Sekretaris Nakal

Sekretaris Nakal
bab 78


__ADS_3

Mengantar kepergian Clay kesekolah barunya, Cleo benar benar disuguhi pemandangan yang menakjubkan.


Ketika anaknya itu, berlari masuk ke gerbang sekolah, dengan kedua tangan direntangkan diudara, dia terbang seperti sebuah pesawat.


Terbanglah nak, setinggi kamu bisa. harapnya dalam hati.


Kembali mengendarai motornya, Cleo memecah jalanan ibukota yang macet, tak bisa dipungkiri bahwa ini akan memakan waktunya yang memang seorang pengusaha sibuk.


Ketika pandangannya kembali tidak fokus, sebuah bocah kecil berlari kearahnya.


Sengaja atau tidak, yang pasti Cleo berusaha membanting stir motornya ke arah kanan.


Hingga benturan tak dapat di hindari, Cleo terjatuh dan terpelanting hingga beberapa meter kedepan, untungnya hal hal seperti ini sudah biasa dia lakukan, jadi tidak membuat Cleo merasakan sakit yang luar biasa.


"Kamu tidak apa apa nak?" tanya Cleo dengan panik.


Memandangi wajah bocah tersebut, entah mengapa Cleo merasa pernah bertemu.


Namun dimana, bahkan Cleo lupa.


Bocah tersebut hanya mengangguk sebagai ganti jawabnya.


Ketika Cleo melihat wajahnya yang penuh lebam, berfikir dalam hati 'apa yang sudah terjadi padanya'


"Paman aku permisi," pamitnya dengan suara bergetar.


Cleo menahan pundaknya, tidak akan membiarkan bocah ini pergi begitu saja, entah mengapa firasatnya mengatakan tidak enak.


Mencoba memeriksa, dan benar saja dibalik sakunya ada lima gram sabu.


Dia pengedar? atau hanya dipaksa untuk melakukannya?. tanya Cleo dalam hati.


Bocah tersebut langsung bersimpuh dikaki Cleo, memohon belas kasihnya agar dia tidak dibawa ke kantor polisi.


"Paman jangan bawa aku, aku hanya disuruh," ibahnya.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan membawamu, kamu mau ikut denganku?" tanya Cleo.


Jelas sekali ada keraguan dimata bocah tersebut, bahkan dia melihat kekanan dan kiri, takut takut ada seseorang yang sedang mengikutinya.


"Apa yang kamu lihat?"


"Tidak ada... Paman maaf aku tidak bisa ikut denganmu." ujarnya dan berlari begitu saja meninggalkan Cleo.


...----------------...


(Perbedaan waktu Indonesia - London 7 jam lebih cepat Indonesia)


...----------------...


London 21:25


Kehidupan Arka dibuat berantakan karena kehadiran Alice disisinya, wanita itu selalu saja mengekor dibelakangnya.


Bahkan saat ini, Alice dengan santai meletakan kepalanya dipaha Arka, sambil berselancar dengan ponselnya.


"Aku rasa kamu wanita yang tidak tahu malu, yang pertama kali aku temui," ujar Arka.


"Dan kamu pria batu yang pertama aku temui," sahutnya lagi.


"Berapa banyak pria yang sudah kamu cium?" tanya Arka penuh selidik.


"Tidak ada, kamu yang pertama," jawab Alice.


Meletakan ponselnya kembali, Alice mengubah posisinya menjadi duduk di pangkuan Arka.


Angin berhembus tak kala mata mereka saling beradu, seperti kata yang tak terucapkan, tatapannya membekukan Arka dalam diamnya.


Tidak ada tolakan saat Alice melingkarkan tangannya di leher Arka, wanita ini membenamkan wajahnya di pundaknya.


Irama detak jantung yang begitu cepat, sungguhlah menghanyutkan, seperti sebuah melodi pengantar tidur yang begitu indah.

__ADS_1


Ketika kantuk mulai menyerang, mata ikut terpejam dengan sendirinya, mengantarkan wanita dalam dekapan Arka menuju alam mimpi.


Rasa yang sudah hancur untuk ketiga kalinya, tidak akan mudah untuk ditata kembali, walaupun sekuat apapun mencoba, pada akhirnya akan tetap sama.


Ketika detik jam menjadi sebuah penentu tentang bagaimana tindakan Arka selanjutnya, mendapati gadis cantik terlelap dalam pangkuannya.


Deru nafasnya begitu tenang, seakan tidak ada beban dalam hidupnya, Alice sudah terlalu jauh berkelana di alam mimpinya.


Arka membopong tubuh Alice, membawanya ke kamar yang ada dalam ruang kantornya, meletakkannya di kasur, dia akan beranjak pergi.


Namun, sebuah genggaman di pergelangan tangannya menghentikan langkah Arka.


"Tidak... jangan...." racau Alice dalam tidurnya.


Ketenangan dalam tidurnya tidak terlihat kembali, Alice begitu ketakutan.


Apa yang terjadi.


"Jangan pergi."


Arka berjongkok disamping Alice "tenanglah, aku tidak akan pergi."


Ah, sebuah janji yang tanpa sadar Arka ucapkan hanya untuk membuat Alice menjadi tenang kembali, dan ini seperti sebuah belati, yang sewaktu waktu kembali bisa menusuknya.


Memilih ikut membaringkan tubuhnya disamping Alice, tidak ada yang dapat dia lakukan lagi selain memeluk guling hidup.


Biarlah untuk malam ini Arka tidur lebih awal, siapa yang tahu hari esok akan terjadi apa.


Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela, menghangatkan setiap jiwa yang merasa kedinginan tentang kehidupan dunia yang begitu penuh ilusi.


Alice masih enggan untuk beranjak, rasa sesak selama tidurnya, ternyata didapat dari arka yang terus melingkarkan lengan diperutnya.


Dia pria berhati lembut, mungkin saja keadaan yang memaksanya, tapi Alice tidak pandai menerka nerka, dia bukan peramal apalagi bisa menebak isi hati seseorang.


"Pagi suamiku," sapa Alice, saat Arka baru membuka matanya.

__ADS_1


"Siapa yang kau panggil suami?" tanya Arka, suaranya masih serak.


Pandangan Arka masih begitu buram, mengusap wajahnya, dia memilih untuk segera bangun, meninggalkan kamarnya.


__ADS_2