
Arka yang tengah dilanda keresahan dalam hatinya, tidak dapat memejamkan matanya, bayangan tentang dokter yang bernama Bella itu, selalu hadir dalam ingatan.
Terasa aneh, mungkin saja.
Seharusnya dia saat ini sedang menangis meratapi kegagalan nya lagi bersama Aqella,tapi rasa itu entah pergi kemana, diganti dengan rasa penasaran akan sosok Bella.
Persetan dengan segalanya, besok ia akan pergi lagi ke rumah sakit mencari tau tentang Bella.
Sementara Aqella dan Cleo masih asik bergulum di atas kasur, mengabaikan Clay yang masih terlelap dengan pulasnya di samping mereka.
"Pelan pelan, nanti Clay bangun," bisik Aqella.
"Ini juga pelan yank, kamu jangan teriak teriak," sahut Cleo.
Berhubungan seperti ini memacu adrenalin Cleo, bahkan jantungnya berpacu lebih cepat dibandingkan saat ia berlari satu kilometer.
Bagaimana jika anaknya bangun, dan melihat mereka seperti ini, ahh bisa amsyong Cleo.
Menggoyangkan lebih cepat pinggulnya, Cleo memaju mundurkan miliknya, dan dengan hentakan yang cukup kuat, ia melepas semua benih yang terpendam selama ini, dan semua ini cukup melegakan.
"Aku akan tidur di sofa, besok kita akan pulang, dan langsung ke bandara," Cleo dengan kecepatan penuh memakai bajunya kembali, ia tidak ingin jika Clay melihatnya, karena anak itu kini sudah mulai terlihat tidak nyaman dalam tidur.
"Secepat itu?"
"Tentu saja, aku tidak ingin Arka mengganggu kita lagi,"
"Kau berlebihan,"
"Itu wajar saja, karena aku tidak ingin kehilanganmu lagi." Lelah dengan semuanya, Cleo memilih untuk merebahkan dirinya di sofa.
__ADS_1
Kamu sangat menggemaskan Cle, dan aku mencintaimu.
Turun dari ranjang, Aqella ikut merebahkan dirinya di samping Cleo, memeluk tubuh kekar suaminya. Berharap jika waktu berakhir disini, dan Aqella akan selalu seperti ini.
"Kenapa? Nggak bisa jauh ya?" tanya Cleo. Sudah bisa menebak, Aqella pasti akan menyusul nya, biar bagaimanapun rasa rindu masih cukup besar terselip di antara perasaan mereka.
Aqella tersenyum menjawab pertanyaan Cleo, pria ini sangatlah pandai menebak suasana hatinya "Kamu yang terbaik,"
"Tentu saja." ucap Cleo membanggakan diri.
"Selama lima tahun ini... kenapa tidak pernah mencariku?" tanya Aqella, sambil merubah posisinya menjadi duduk, begitu juga dengan Cleo.
"Aku mencari dan terus mencari, tapi apa kau tau, dirimu seperti jarum ditumpukan jerami, dan itu sangat sulit," menarik Aqella, Cleo mendudukkannya di pangkuan, tangan melingkar ke pinggang Aqella.
"Aku rasa tidak seperti itu, kamu mungkin saja menikmati kesendirian, dan berkelana mencari wanita lain,"
"Aku bukan pria seperti itu, satu wanita itu cukup untuk ku," sanggah Cleo.
"Aku merindukanmu," Cleo membenamkan wajahnya di pundak Aqella, sambil menggosok dagunya disana, menghirup dalam dalam aroma wanitanya, dan itu sangat membangkitkan gairahnya.
"Apa tadi tidak cukup?"
"Aku pejantan tanggu sayang."
Mengubah posisinya, Cleo kini membaringkan Aqella di sofa, dan ia kini berada di atas Aqella, mulai menyatukan kembali tautan mereka, Aqella menahan tengkuk Cleo.
Sementara Clay, bocah itu ingin sekali buang air kecil, tapi lagi lagi pandangannya harus ternodai dengan adegan yang tanpa sensor "Dadd aku tau, kau merindukan Mami, tapi tidak bisakah kau melakukan itu di rumah," suara Clay mengejutkan Aqella dan Cleo, yang dengan cepat langsung melepas tautan mereka.
Menghela nafas panjang, Clay turun dari ranjang, melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan menutup dengan kencang, bahkan sampai menimbulkan suara yang cukup keras "Mami aku senang, kamu bahagia bersama Daddy," gumam Clay.
__ADS_1
Cleo tak bisa berkata, putranya itu berbicara seperti pria dewasa dan itu sangat mengejutkan, berbeda sekali dengan Clay yang tadi saat bersamanya di apartemen.
"Kau tau sayang, putramu itu anak yang cerdas, kadang kalanya dia seperti bocah pada umum nya, tapi ada saatnya dia bersikap seperti seorang pria dewasa." terang Aqella yang sepertinya sudah paham dengan kebingungan Cleo.
Keesokan paginya, sesuai yang di rencanakan Arka, ia kembali ke rumah sakit, tapi tidak untuk menemui Aqella, ia mencari sosok Bella, yang menurut para perawat disini, dia adalah dokter anak, dan benar saja ia melihat Bella masuk ke ruang prakteknya.
Berjalan, hilir mudik di depan ruangan Bella, Arka bingung apa yang harus di lakukan, sedangkan mereka tidak saling mengenal.
Menyibak kasar rambutnya ke belakang, Arka memilih duduk di depan ruang praktek Bella, sambil berselancar dengan ponselnya.
"Ayah? apa yang kau lakukan disini?" Clay, kini sudah berdiri di samping Arka, dengan permen lolipop di genggamannya.
Mendongak ke arah Clay, tiba tiba sebuah ide terlintas dalam benak nya, dan itu akan bisa membuat Arka memiliki alasan untuk bertemu Bella.
"Mmm Clay, apa kamu ingin mainan baru?"
Berfikir sejenak, Clay merasakan satu hal yang buruk akan menimpanya, terlebih dengan sikap Arka yang mencurigakan "tidak, aku sudah memilikinya, dan itu cukup," tolak Clay tegas.
Menghela nafas panjang, Arka terlihat gusar, tidak ada pilihan lain, ia harus melakukan ini.
"Clay, setelah ini kamu boleh membenci ayah,"
"Eh, kenapa begitu?"
Menutup mata, Arka tidak ingin melihat kejadian ini, dan akan merusak perasaan nya, menarik nafas panjang, dan...
Bugh...
...----------------...
__ADS_1
Kembali lagi gaes... beberapa bab kedepan, Aku akan membahas tentang Arka...
jadi bersabarlah menunggu jika Cleo sma Aqella jarang keliatan😆🤗🤗