Sekar (Sang Pemilik Hati)

Sekar (Sang Pemilik Hati)
Menyelesaikan


__ADS_3

Sekar


Mas, aku nyusul ke sana ya.


Pesan yang sudah hampir setengah jam ia kirimkan ke suaminya, namun masih belum ada balasan.


Setelah memutuskan berisap diri, akhirnya ia memilih keluar dari kamar dan menuju ke lounge di mana suaminya dan juga teman-temannya berkumpul.


Perempuan cantik entah siapa namamya tengah duduk di samping Harsa, membuat keningnya mengerut. Hal seperti itu sebenarnya bukan pertama kalinya, ia tahu suaminya bahkan sampai saat ini masih dikelilingi dengan berbagai macam wanita di luaran sana. Namun yang membuatnya jengah kali ini, tatapan mendamba dan menginginkan dari perempuan itu ke suaminya. Bahkan, tak segan-segan perempuan itu menyentuh bahu Harsa dengan tatapan menggoda.


"Sekar nggak tahu tentang ini?" pertanyaan yang terlontar dari mulut lelaki bernama Kairav menyapa gendang telinganya.


Suaminya menggelengkan kepala sambil tersenyum,


"Jangan dulu, semua ada waktunya.."


Jawaban suaminya membuatnya semakin mengerutkan kening. Apa yang sedang mereka bahas? Apa yang tidak boleh ia ketahui? Dan siapa perempuan itu?


Kakinya semakin mendekat ke meja di mana suaminya berada, mungkin karena terlalu serius membicarakan sesuatu hal sampai-sampai tak ada satu pun yang menyadari kedatangannya.


Baru saja saat bibirnya ingin menyapa mereka, matanya menangkap perempuan itu bersandar manja di bahu Harsa. Ia memilih untuk pergi dari tempat itu, namun baru ia memutar badannya.


"Sekar!" suara Adit menyapanya.


Harsa


Ia terperanjat saat Adit memanggil nama istrinya,


"Sekar!" matanya menatap sosok istrinya yang tengah membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu.


Dengab tergesa ia mengambil handphone nya yang daritadi tergeletak di meja, lalu berusaha menyusul Sekar yang sudah dipastikan akan ada kesalahpahaman yang terjadi. Ia langsung beranjak berdiri tanpa memperhatikan Letta yang tengah bersandar di bahunya.


"Wahh..perang nih, gue ngomong apa kan?" gumam Adit pelan namun terdengar jelas di telinganya.


Ia sedikit berlari untuk menyusul langkah Sekar yang sudah sangat jauh. Setelah berhasil keluar lounge yang cukup ramai malam itu. Ia sudah tak melihat kembali keberadaan Sekar.


Jari memencet tombol lift ke atas menuju ke kamarnya. Saat memasuki kamarnya, ia tak melihat istrinya berada di situ.


"Ayo angkat dong sayang...." gumamnya sendiri dengan kepanikan saat Sekar tak mengangkat teleponnya untuk ketiga kalinya.

__ADS_1


"Ayo..come on, angkat sayang..."


Entah sudah berapa kali ia mencoba menghubungi istrinya tapi tak satu pun yang diangkat. Kakinya berjalan menuju ke arah kamar mandi, ia memilih mebasuh wajahnya karena rasa pening di kepalanya. Matanya melirik ke samping wastafel, melihat sebuah lingerie yang ia ketahui milik istrinya dan sebuah pengaman yang masih tersegel rapi.


Ia mencoba mengatur deru napasnya, menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dadanya terasa sesak saat ini, setelah tahu istrinya berniat memberikan kejutan di hari anniversary mereka.


Ceklek..


Suara pintu terbuka, ia langsung beranjak keluar dari kamar mandi dan beradu pandang dengan istrinya. Sekar memilih diam, berjalan melewatinya menuju ruang tengah.


Ia mengekori kemana istrinya berjalan,


"Yang..."


"Besok aku mau ke Surabaya." ucapan istrinya membuatnya mengerutkan keningnya. Sekar berbicara sambil mengacuhkan keberadaannya, tanpa menatapnya sedikitpun.


"Kok ke Surabaya?"


"Aku ada meeting di sana." ucap Sekar tanpa menatapnya lagi.


"Bukannya kamu cuti? Kita masih di sini tiga hari lagi lho." ucapnya tenang mencoba meredam suasana memanas ini.


Sekar tersenyum sinis sembari membereskan beberapa baju yang sempat ditata di lemari ke dalam koper.


