
Aqella masih enggan untuk beranjak dari kasurnya, ia masih terisak membenamkan wajahnya di bantal.
Entah sudah berapa kotak tisu yang ia pakai untuk mengelap ingus yang keluar bersamaan dengan air matanya.
Bahkan Cleo meninggalkannya dengan ucapan terakhir j*l*ng, tidak bisakah Cleo....
Terlebih dulu menjelaskan kepadanya apa salahnya daripada pergi penuh kemarahan seperti itu.
Lalu apakah Aqella akan terus membiarkan kesalahpahaman ini berlanjut?
Jawabannya, tidak!
Aqella tidak bisa berdiam diri begitu saja.
Aqella harus menyusul Cleo ke kantornya dan mencari tau apa salahnya.
Dengan mata yang bengkak dan hidung yang merah akibat terlalu lama menangis,Aqella berjalan membuka lemari pakaian, bersiap siap untuk ke kantor Cleo.
Tidak lupa juga sebelum berangkat, Aqella menyiapkan beberapa menu masakan untuk makan siang Cleo, biarkan saja nanti Cleo yang akan memilih sendiri makanan kesukaannya.
Sedangkan di kantor, Cleo memaki semua pegawai, tidak terkecuali bahkan OB yang pekerjaannya tidak ada sangkut paut dengan pekerjaan yang bersangkutan dengan pemrograman atau sejenisnya di bagian game atau digital lainya, tetap kena maki Cleo.
"Kamu lihat lantai ini berdebu,bahkan kaca gedung ini juga berdebu!" teriak Cleo, ke team leader OB.
"Maaf tuan, kalo kaca gedung bukan bagian kami, itu tugas Gondola." ujar salah satu team leader menjelaskan.
"Lantas SAYA PEDULI!"teriak Cleo "Didi, saya kemarin nyuruh kamu buat ngasih laporan desain grafis, kenapa saya gak terima?!" lanjut Cleo lagi yang kini beralih memarahi Didi.
Didi menelan ludah, tidak bisakah ia bebas dari amukan Cleo barang sekali saja setiap kali Cleo uring uringan seperti ini, sakit rasanya kepala.
"Itu udah saya simpan di meja anda tuan." ucap Didi menerangkan.
"Saya gak nerima, kamu bikin lagi yang baru, saya tunggu lima belas menit!" ujar Cleo berlalu begitu saja meninggalkan para pegawai yang habis senam jantung karena teriakan Cleo.
Ya jelas saja Cleo tidak menerima, toh semua barang barang yang ada di meja sudah ia lempar kemana tau, bahkan kondisi ruangan saat ini seperti baru saja mengalami badai, yang meluluhlantakkan segalanya.
"Daripada begini lempar aja saya tuan dari gedung ini."gumam Didi sangat pelan.
Tapi sial, Cleo yang pendengarannya sangat tajam, mampu mendengar gumaman Didi "Kalo itu mau kamu, saya akan suruh orang buat lempar kamu sekarang juga!" teriak Cleo tanpa melihat ke Didi yang kini sudah basah karena peluh di sekujur tubuh.
Nasib nasib, begini amat sih. keluh Didi dalam hati.
Sedangkan Robby bahkan sampai tidak berani memunculkan batang hidungnya di hadapan Cleo, Robby memilih tidak ingin menjadi samsak untuk Cleo.
__ADS_1
"Pulang bulan madu itu seneng, kenapa marah marah kaya gitu sih." gumam Robby pada dirinya sendiri.
Robby memilih menyibukkan diri berkutat dengan komputer yang ada di depannya. Walaupun pekerjaan ini sebenarnya membutuhkan Cleo sebagai pemimpin disini, tapi sudahlah ia masih sayang dengan tubuhnya.
Brakk
Suara bantingan pintu, mengejutkan Robby membuat Robby mengeluarkan rahasia yang selama ini hanya ia yang tau.
"Kawin ma kambing... kawin ma kambing." teriak Robby mengangkat kedua tangan di udara sambil menjulurkan lidah keluar masuk. yap Robby kadang kala suka latah.
Cleo tidak menunjukan ekspresi apapun melihat Robby yang latah, bahkan muka Cleo sangat datar, mengalahi dinding di sekitarnya.
"Lo kalo masuk bisa gak jangan ngagetin!"protes Robby kesal.
