
Jakarta,
Harsa
Ia berjalan menyusuri koridor hotel, namun tiba-tiba langkahnya terhenti karena ada sesosok wanita yang telah berdiri di depannya.
"Mau kemana?!" tanya mamanya dengan pandangan mendongak menatap tajam ke arahnya.
"Ahh mama..bentar aja please..!" pintanya dengan tatapan memohon. Daritadi pagi semenjak Sekar masuk ke kamar rias pengantin wanita, ia dilarang menemui Sekar sampai calon istrinya itu benar-benar selesai dan keluar dari ruangan itu.
"Ennnggggg...ngggaaaak..!" salak mamanya sembari mendorong badannya untuk mundur dan menjauh dari ruangan itu.
Ia menghela napasnya, berbalik menuju kamarnya lagi. Namun beberapa detik kemudian ia berbalik badan dan tetap disambut tatapan maut mamanya.
Akhirnya ia memilih masuk ke kamar yang berisikan sahabat-sahabatnya.
"Muka lo kenapa suntuk banget? Belum dapat jatah?" goda Adit sambil terkekeh.
Matanya melirik malas dan ia merebahkan tubuhnya ke sofa dengan wajah yang sudah kusut.
"Gimana mau dapat jatah? Daritadi pagi aja gue belum ketemu sama Sekar. Mama udah macam satpam aja di ruangan Sekar." gerutunya yang langsung disambut tawa seisi ruangan itu.
"Sabar dong, gitu aja langsung kusut." seloroh sahabat lainnya.
drttt..drttt..
Handphone nya bergetar pertanda ada panggilan masuk.
Genta Pranadipa, nama sahabatnya pun tertera di layar handphone nya.
"Halooo ganteng..!" wajah Genta dan Prisha sudah memenuhi layarnya, ia langsung menyambut dengan senyuman lebar.
"Mukanya kenapa kusut gitu sih ganteng? Belum dapat nen ya?" seloroh Genta langsung membuatnya tergelak.
"Edan..!"
"Ya habisnya, mau enak-enak kok malah kusut. By the way, sorry ya kita nggak bisa datang. Nih lihat perut Prisha udah segede balon udara gini." Genta mengarahkan kamera pada perut Prisha yang memang terlihat sangat besar baginya.
"Iya, santai. Yang penting kalian di sana sehat-sehat semua. Kalau gue bulan madu ke London, tolong dijamu ya."
"Ehhh..siap! Ditunggu sekali dong..! Tapi nanti bapak ibu, tante om, sama mertua gue datang kok ke nikahan lo. Ntar kita video call lagi ya ganteng? Semangat ya ganteng..!"
"Semangat dong, gue selalu semangat !" timpalnya.
"Maksud gue, semangat bobol gawang! Jangan kasih kendor, pokoknya pepet terus sampai gempor..!" seloroh Genta setengah berbisik namun berlanjut dengan tawanya yang menggelegar.
__ADS_1
"Jangan berhenti , sampai yang keluar cuma angin doang..!" sahut Adit yang kini berada di belakangnya dan tawa Genta pun semakin menjadi.
"Dikira pompa ban, keluar angin doang.." timpalnya menoyor kepala Adit yang masih terkekeh.
Sudah dua jam lamanya ia menunggu Sekar keluar dari ruangan itu. Mulai dari dirinya yang masih memakai kaos hingga sudah berganti jas, masih belum tampak tanda-tanda Sekar keluar dari ruangan itu.
Namun tak lama kemudian suara pintu terbuka dari ruangan itu. Dengan tergesa ia menghampiri pintu kamar rias Sekar dan saat ini tubuhnya langsung mematung.
"Cantik.." hanya itu yang keluar dari bibirnya saat menatap calon istrinya telah memakai gaun berwarna putih yang terlihat sexy namun tetap masih terkesan sopan, karena Sekar memang tidak meminta terlalu banyak bagian yang terbuka. Mengingat gaun ini akan dipakai untuk acara di gereja.
Bibir Sekar tersenyum dengan mata menatap ke arahnya. Kakinya melangkah semakin dekat ke arah Sekar dan menggandeng tangan calon istrinya.
"Kamu cantik banget sayang, rasanya nggak pengin bawa keluar hotel. Tapi pengin bawa ke kamar aja." bisiknya yang justru langsung mendapatkan tatapan malas dari Sekar.
Sekar
Sudah banyak sahabat dan keluarganya yang datang. Terlihat ayahnya dan juga sang istri serta dua adik tirinya pun turut ikut dalam acara pernikahannya.
Kepalanya mendongak ke atas,
"Ma, hari ini Sekar nikah ma. Doain Sekar ya ma, semoga mas Harsa memang yang tepat untuk Sekar." ucapnya dalam hati.
Sejak kemarin hanya sosok mamany yang ia rindukan. Kedatangan ayahnya pun tak merubah keadaan dan tak ada yang spesial baginya, semuanya biasa saja. Walaupun ayahnya memberinya kado pernikahan tiket honeymoon ke negara mana saja yang ingin mereka kunjungi, serta beberapa kado pernikahan barang mewah untuknya.
