampu mencibir dan menatap wajah tampan suaminya. Dirinya yang masih enggan beranjak dari pangkuan Harsa, memilih kembali mengalungkan tangannya ke leher suaminya dan membenamkan wajah di lekuk leher suaminya.
Beberapa detik kemudian, ia teringat dan langsung menatap tajam suaminya.
"Mas..?!" matanya membulat seketika, membuat Harsa mengernyit.
"Mas tadi nggak pakai pengaman?!"
Dengan santainya, wajah tampan di hadapannya itu menggelengkan kepala sambil terkekeh.
"Kalau jadi ya nggak apa-apa, biar rumah makin ramai. Andra udah 1 tahun lebih, udah nggak masalah punya adik. Kamu nggak KB?" suaminya kembali membelai lembut punggungnya.
Kepalanya menggeleng dengan bibir yang manyun,
"Dulu sih KB, tapi karena dianggurin lama, yaudah dilepas aja. Nggak ada gunanya juga pakai KB..!" dengusnya, namun malah membuat suaminya terkekeh.
"Sekarang nggak bakal dianggurin lagi, tapi jangan sampai ngeluh kalau badannya remuk ya." Harsa kembali mengecupi dadanya dan seketika membangunkan kembali gairah suaminya.
................
Sekar
__ADS_1
Cahaya matahari mulai masuk ke celah-celah jendela kamar, namun hawa dingin menusuk ke kulitnya. Matanya menatap tubuhnya sendiri yang masih polos dan selimut yang melorot, hingga hanya menutupi bagian pinggangnya ke bawah.
Cupp..
Harsa mengecup tengkuknya dan tentunya dengan tangan yang tak tinggal diam, sudah menjelajah ke sana ke sini.
"Pagi-pagi udah mancing aja nih.." gumam Harsa dengan bibir yang masih menempel di kulit mulusnya.
Tangannya langsung menarik selimutnya ke atas dan menutupi area dadanya. Sungguh pagi ini ia tidak mau meladeni dulu gairah suaminya. Bukannya karena ia tidak suka, namun badannya saat ini sangat terasa remuk. Tulang-tulangnya seakan mau lepas karena ulah suaminya yang sudah entah berapa kali membolak-balikkan tubuhnya dan mencoba beberapa gaya.
Apalagi saat Harsa membeli benda yang dapat membuatnya merasakan sensasi berbeda. Ya, suaminya yang 'liar' kini sudah kembali lagi. Pipunya sampai memanas saat mengingat Harsa mampu membuat dirinya menjadi 'liar'.
Oh..God...!
"Mas...nanti lagi ya.." desisnya saat Harsa kembali memainkan titik sensitifnya. Suaminya kemudian kembali berbaring di sampingnya sambil tertawa pelan.
"Capek ya? Nantangin sih..! Salah sendiri.." matanya langsung melirik tajam dan mencubit perut rata suaminya dengan gemas.
"Aku mau pumping dulu, ini buat Andra lama-lama habis kamu minum kalau nggak cepat-cepat pumping." ocehnya sembari beranjak dari tempat tidur dengan sedikit tertatih karena nyeri di inti tubuhnya.
Tangannya mengambil handphone di nakas sebelah Harsa.
"Kok mati? Perasaan tadi malam, baterainya full?!" gumamnya sembari memencet tombol power.
Suaminya kembali tergelak, membuatnya berdecak.
"Mas ya pasti yang matiin?"
"Sengaja..biar nggak diganggu siapa aja.." ucap Harsa dengab tatapan penuh gairah menatap dirinya.
__ADS_1
"Kamu kalau bilang nanti ya nanti, jangan mancing-mancing gini di depan aku.." sambung Harsa yang membuatnya langsung berlari ke kamar mandi, saat menyadari tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun, yang ia yakini pasti telah membangunkan kembali hasrar suaminya.
......................