"Kenapa lo gak nongol di ruangan gue?!" ucap Cleo yang kini mendaratkan bokong di sofa panjang di sudut ruangan.
Cleo memijit pelipis, rasanya sangat pusing karena sedari tadi marah marah terus di tambah ia juga tidak tidur semalaman, memikirkan Aqella yang berkelakuan seperti itu.
"Mau gimana lagi, gue masih sayang kuping sama badan gue." ucap Robby santai.
"Maksud lo?" bahkan kini Cleo melotot ke arah Robby.
"Ahh... itu gak." ucap Robby tercekat, bahkan ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa agak takut di plototin Cleo seperti itu.
Berasa malaikat maut ada di hadapannya saat ini.
"Astaga!!"seru Robby kaget.
Untuk kedua kali, Robby dikejutkan dengan bantingan pintu di ruangannya, dan lihat siapa pelakunya, Aqella Agatha yang sekarang sudah menjabat sebagai nyonya besar Rodriguez.
"Kak Robby, dimana Cleo?!" seru Aqella panik, karena saat Aqella ke ruangan Cleo, Aqella mendapati ruangan Cleo yang sudah berantakan.
Takut takut terjadi sesuatu dengan suaminya Aqella bergegas keruangan Robby.
"Tuh...."tunjuk Robby ke sudut ruangan yang ternyata Cleo sedang menatap tajam kearah Aqella, seperti tidak senang dengan kehadiran Aqella di kantornya.
Aqella bergegas menghampiri Cleo, dan duduk di samping Cleo, meletakan luncbox di atas meja.
"Aku bawa makan siang buat kamu... kamu tinggal pilih mau makan apa." tawar Aqella, sambil membuka satu persatu tutup luncbox.
Aroma yang menyeruak keluar dari makanan yang di bawa Aqella, membuat perut Cleo langsung keroncongan, terlebih dengan tampilan yang menggugah selera itu, ingin cepat cepat langsung melahap habis tanpa sisa semua makanan yang di meja.
Mmm wanginya enak banget, laper juga dari pagi belum makan... ahh tapi gue gengsi mau ngambil... gue kan lagi marah. ujar Cleo dalam hati.
__ADS_1
"Kamu ngapain kesini?" tanya Cleo, namun fokusnya masih ke arah makanan yang ada di meja.
"Kita perlu bicara."
"Gak ada lagi yang perlu dibicarain... semuanya sudah terlihat jelas."
"Jelas dalam artian apa?! aku bahkan gak tau kamu marah kenapa!" teriak Aqella.
"Dosa gak ya nguping urusan rumah tangga orang? tapi kalo gak nguping gue kepo."gumam Robby dilema.
"DOSA!" bentak Aqella dan Cleo bersamaan menatap nyalang ke arah Robby.
Glek.
Robby langsung menelan ludah di bentak oleh tuan dan nyonya duo garang ini, lihatlah nanti bukan hanya Cleo yang akan memakinya saja, tapi Aqella juga pun sama.
"Kenapa masih disini? KELUAR!" perintah Cleo.
Robby bangkit dari duduk, dan berjalan lesu keluar ruangan.
Sayang sekali ia disuruh keluar, padahal Robby ingin sekali menonton drama yang melebihi serunya drakor, tapi sudahlah.
Setelah Robby keluar Aqella dan Cleo masih enggan bicara satu sama lain, mereka masih sibuk dengan pikiran masing masing.
Aqella masih memikirkan alasan Cleo memarahinya, sedangkan Cleo ia masih sibuk dengan asumsinya sendiri yang merasa Aqella mengkhianatinya.
"Apa salahku?" ucap Aqella setelah cukup lama hanya diam.
"Ikut aku." Cleo beranjak dari duduk, dan menarik tangan Aqella dengan kasar.
Bahkan langkah kaki Cleo yang cukup lebar, membuat Aqella susah menyeimbangi, Aqella nyaris saja tersungkur jika ia tidak dengan cepat menyeimbangi Cleo dan berjalan sejajar dengan Cleo.
Cleo membuka ruang kerjanya dan menghempaskan Aqella di sofa.
"Lihat ini!" Cleo menunjukan sebuah rekaman cctv di laptop ke Aqella.
"Ini...."
...----------------...
Dari pagi sibuk, banyak kerjaan baru bisa up.
Tinggalkan like, komen ya kak.
__ADS_1
Sebagai bentuk dukungan untuk penulis amburadul ini.
suwun