Sekretaris Nakal

Sekretaris Nakal
bab 36


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Jimmy saat melihat dokter keluar dari ruang perawatan.


"Untungnya luka di kepalanya tidak terlalu dalam, jadi tidak menimbulkan luka yang serius." ujar dokter sambil membenahi stetoskop di lehernya.


Fiuhh.


Jimmy menghembuskan nafas lega, setidaknya dia selamat dari amukan Harry dan ancaman kematian yang tertulis di keningnya.


Harry Smith, ayah dari mereka semenjak kembalinya Arka kerumah, ia menjadi sangat protektif pada Arka, tidak ingin sekalipun Arka lecet sedikitpun, kalo itu terjadi ia yang akan kena imbasnya.


Ya beginilah nasib sebagai anak sulung, selalu saja disalahkan jika sesuatu terjadi pada anak bungsu.


Arka membuka matanya perlahan, mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, terlihat jika ia berada di kamar rumah sakit dengan cat yang berwarna putih dan selang infus di tangannya.


"uhgg." lenguh Arka, sambil memegangi kepalanya yang sakit dan sepertinya di balut perban karena ia memegang permukaan kain kasa yang kasar.


"Lo udah sadar... syukurlah." ujar Jimmy saat ia masuk keruang rawat Arka.


"Hmm... gimana Aqella?"tanya Arka.


Ia sangat khawatir dengan keadaan Aqella, melihat amukan Cleo seperti tadi membuat ia menjadi tak tenang, terlebih ia juga sangat lemah karena tidak mampu melawan Cleo saat Cleo menghajarnya dan malah tergeletak tak sadarkan diri.


Jimmy mengerutkan dahinya, terlihat jelas di wajah pria ini jika ia tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan Arka.


Tapi saat ia berpapasan dengan Cleo di koridor hotel tadi, dan melihat ekspresi Cleo, ah tidak semoga saja dugaannya tidak benar.


"Apa yang udah lo lakuin ke Aqella?"tanya Jimmy, menatap Arka penuh selidik.


Arka memalingkan muka, menghindari tatapan Jimmy yang menusuk ulu hati itu.


Walaupun Arka tidak terlalu menghormati Jimmy sebagai kakanya, tapi kadang kalanya Arka merasa takut dengan Jimmy.


"Gak ada."jawab Arka bohong.


Jimmy tidak percaya begitu saja, walaupun ia tidak tumbuh bersama dengan Arka, tapi dia tau tabiat Arka saat berbohong.


Jimmy menarik wajah Arka hingga meraka saling berhadapan dan mata mereka saling bertemu "Apa yang lo lakuin?!!" tanya Jimmy sekali lagi.


Arka tidak menjawab, bahkan ia segera bangun dan mencabut selang infus dengan keras, melupakan rasa sakit yang di tangannya.

__ADS_1


Saat ini yang Arka inginkan adalah menemui Aqella dan melihat kondisinya.


Arka berjalan keluar ruangan rawatnya dengan sedikit sempoyongan karena masih merasakan pusing di bagian kepalanya.


"Dia sudah menikah...."


Perkataan Jimmy mampu menghentikan langkah Arka yang sudah di depan pintu ruang rawatnya, segera ia memutar tubuhnya dan melihat ke arah Jimmy "Lo bohong... gue gak denger berita apapun tentang pernikahan Qella." ujar Arka.


Sesak kini menyelimuti perasaannya, tidak dapat percaya dengan ucapan Jimmy, karena baru saja ia dan Aqella ingin menyatukan perasaannya jika saja tidak di hentikan dengan aksi Cleo yang tidak tahu tata krama tersebut.


"Karena Cleo meredam beritanya!!" teriak Jimmy "sempat tersebar lima menit, tapi berita itu semua hilang, gak tau alasannya apa... yang jelas Cleo ingin orang gak ada yang tau Aqella istrinya."terang Jimmy.


Alasan apa itu, bukankah seharusnya pernikahan adalah momen yang membahagiakan, lantas kenapa Cleo meredamnya, apa mungkin Cleo memiliki rencana jahat untuk Qella, tidak bisa di biarkan. batin Arka membenarkan asumsi nya.


Sedangkan dengan Cleo, ia langsung terbang kembali menuju ke Jakarta, tidak ingin berlama lama di Bali.


Membiarkan Aqella terikat di dalam kursinya, yang terus meronta ronta untuk di lepaskan dan minta untuk Cleo menyentuhnya, hingga Aqella berhenti sendiri dan tergeletak di kursinya.