Tapi semua itu biasa saja, mungkin semuanya akan terasa spesial kalau keluarganya masih utuh dan ia menikah dengan Harsa. Pasti semua akan terasa sempurna, tapi bukankah hidup memang harus dijalani?
Terkadang ia tidak menyangka, menikah di usia 20 tahun. Sangat muda baginya.
"Mas kok ganteng banget sih. Pengin cium, tapi malu sama orang-orang." pujinya pelan, membuat Harsa mengalihkan tatapan ke depan menjadi menatapnya.
"Nggak usah mancing-mancing, habis resepsi jangan harap tidurmu nyenyak."
Bibirnya mencibir lalu tersenyum tipis,
"Emangnya mau ngapain? Mau main kartu?" godanya sambil menahan tawa.
Harsa mendekatkan bibir ke telinganya,
"Mau mainin kamu sampai lemes." bisik Harsa yang mampu membuat tubuhnya meremang membayangkan betapa ganasnya Harsa malam ini.
Acara pernikahan di gereja pun telah selesai. Mereka semua kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum acara resepsi mereka nanti malam yang akan didatangi dengan ribuan tamu undangan.
Dirinya masuk kamar terlebih dahulu, sedangkan suaminya masih berbincang dengan beberapa keluarga di luar.
Ia memilih menghapus riasan wajahnya yang sebenarnya sangat ia sayangkan karena riasan itu sangat sempurna. Mama mertuanya memang tidak pernah memberikan sesuatu yang biasanya saja untuknya, semuanya serba luat biasa.
__ADS_1
Saat ia mencoba bersusah payah membuka gaunnya, suara pintu kamarnya terbuka. Ia bernapas lega, akhirnya ada yang bisa membantunya. Namun sedetik kemudian, tubuhnya kembali meremang. Lelaki me sum yang sudah menjadi suaminya ini akan membantunya atau malah akan meminta yang lain?
"Sayang.." Harsa melepas jas hitam dan menggantungnya di lemari, lalu melepas sepatu dan berganti sandal hotel.
Tangannya masih mencoba membuka sendiri gaun itu walaupun dengan susah payah. Harsa melangkah mendekat ke arahnya.
Suaminya itu malah memutar badannya dan merengkuh pinggangnya. Mata mereka saling beradu saling diam sejenak, hingga Harsa tersenyum ke arahnya.
"Nyonya Harsa Dewananda." gumam Harsa pelan tanpa mengalihkan pandangan sedetik pun.
Suaminya itu langsung menikmati bibirnya, mengelus punggungnya dengan sangat gerakan sangat halus.
Entah kapan, ritsleting gaunnya pun sudah turun. Namun gaun itu masih terpasang di badannya, karena di bagian pinggulnya dibuat press body.
"Kamu nggak pakai bra?" Harsa menatapnya dengan tatapan sayu.
Ia menggelengkan kepalanya,
"Kan ini udah ada penyangganya." memang gaunnya itu didesain tanpa harus memakai bra.
Bibir Harsa tersenyum penuh makna,
"Aku kangen banget sama kamu sayang." Harsa kembali menyusuri tubuhnya.
"Mas, jangan sekarang. Nanti malam masih resepsi lho." tolaknya dengan halus dengan sedikit mendorong pelan dada suaminya.
Memang selama dua minggu setelah kejadian panas di kantor, mereka tidak saling bermesraan. Harsa pun memilih tidur di kamarnya sendiri.
"Dua minggu lho aku nggak dimanjain." Harsa menatapnya memohon. Kasihan memang, sudah satu bulan mereka tidak bertemu, saat ingin bercinta juga gagal. Lalu dua minggu pun Harsa seakan menarik dan membatasi diri untuk menyentuhnya.
Dengan jantung yang berdegup cepat ia memilih memulai terlebih dahulu untuk mencium Harsa. Permainan bibir yang semula lembut berubah menjadi semakin panas dan menuntut, bahkan sekarang gaunnya sudah berhasil terlepas dari tubuhnya.
Setelah beberapa menit, Harsa merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Suaminya mulai menanggalkan pakaian satu per satu hingga tak ada satu benang pun yang menempel.
"Kok merah mukanya?" suaminya menatapnya lekat.
"Kan bukan pertama kali lihat. Malu ya?" lagi-lagi Harsa menggodanya.
"Mas yakin? Ini masih siang lho." gumamnya sembari membelai wajah Harsa dan ia bisa merasakan sesuatu yang memang sudah on.
"Aku cuma mau bikin kamu enak dan kamu manjain ini." bisik Harsa sembari mengarahkan tangannya ke milik suaminya yang memang suah rindu dengan sentuhannya.
Ia yakin Harsa belum meminta menu utama, karena mengingat mereka akan menggelar resepsi malam ini.
Namun permainan yang luar biasa pasti juga akn membuatnya cukup lelah.
__ADS_1
"Lepasin aja, teriak sesuka kamu. Di sini nggak akan ada yang ganggu yang.." desis Harsa dengan suara yang sudah berat dan penuh gairah saat berhasil membuat dirinya menggila.
......................