Ia menarik pinggang istrinya, membuat Sekar menempel padanya. Mau tak mau istrinya menatap padanya karena tindakannya yang tiba-tiba.


"Makasih buat kejutannya, maaf aku yang bikin berantakan semuanya."


Sekar menatapnya lekat, saat tangannya mulai mengelus pelan punggung yang sudah lama tidak ia sentuh. Entah kenapa malam ini jantungnya kembali berdegup cepat saat berada di dekat istrinya. Sebuah hal yang sempat menghilang saat istrinya mulai mengandung Andra.


Sekar menyentuh tangannya dan menghempaskannya. Kemudian kembali berkutat pada koper itu, tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.


Ia tak akan menyerah kali ini, tangannya kembali memeluk pinggang istrinya dari belakang.


"Maaf.." hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.


"Mas, minggir aku beres-beres!" lagi-lagi Sekar menghempaskan tangannya.


"Itu tadi Letta, cewek yang dibawa Kairav." ia mencoba membuka obrolan untuk sebuah penjelasan.

__ADS_1


Sekar kembali tersenyum sinis,


"Cewek dibawa Kairav? Tapi megang-megangnya ke kamu?" jawaban dengan nada sinis dari seorang Sekar yang tidak pernah ia dapatkan dari dulu.


"Sumpah yang ! Nggak ada main aku sama dia, tanya sama Adit. Aku nggak pernah ada main sama siapapun." jelasnya, memang itulah kenyataannya. Walaupun ia sadar kualitas hubungan ranjang mereka berkurang drastis, tapi ia sama sekali tak menyentuh perempuan lain.


Sekar melempar tatapan tajam ke arahnya, namun mulai dihiasi air mata yang menggenang.


"Ini alasannya kamu berubah dan udah nggak pernah nyentuh aku? Karena di luaran sana ada banyak wanita yang bersedia menyentuh mas Harsa?"


Air mata Sekar sukses keluar dari singgasananya, istrinya membuang begitu saja pakaian yang telah digenggam, lalu duduk terisak di tepi ranjang.


Ia berlutut di depan Sekar sambil merengkuh tubuh ramping istrinya itu.


"Maaf.." ucapnya lirih.


"Aku nggak butuh uang atau bisnis baru yang mas buka untuk aku. Aku cuma mau, mas kembali seperti dulu ! Aku juga butuh nafkah batin dari mas Harsa !" kali ini Sekar kembali berucap dengan emosi yang kembali meledak.


Bibirnya terkatup saat wajah cantik istrinya itu mulai basah dengan air mata.


"Aku capek mas." ucap Sekar kembali kali ini dengan lirih.


"Kalau emang mas Harsa udah nggak cinta lagi sama aku, mas bisa ngomong sama aku. Aku nggak akan pernah menahan siapapun untuk mencintai aku dengan terpaksa. Kalau..."


"Kalau mas memang cuma sayang sama Andra, nggak apa-apa, tapi ngomong sama aku. Jangan seperti ini, jangan jadikan aku seperti wanita ja*ang yang butuh kehangatan di depan suaminya sendiri mas." Sekar semakin terisak.


Namun ucapan Sekar membuatnya terperanjat,


"Kamu ngomong apa sih? Kok ngomongnya gitu? Aku nggak suka.." ucapnya lembut tapi penuh dengan penekanan.


"Suka nggak suka, tapi itu kenyataannya. Aku capek !"


Sekar


Malam ini ia sudah tidak sanggup memendam semua yang ia rasakan saat ini. Melihat Harsa diam saja saat perempuan lain bergelayut manja, membuat hatinya meradang.


Hatinya selalu berusaha tetap menjaga perasaan cinta, namun apa yang ia dapat? Sempat terbesit pertanyaan di dalam hatinya, apakah ia salah kalau ia menyerah? Apakah ia salah jika memutuskan untuk berhenti jatuh cinta dengan suaminya sendiri? Bukankah sebuah hubungan itu harus dari dua arah, bukan dari usahanya sendiri?


Namun semuanya luruh saat melihat Harsa sangat menyayangi Andra dan semua tindakan Harsa yang menjadi papa yang sangat sempurna, yang pastinya akan diidolakan oleh semua istri bila memiliki suami yang seperti itu.

__ADS_1


Tapi bagaimanapun ia juga butuh cinta untuk dirinya sendiri, ia butuh kehangatan untuk dirinya sendiri. Dan semua itu sudah tidak ia dapatkan lagi, jujur terkadang dirinya merasakan ada sesuatu yang kosong dan hilang begitu saja.


......................


__ADS_2