"Hahaha." suara tawa Cleo menggelegar ke seluruh kabin pesawat, mengejutkan para kru pesawat yang sedang bertugas.


"BAJING*N...BR*NGS*EK...B*CT...F*CK!!!"


Dia memang pria. Tapi tidak bisakah seorang pria merasakan sakit saat orang yang di cinta mengkhianatinya.


Aqella, wanita yang langsung merebut hatinya di saat pertama kali bertemu, wanita yang menyembuhkan penyakit anehnya, tapi lihatlah sekarang wanita di sampingnya ini, kini telah berubah menjadi j*lang.


Cleo tersenyum miring melihat keluar jendela, masih terekam jelas dalam ingatannya tentang adegan di kamar hotel saat Aqella di gagahi oleh Arka, pria yang menjadi sahabat Aqella dan saingan dalam cintanya.


Tapi lihat dalam pernikahannya yang masih beberapa hari, Arka telah mengalahkannya, menghancurkan harga dirinya sebagai seorang pria dan suami.


Tibanya di Jakarta, Cleo langsung membawa Aqella ke apartemennya dan meletakan tubuh Aqella di kamarnya, membiarkan Aqella tersadar dengan sendirinya.


Keesokan paginya, Aqella bangun dari pingsannya yang berlanjut menjadi tidur, dan saat membuka mata, mendapati Cleo duduk di ujung ranjang dengan rokok di tangannya.


Bahkan ruangannya kini sudah di penuhi dengan asap rokok, entah sudah beberapa banyak batang rokok yang sudah di habiskan Cleo.


"Suamiku."ujar Aqella merangkul Cleo dari belakang.


Aqella teringat jika Cleo ingin ia memanggilnya dengan embel embel, tanpa langsung memanggil namanya.

__ADS_1


"Kenapa kau merokok di dalam kamar... asapnya memenuhi ruangan." protes Aqella, karena sekarang ia sudah mulai merasakan sesak di dadanya.


Cleo menepis tangan Aqella dari lehernya, tidak sudi jika Aqella menyentuhnya, bahkan mendengar Aqella memanggilnya dengan sebutan suami, seperti sembilu yang mengangkat derajatnya dan menghancurkan harga dirinya sebagai seorang pria yang sudah menikah.


"Kau tidak ingat dengan apa yang kau lakukan semalam?" tanya Cleo tanpa menatap Aqella sedikitpun.


"Aku... aku tidak terlalu ingat." ujarnya sambil memutar matanya keatas, mengingat apa yang terjadi.


"Ck... Apa perlu aku ingatkan." seringai Cleo, langsung memutar tubuhnya dan mendorong kasar Aqella, hingga Aqella terjerembab ke kasur.


Aqella terkesiap dengan sikap Cleo yang seperti ini, tidak biasanya Cleo bersikap seperti ini, ada apa dengan suaminya.


"Hahaha."


Tawa Cleo menggelegar ke seluruh kamar, memekikkan telinga Aqella yang mendengarnya, bahkan sekarang sangat takut melihat Cleo yang seperti ini.


"Cleo...."ujar Aqella menatap Cleo.


Cleo langsung menahan tangan Aqella, menindih Aqella dengan tubuhnya, dan menghujani Aqella dengan ciuman ciuman di sekujur tubuhnya, seperti ingin menghapus jejak dari seseorang dari tubuh istrinya.


"Ahh." lengu Aqella saat Cleo menyentuh titik sensitifnya, terlebih saat suasana masih pagi seperti ini, saat hormon oksitosin sedang tinggi tingginya.


"Cleo mmm... perlahan... ini... sakit." ujar Aqella di sela sela kenikmatan yang tiada tara.


Cleo menghentikan aksinya, dan bergegas turun dari ranjang meninggalkan Aqella yang masih melihatnya heran.


"Cih J*l*ng." ujar Cleo sambil membanting pintu dengan keras.


Brak.


Aqella terkesiap, dan apa katanya ia j*l*ng, apa Cleo tidak waras mengatakan istrinya sendiri dengan sebutan rendahan seperti itu.


Seperti sebuah pisau yang langsung menusuknya, sakit sangat sakit.


Bahkan saat ini air matanya langsung begitu saja keluar dengan derasnya membasahi pipinya.


...----------------...


...tinggalkan like komen untuk penulisnya kak.....

__ADS_1


...sebagai bentuk dukungan....


__ADS_2